The Journey of a Magnificent Emptyness

“Empty is full, full is empty.” (Buddhist wise words)

kalau dihitung-hitung, sudah sepuluh tahun lebih aku menekuni ilmu beladiri semenjak kelas 1 SMP. Sayangnya aku tidak hanya menetap berada di satu titik. Dimulai dari berlatih Jet Kun Do Indonesia sebagai cinta pertama, nasib memisahkanku dengan dojo dan Suhu pelatihku, aku harus kuliah di UGM, di sana aku bertemu dengan Capoeira. Sebenarnya bukan maksudku untuk jajal-menjajal atau tidak setia. Tapi sejarah memang tak bisa ditebak sebelum itu terjadi. Latihan Jet Kun Do sempat terhenti saat aku kelas 2 SMA karena gedung tempat kami berlatih dialihkan menjadi pabrik rokok Sampoerna. Untuk mengisi kekosongan aku mencoba masuk Taekwondo di SMAku, tapi baru beberapa bulan berlatih aku bertemu lagi dengan Suhu karena ternyata Sabam pelatih Taekwondo di sana adalah teman pelatihku dulu. Dari sana aku mengikutinya kembali ke Jet Kun Do yang pindah latihan di cabang lain. Tapi itupun tak lama, setelah aku lulus SMA, aku terpisah jauh dari cabang manapun. Dalam kekosongan itupun aku sempat tertarik dengan Capoeira karena dua alasan, satu, karena aku melihat latihan Capoeira sangat berguna untuk pembentukan kemampuan tubuh (kelenturan, kelincahan, kekuatan). Dua, aku perlu olahraga rutin untuk menjaga kesehatan karena selepas dari Jet Kun Do praktis aku jarang berolahraga. Lagian ayahku sendiri mendukung dengan alasan aku sudah punya basic, sehingga tinggal menambah-nambahi saja karena beladiri itu sangat tergantung dengan karakter orangnya.
Sejarah mencatat, aku tak bisa terus di UGM, karena berbagai kendala akhirnya aku pindah kuliah di Univ. Mercu Buana. Justru di sana aku berkenalan dengan Aikido. Sebenarnya bukan Aikido yang menjadi targetku, aku lebih tertarik dengan Samurai-jutsu karena aku ingin menguasai ilmu pedang (merasa bosan dengan kaki-tangan). Akhirnya aku dikenalkan dengan ilmu pedang Katsujin-kan Aikikenjutsu. Tapi sejarah bergolak lagi dan katsujin melebur dengan Kobayashi Aikido International dan melupakan kenjutsu-nya. Ketika temanku menawari ninjutsu, aku menolak…sudah capek, kataku waktu itu. Akhirnya aku meninggalkan Kobayashi karena iurannya kuanggap mahal dan tempat latihannya jauh bagiku (1,5 jam perjalanan).
Kembali ke Capoeira, aku mengalami kekecewaan yang paling pahit. Aku diminta mengembangkan (membuka kelas baru) di kampusku. Di sana Capoeira menjadi UKM, namun ternyata orang2nya tidak bertanggung jawab sehingga aku terjepit antara tanggung jawab kepada Capoeira Brincadeira pusat dengan rektorat kampus. Meskipun bisa berakhir dengan kalem (seakan ga’da pa2) tapi pengalaman ini cukup mengesalkan, soalnya sudah campuran antara masalah duit, nama baik, ada orang pacarannya juga. Sebagai ketua UKM aku pusing, tapi alhamdulillah sejarah “fix himself” dengan berubahnya nama Brincadeira menjadi (melebur dengan) Senzala International.
Aku heran, pengalaman beladiri yang kupunya bukanlah pengalaman bertarung atau semacamnya yang dulu kubayangkan waktu kecil. Kemampuan fightingku pun pas-pasan, meski aku sudah menjajal berbagai orang dengan aliran dan tknik yang bervariasi, mulai dari Silat tradisional hingga street fighting. Tapi aku kini tak lagi menganggap perkelahian sebagai komoditas penting, sebab yang kudapat justru bagaimana untuk tidak menggunakan ilmu beladiri itu…?
Berkenalan dengan beladiri adalah berkenalan dengan kehidupan, itulah yang kudapat sejak dari Suhu Sie Bing Hauw hingga Ki Prapta. Banyak pendekar yang kutemui justru mengajari untuk tidak menggunakan beladiri, tapi hidup dengan beladiri itu sendiri. Inilah yang kuanggap “kosong adalah berisi, dan berisi adalah kosong”. Aku telah dalam memasuki jurang filosofi, dan semua teknik yang kupelajari ternyata kosong, karena setiap teknik pastilah ada kelemahannya. Yang paling hebat hanya Tuhan, dan kita pasti kalah kalau menganggap diri kita hebat. Jika kulihat Aikido, prinsip harmoninya adalah menghindari konflik, tidak melawan alam. Demikian pula Silat, prinsip Yang Um Taekwondo, Yin Yang Kungfu, dll.
Sekaran teknik tak lagi penting bagiku, sebab kalah menang adalah biasa, dan keberuntungan-kesialan bahkan kematian ada yang mengatur. Meski aku bukan black belt, tapi aku berani mengatakan ilmu beladiri tak ada yang paling hebat. Seperti suatu saat aku ditantang tarung, aku cuma bilang “kalau aku kalah, itu artinya manusianya aku ini yang kalah, bukan ilmunya, sebab sehebat apapun ilmu kalau orangnya tidak berlatih secara keras maka akan kalah dengan ilmu yang lebih rendah tapi dilatih dengan baik..”. Aku cukup bangga bisa membeladiri dengan tangan, kaki, menggunakan senjata-senjata sederhana, baik defensif maupun ofensif. Sekarang aku bisa bilang, ‘tanganku kalau dipukul bisa patah meski tak semudah mematahkan kayu, tapi keberanian, hidup, dan harga diriku tidak terletak pada kekuatan atau kemenangan perkelahian.’
Terimakasih Jetkundo atas keberaniannya, terimakasih Capoeira atas persahabatannya, terimakasih Aikido & kenjutsu atas kebijaksanaannya, dan terimakasih semua guruku karena telah membuatku menjadi bukan jagoan berkelahi, sebab Tuhan tidak butuh jagoan di luar, tapi jagoan di dalam diri.

NB; Beladiri = membela-diri, bukan untuk menang di atas segalanya

Leave a Comment