Introduction - Tetepangan
The Heretic Infidel, orang kafir yang tersesat, begitulah kusebut diriku sendiri. Aku berharap telah sempurna menjadi orang yang kafir terhadap segala ketidakadilan, diskriminasi, pembunuhan karakter, dan penegakan hegemoni-hegemoni yang seringkali memutus kemanusiaan dan menggantinya dengan ideologi fundamental. Ya, aku kafir terhadap itu semua, meski setiap kehendak atau pikiran seringkali mengatasnamakan sesuatu yang mulia seperti Tuhan, sehingga sering pula aku dianggap kafir terhadapNya. aku tidak kafir terhadap Tuhan, aku hanya kafir terhadap Tuhan-Tuhan yang ada karena diada-adakan. Tuhan-Tuhan yang dikeluarkan dari ke-maha-anNya dan dimasukkan kepada keterbatasan dan kesempitan bernama ideologi.
Aku harap aku tersesat kepada kebenaran diatas kebenaran, yang orang bodoh menolaknya karena merasa tidak perlu tahu kebenaran selama mereka tahu apa yang harus dilakukan. Aku tersesat karena menolak melakukan what I’ve been told to do,karena aku simply just can’t do anything that each person ask or tell. Tidak mungkin semuanya bisa dilakukan, maka singkatnya, sangat bodohlah kita menuruti kata orang lain. Kebenaran di atas kebenaran. ada kebenaran komunal, kebenaran hukum, kebenaran manusia, kebenaran ajaran agama, kebenaran nabi (yang berbeda dengan kebenaran agama tapi banyak yang tidak tahu dan tak mau tahu), dan puncaknya, kebenaran Tuhan. Kenapa? Apa benar?
Bagiku, kebenaran bertingkat-tingkat akan menjadi masuk akal jika kita memahami konsep tingkatan dimensional. Seperti misalnya di dimensi satu yang hanya terdiri atas titik, mustahil jika satu titik bisa bertemu dengan titik lain, karena tiap-tiapnya menempati koordinat masing-masing. namun di dimensi tiga yaitu ruang, jika bidang-bidang dipertemukan maka titik-titik yang terpisah akan bertemu. Demikian pula dengan waktu, dan energi. Apa artinya kemarin, esok, dan sekarang, dalam dimensi diatasnya, semua itu bisa terjadi bersama-sama seperti kita melihat sebuah penggaris dengan skala 0-30cm. Bagi semut, dari angka 0 ke angka 10 adalah berjarak 10cm, dan menempuhnya butuh waktu. Kita manusia tahu itu, tapi di mata kita jarak itu ada dalam sebuah bidang penggaris, bukan sesuatu yang terpisah. Lalu apa kebenaran itu?
Bagi seorang Muslim, Islam adalah agama yang paling benar. Demikian juga keyakinan tiap-tiap pemeluk agama pada agamanya. Bahkan pula pada penganut ideologi tertentu, komunis, liberalis, sekuler, nasionalis, bahkan fasis dan rasis.
Nabi mengajarkan tata cara tertentu dalam beribadah, tapi bukan berarti itu adalah satu-satunya cara yang paling benar. Sebab Nabi masih terbatas oleh bentang budaya setempat, dan pengetahuan umat itu terbatas. Umat tak mungkin mudah menerima konsep kesempurnaan makrifat dan hakikat, tapi mudah bergerak jika diiming-imingi surga dan ditakuti neraka.
Kebenaran itu bertingkat-tingkat. Tuhan bukan pembohong yang mempermainkan makhluk-Nya. Ia berbicara pada para makhluk dengan bahasa yang mudh dimengerti dengan keterbatasan masing-masing. Segala yang bisa dituduhkan sebagai kebohongan akan justru menjadi indah pada saat dan tempatnya yang tepat, sehingga makhluk tak akan menyangkal ataupun kecewa. Makhluk hanya bisa kecewa pada amal perbuatannya sendiri.
The Heretic Infidel, orang yang dianggap kafir dan bahkan diantara kaum yang kafir itu dianggap sesat. Hal ini jelas karena ada dua kelompok besar manusia, yaitu yang merasa benar karena mempunyai legalisasi seperti ajaran agama atau hukum, dan yang menentang legalisasi tersebut sehingga menproklamirkan dirinya sebagai kafir, penentang, golongan kiri, atau yang hitam. Oleh golongan kanan aku di-kiri-kan, oleh yang kiri aku dianggap sesat. Lalu apakah aku ini?
The Heretic Infidel. No more, no less…
Tapi aku bukan kaum yang terbuang,aku berjuang,untuk menang, pada saatnya, pada tempatnya, bukan untuk menegakkan diri-hegemoni, tapi sekedar mencari jalan terbaik untukku mati.