Rahasia Tanah Padang Ilalang
Antara Bhagawad Gita dan Isra’ Mi’raj
resensi sebenarnya dari Tanah Padang Ilalang (TPI) mungkin sudah ditunggu-tunggu selama beberapa tahun, dalam gaya bahasa TPI-nya, beberapa lusin purnama. Tapi baru kali ini kami berani memunculkannya di depan publik. TPI sendiri sebenarnya bukan suatu media populer yang dibaca banyak kalangan, karena hanya diberikan kepada kalangan tersendiri. TPI yang memuat beberapa bagian berbeda dan cerita yang terpisah seakan tidak mempunyai keterkaitan antara bagian satu dengan lainnya. Apalagi untuk ditafsirkan, bahkan sekedar diresensikan saja mungkin sulit. Meskipun, ada beberapa bagian yang sepertinya mempunyai satu titik temu yang gamblang namun terkesan disamarkan, sesuai dengan gaya bahasa multi-ambigu dari penulis aslinya. Lihat saja bagian ‘Bunga Diantara Deru Angin dan Rintik Hujan (BDARH) mempunyai kesamaan dengan bagian-bagian lainnya kecuali Teh Oolong Yang Terakhir (TOYT). BDARH mempunyai sub pemikiran yang paling menjelaskan peristiwa dan esai yang terkandung dalam bagian-bagian yang lain.
Dalam perkembangannya TPI ini dipecah menjadi dua tulisan yang masih menunjukkan perunutan cerita awalnya. Dalam cerpen tunggal ‘Rasulku Bukan Rasulmu’ penulis mencoba menjelaskan apa arti seorang manusia yang diagungkannya seolah lebih penting dari siapapun. Sebab dalam dimensi terminologis-filosofis, kedudukan dari seorang ‘the girl’ tidaklah dibatasi dalam konteks hubungan antar manusia saja. Hal ini tentu tak lepas dari pengalaman spiritual yang mendasari tulisan tersebut. Disebutkan disana bahwa Rasul berarti seseorang yang secara langsung atau tidak langsung menjadi utusan Tuhan. Utusan artinya menyampaikan sesuatu, yang tentunya (diharap) bersifat suci. The Girl yang kemudian dalam beberapa tulisan lain disebut sebagai seorang Ika Prasetya Kusumadewi merupakan suatu sosok yang mempunyai dualisme sifat, imajiner secara filosofis dan nyata secara historis kronologis. Historikal dan kronologisme yang disuguhkan penulis nampak jelas dari gaya bahasa penulisan sejak bagian-bagian awal TPI, misalnya dengan menyebut pertanda waktu ‘kala purnama bersinar didampingi kejora’. Bulan purnama yang dimaksud sejak empat puluh delapan purnama diartikan sebagai empat tahun yang telah berlalu. Jika dihitung, tahun 1998, empat tahun sebelum rilis pertama TPI maka hanya ada waktu satu bulan dimana purnama jelas berpendar bersandingan dengan bintang kejora, yaitu malam dari hari minggu tanggal 12 Juli. Demikianlah secara astronomikal.
Kaidah-kaidah peristiwa dalam TPI mungkin lebih dijelaskan dalam Mouei der Paastmii (Wanita itu Bunga-Bunga, 2007). Inti yang dicoba diarahkan adalah mengambil hikmah dari beberapa hal. Namun bertolak dari semua cerita cinta yang seakan memuja seorang perempuan di masa remaja secara berlebihan itu, penulis secara rapi telah menyisipkan pesan-pesan yang dalam dan bahkan kontroversial.
Tanah Padang Ilalang mungkin merupakan sebuah cerita yang bersumber dari pengalaman nyata, namun banyak yang tak menyangka bahwa cerita di dalamnya berisi spiritualisme yang tinggi. Hal ini hanya sekelumit dijelaskan dalam Teh Oolong Yang Terakhir, dan sekelumit bagian terakhir dari Wanita Adalah Bunga-Bunga. Nama Ilalang sendiri dipilih untuk menyamarkan pesan dari ‘Rumput Kusa’, yang dalam Bhagawad Gita disebut oleh sang Hyang Syiwa sebagai pelebur dosa. Jadi rupanya penulis ingin menjadikan TPI dan seluruh cerita di dalam desendan-nya sebagai penebusan dosa-dosa yang telah berlalu. Hal ini nampak dalam ‘Kisah-Kasih Setengah Tahun menuju Kesadaran’ (2001) bagian puisi berjudul ‘May’ sebagai berikut:
……………………………….
sedang mulutku terus berucap, Allah..Allah..Allah…
tapi bukan untuk melupakanmu.
Ilalang merupakan metafora dari sikap seorang resi yang menghadapi dunia dengan menunduk karena keilmuannya, meski bukan falsafah padi. Kenapa resi? kenapa ilalang, bukan padi? sebab dalam pembelajaran yang dicoba disampaikan, penulis ingin menghadirkan sosok manusia sebagai sosok tanpa daya dan kosong. Ia bukan padi yang berisi, ditanam untuk diambil hasilnya, sebab manusia akan mengambil hasil perbuatannya sendiri. Ia nampak tak punya apa-apa sehingga memunculkan pertanyaan ‘ untuk apa ia ada?’, dan jawaban yang hendak disampaikan adalah ia ada karena suatu tugas yang tak akan dimengerti oleh yang di luar dirinya, karena ia menyatukan mikro kosmos dengan makro kosmos, manunggaling kawula lan gusti, manunggaling jagad dan roso kalbu sehingga tidak memerlukan penjabaran atributis. Penulis juga banyak menggunakan kata ‘mencoba’ karena hidup ini adalah coba, mencoba, dan penuh cobaan.
Tanah Padang Ilalang berisi dua kata besar ‘tanah’ dan ‘padang’. Tanah mengartikan suatu wilayah atau juga unsur asal yaitu bumi (gaia) yang bersifat menerima (narimo). Tanah juga merupakan tmpat berpijak, namun tidak mengekang, sebab di atas tanah ada langit yang menunjukkan jalan untuk eksplorasi. Untuk itulah ada perlambang langit, yaitu rembulan dan kejora. Padang merupakan dualisme sifat berdasar bilingualisme, yaitu berarti lapang atau luas dan terang dalam bahasa jawanya. Apakah mungkin di langit yang terang ada rembulan dan kejora? Sepintas ini musykil, tapi makna disini adalah kembali pada Nur ‘alan Nur (Cahaya Maha Cahaya) sebagaimana diteruskan dalam cerita ‘Senja Tak Pernah Gelap’ (2003). STPG mengisahkan perjalanan spiritual sang jiwa yang dimulai dengan menghadapi rasa takut hingga kembali pada kesadaran yang diwujudkan dengan cahaya langit. Kembali ke ‘Padang’, di sini seakan diharapkan bahwa cahaya akan menyapu semua kegelapan yang ada sehingga ‘tanah’ menjadi luas, lapang, dan terang.
Mungkin terlalu berlebihan jika kita katakan bahwa TPI bukan sekedar karya hasil patah hati, namun justru menjadi sebuah mahakarya yang mengilhami kelahiran karya-karya berikutnya. Atau dengan kata lain dikatakan bahwa karya-karya yang sesudahnya masih terinspirasi oleh kisah dalam TPI. Kesemuanya jika hendak dikukuhkan menjadi sebuah bendel besar akan nampak sebuah arah yang pasti dari pemikiran yang nampak. Penulis sepertinya ingin menjelaskan bahwa ia punya Bhagawad Gita-nya sendiri sebagaimana ia menuliskan telah memiliki Rasulnya sendiri, dan itu bukan Muhammad SAW, tapi Ika Prasetya Kusumadewi, seorang yang Ika, bersifat Prasetya (intisari dari sifat penghambaan yang tulus dan sifat ksatria), dan memiliki atribut Kusuma-dewi. Dewi berasal dari kata ‘div’ yang artinya suci, bersuci atau disucikan, sama tujuannya dengan rumput kusa/ ilalang, yaitu menuju kesucian. Jadi figur Kusumadewi bukanlah merujuk pada seorang manusia dengan segala keterbatasannya, namun menjadi sebuah simbol dan bahkan awatara untuk menunjukkan arah dan jalan yang akan ditempuh dalam progres waktu. Menuju Kusumadewi berarti harus menjadi yang Ika dan Prasetya. dan kembali lagi jika dibalik semua akan menuju Hyang Ika atau Sang Esa (inna lillaahi wa inna ilaihi rooji’uun). Awatara Kusumadewi bukan terbatas pada pengertian penitisan seperti Wisnu pada Kresna dan Rama atau Siddharta Gautama. Namun awatara (avatar) Kusumadewi adalah lebih tinggi lagi, merujuk pada konsep ‘pencurahan’ kuasa Tuhan yang setara atau bahkan lebih tinggi dari Brahma (penciptaan), wisnu (pemeliharaaan) dan syiwa (peleburan). Intisari ini bukan dari aliran tarekat tertentu seperti Naqsyabandiyah atau H. Kadirun Yahya yang sering disebut-sebut penulis sebagai pembimbing, namun justru kembali pada yang lebih tinggi dari cinta buta Jalaluddin Rumy sekalipun, yaitu kemutlakan dan kemurnian Tauhid, laa ilaaha illallaah, tiada (apapun!) selain Allah.
Jika seorang makhluk bisa menunjukkan jalan kepada cahaya, maka tak salah jika tulisan semacam Tanah Padang Ilalang dilahirkan. Makhluk yang serba terbatas menunjukkan adanya ketidakterbatasan, ini menjadikan penulis tak hanya mengaku sebagai muallaf, tapi bahkan kafir, sebab ia menyatakan ‘dengan bersedih hati tak mampu mengenal Tuannya’, dan karenanya ia masih berjalan mencari. Yang dimaksud tentu bukan mencari agama untuk dipeluk, sebab esensi yang ada di sini lebih tinggi dari sekedar kebenaran agama. Lebih lanjut, mencari diartikan menuju arah kembali pada asal-usul segala sesuatu, Yang Terdahulu, Yang Awal dan Yang Akhir. Bagaimanapun, makhluk yang menunjukkan jalan bisa ada karena dikreasi dan direkayasa oleh Hyang Agung, sehingga kejadian yang dialami menjadi berarti. Maka tak salah jika diucapkan salam ‘Namaste’ yang artinya “aku memuja Tuhan lewat dirimu”. Dari sana pulalah penulis menerangkan semacam Isra’ Mi’raj yang ia alami meski tak sama dengan pejalanan nabi tersebut. Isra’ Mi’raj yang dimaksud adalah sebuah perjalanan menembus segala keterbatasan, bukan hanya langit ke tujuh, namun ke arah asal dari segala sesuatu, Sangkan Paraning Dumadi itu sendiri, yang dimulai dari pengimanan terhadap petunjuk dan penyucian untuk mengawali perjalanan. Perjalanan tentu tidak ringan, sebagaimana Nabi Muhammad SAW yang harus dibersihkan hatinya dari segala unsur duniawi, dan juga menemui pelbagai pesan dan pelajaran dari pendadaran-pendadaran makna atas tiap fenomena. Demikianlah akhir polemik dari seorang wanita sumber inspirasi yang ternyata unsur imajinernya lebih kuat ketimbang unsur identitas nyatanya yang bahkan sebenarnya maya dan fana. Seorang Ika yang Prasetya dan Kusumadewi/dewa, rumput Kusa, dan Tanah yang Padang, hanyalah sebuah titik air di tengah gulita. Namun air itu adalah sebuah ektase embun yang netral, tawar, dan menyejukkan, bukan tetes airmata atau darah akibat perasaan yang merespon keduniaan fana ini.
Akhirnya, dengan maha karya yang luarbiasa ini, akankah penulis menelurkan karya-karya yang lain? Yang jelas, bahasa yang disampaikannya masih belum bisa membuatnya merubah keputusan untuk mempublikasikan. Kenapa? karena ini bukan karya populer untuk dikagumi, tapi inilah Alkitab yang dijadikan pedoman bagi diri sendiri, yang akan menuai kontroversi jika dibabar ke dunia luas yang belum juga ‘padang’ ini. Sekian tulisan gila ini dibuat, semoga tidak menyakiti hati.
by: Onseola Ziegerschwann Karemaschka Roypterodavski.