Cerita-Cerita Aneh -The Weird Stories
Ndaru Tidak Pulang Hari Ini
Langkah kecil itu tergesa-gesa memasuki keramaian. Kumpulan anak-anak yang asik bermain itupun tiba-tiba berubah menjadi kerumunan yang seksama memperhatikan seorang gadis kecil yang tergesa-gesa bercerita dengan napas tersengal.
“Ndaru sudah ketemu, ndaru sudah ketemu…dia sekarang sudah dibawa pulang..”
“Oya? Dimana Mut ketemunya, kamu tau darimana?” sahut seorang anak lainnya.
“Ntar dulu Rud, biarin Mutia bernapas dulu, abis ni kita bareng-bareng aja ke rumahnya, piye?”
Serentak seluruh anak yang ada di lapangan itu berseru tanda setuju. Mutia pun mulai bernapas normal dan tenang sementara Rudi dan beberapa anak laki-laki lainnya seakan tak sabar mengajak mereka ke rumah Ndaru.
Langkah-langkah mungil itu mulai memasuki sebuah halaman rumah yang ramai oleh orang-orang dewasa. Dua hari yang lalu suasananya tidak seperti ini. Kala itu senja yang memerah diwarnai isak tangis dan suara gaduh dari dalam rumah. Lampu-lampu jalan pun lupa belum dinyalakan kendati hari makin gelap, dan akhirnya jalan baru diterangi ketika seorang lelaki muda keluar dari rumah itu membawa sebuah tas besar. Ia tergesa-gesa keluar, menyalakan motor Astrea Grand keluaran 1990-an dan segera tancap gas, tak menghiraukan suara-suara yang mencoba menghambatnya untuk pergi. Senja pun mulai menggelap dan adzan maghrib yang dikumandangkan serasa hambar, tak mampu membuat hati-hati beku di rumah itu kembali menghangatkan suasana. Satu yang jelas kentara di senja itu, isak tangis seorang wanita. Ia sendirian duduk dan mengisi lincak* bambu itu dengan kesenduannya. Air mata yang keluar membuatnya tak menghiraukan langkah kaki mungil di sampingnya. Ia beberapa kali mengingatkan wanita itu yang tak lain adalah ibunya, untuk segera menjalankan ibadah sholat maghrib. Akhirnya langkah kecil itu kembali ditapakkan ke dalam rumah dengan muka kusam.
Pagi menjelang, dan anak-anak berseragam merah-putih duduk di bangku masing-masing dalam sebuah kelas yang tak terlalu lebar. Ada satu bangku yang kini kehilangan pasangannya, dan seorang gadis kecil yang duduk di sana berulangkali menengok ke kiri-ke kanan serta menatap kosong ke pintu yang setengah ditutup. Ibu guru menghentikan pembicaraannya mengenai perkalian dan pembagian, kemudian menghampiri anak-anak didiknya lebih dekat.
“Hari ini nampaknya Ndaru tidak masuk kelas…” kata wanita langsing hampir kurus ini.
Anak-anak pun terdiam. Hari itu keceriaan di kelas berkurang dan kemurungan muncul ditandai wajah-wajah yang duduk diam di lorong antar kelas.
Sore hari, seorang lelaki berjaket kulit hitam berdiri mematung di depan sebuah pusara yang nampaknya lama diabaikan. Letaknya yang jauh dari pekuburan umum membuatnya lebih nampak sebagai padang rumput atau tanah kosong biasa daripada tempat untuk mengebumikan sesuatu yang pernah mengukir sejarah kehidupan. Di samping lelaki itu kini berdiri pula seorang anak laki-laki dengan celana pendek berwarna merah. Di sampingnya sebuah sepeda mini distandarkan.
“Kenapa kamu ke sini?”
“Aku tau kakak pasti kesini.”
“Kamu tau aku sudah nggak akan pulang lagi. Tempatku bukan disana.”
“Apa kakak nggak akan pulang seperti bapak? Bapak diusir ibu ya kak..?”
“Itulah…namanya cerai…dan kakak sudah membuktikan kalau kakak nggak cuma mengancam. Karena semuanya ngikut maunya sendiri-sendiri, kakak mendingan pergi aja dari sana.”
Anak kecil itu, Ndaru, terdiam menunduk menatap pusara putih di depan mereka berdua. Ia mencoba memahami apa yang barusan terjadi dengan kedua orangtuanya dan keluarganya.
“Kak…apa benar, yang pernah kakak ceritakan dulu? Ini tempat orang yang kakak ceritakan itu dikuburkan?”
Lelaki muda itu mengangguk pelan. Dari balik kacamata hitamnya airmata kini nampak berselancar di pipinya.
“Kalau begitu, apa benar….emm…orang dewasa itu….”
“Ndaru…” kedua laki-laki itu kini duduk, dan yang besar merangkul yang kecil yang kini pun mulai menitikkan air mata. Kacamata hitam kini dilepas, dilanjutkanlah sahutan seorang kakak ini pada adiknya.
“Begini nak, kamu boleh lupakan apa yang kakak pernah ceritakan tentang orang yang dimakamkan di depan kita ini. Ia beranggapan bahwa dunia dewasa hanya berisi kebohongan, keserakahan, dan kebahagiaan semu, kebahagiaan bohongan. Kenapa? Karena cerita-cerita tentang bahagia yang ia pernah dapat dari orang-orang dewasa ternyata tak pernah ia lihat sendiri. Tapi kamu adikku, kamu masih punya waktu untuk itu. Kamu punya harapan cerah…”
Anak kecil itu menunduk terdiam. Ia mengusap air mata dan ingusnya sebelum lalu menyahut.
“Kak, aku lihat yang ada, semua persis seperti yang kakak omongkan. Dan aku nggak tau kebahagiaan itu seperti apa. Aku taunya cuma belajar dan bermain. Bermain biar hatiku senang, dan belajar biar nilaiku bagus, sebab kalau tidak bagus ibu, bapak, dan simbah akan marah…menghukumku. Dipecut, dipukul,…aku nggak mau dipukul, sakit rasanya kak…”
Sang kakak menghela napas panjang. Ia tahu bahwa tak seharusnya ia tinggalkan ibunya sendiri mengurus adik satu-satunya yang masih belum paham apa itu dunia, dengan segala kekejaman dan tipu dayanya itu. Namun janji tetaplah janji. Ketika orangtuanya bercerai maka dalam benaknya mereka bukan lagi tokoh panutan, mereka tak ubahnya seperti anak-anak kecil yang berusaha menuruti keinginannya sendiri-sendiri tanpa menghiraukan orang lain. Karenanya ia tak lagi ingin berada dalam pengaruh itu lagi, ia bebas mengembara, sekalian sebagai hukuman terhadap kedua orangtuanya, jikalau mereka masih bisa merasa terhukum. Sementara kini, menghadapi sang adik yang mengejar pengetahuan tentang makna hidup, ia kebingungan.
Senja mulai gelap, dan dua sosok itu masih di tempat yang sama, tempat yang tak seharusnya siapapun berada di sana saat itu. Dalam hati sang kakak ingin berkata, “adikku, maafkan kakak, tapi semua yang kakak ceritakan itu benar. Cerita tentang anak kecil yang memilih mati daripada menuju dewasa yang penuh kepura-puraan itu benar. Namun kakak tidak ingin kau memahaminya seperti yang kakak pahami.”
Malam berlalu dan siang datang. Anak-anak SD yang baru saja bermain itu memasuki halaman rumah Ndaru dengan mata penuh selidik dan rasa ingin tahu. Orang-orang terdengar berbincang-bincang, dalam keramaian yang tak seberapa itu.
“Dia ditemukan seorang pencari rumput, tergeletak dekat sebuah makam kecil.” Kata seorang diantara mereka.
“Makam siapa?” tanya yang lainnya.
“Nggak jelas, tapi katanya dulu dia mati ketika orangtuanya mau bercerai. Sekarang keluarganya sudah pindah ke Jawa Barat.”
Pak Kadus yang juga imam di masjid berusaha menenangkan tangis ibu. Namun begitu ia melihat kerumunan anak-anak kecil itu ia serta merta berdiri dan meraih mereka semua dengan tangannya yang lembut.
“Ayo anak-anak, tempat kalian bukan di sini….”
Hari kedua Ndaru tidak masuk sekolah. Kini justru anak-anak dan ibu gurunya yang berada di rumah Ndaru. Semuanya menunduk dengan mata sembab dan muka tak bersemangat. Hanya ibu guru yang masih berusaha tersenyum untuk kemudian mengajak anak-anak didiknya berpamitan.
Malamnya Mutia terbangun. Ia menatap kosong ke bintang-bintang lewat genteng kaca di langit-langit kamarnya. Ayah-ibunya yang ikut terbangun bertanya, “Kenapa Mutia sayang?”. Yang ditanya hanya berkedip pelan, lalu setelah agak lama barulah ia menjawab…
“Ndaru…dia barusan di sini…trus pamitan mau pergi ke tempat yang jauuuh banget. Katanya tempat itu indaaah banget. Katanya, Mutia juga bisa ke sana, tapi nggak sekarang…”.
(Dukuh Panggang, Awal tahun 2007)
*lincak = semacam kursi panjang tradisional terbuat dari bambu.
Aku Bukan NATO
“You’re right, Hans…either life is a great war, you’re just a refugee who cowardly run away and doesn’t dare to face it…!”
Henry masuk ke taksi dan menutup pintunya sebelum akhirnya kendaraan itu melaju setelah kata ‘airport’ terdengar.
“Dunia, kehidupan, adalah peperangan besar. Dan aku hanya seorang pengecut, katanya? I’m just another coward?”
Catatan, 26 Januari….
Aku terduduk lesu setelah Henry meninggalkanku di pinggir trotoar. Ingin aku beranjak tapi tak tahu harus kemana. Lisa telah meninggalkanku dalam kekecewaan mendalam. Kemudian berturut-turut William, Jose, Hall, Koyuki, Topanga, dan Henry….semua pergi.
Dua tahun sudah kujalin hubungan dengan mereka semua. Berawal dari koneksi internet, chatting, lalu akhirnya saling mengunjungi. Mungkin aku salah, tapi apa?
27 Januari
Aku berkeliling taman kota, dan kutemui beberapa orang aneh. Beberapa gelandangan, pengemis, tukang parkir, satpam, dan seorang ibu-ibu muda yang sedang menyusui bayinya, sepertinya perantau. Lelaki pertama yang kutemui adalah orang gila. Katanya manusia sekarang sudah jauh menyimpang dari ajaran Qur’an dan Sunnah Rasul. Rupanya ia gila karena kalah mempertahankan idealisme dan keyakinannya dalam beragama. Ia didepak keluar dari organisasi dakwah yang dulu menampungnya.
Lelaki kedua, pengemis yang murah hati. Ia bahkan berbagi sepotong roti denganku. Ia bilang kalau manusia diciptakan dengan kodratnya masing-masing. Jadi kenapa mesti susah-sudah menggapai kemuliaan kalau dalam kesederhanaan saja bisa menemukan kedamaian hidup, katanya.
Ada juga seorang pemuda berumur sekitar 25-30 tahunan yang kutemui saat terduduk lesu di bangku taman. Ia bercerita bahwa ia baru saja dipecat dari pekerjaannya sebagai aktor film porno karena anunya tak bisa ereksi saat syuting.
Ibu muda yang kutemui, ternyata mantan PSK. Ia menunggu seseorang yang akan membantunya merawat bayinya. Aku sedikit heran dan kagum, mantan pelacur masih menyimpan harapan akan kebaikan yang tulus….
Aku? Mungkin aku cuma seorang Hans Purwa Nugraha………
28 Januari
Kubaca ulang tulisan-tulisanku, yang kukirimkan ke teman-temanku. Mungkin benar, aku terlalu menggurui mereka. Awalnya mereka kagum dengan wawasan dan pandanganku, tapi akhirnya mereka menilaiku sebagai orang yang terlalu menggurui. Padahal menurutku aku hanya menyampaikan apa yang pernah kubaca dan kudapat dari diskusi-diskusi. Tentang alam, tentang hidup, tentang agama, negara, kemanusiaan, fisika, kimia, filsafat……… aing lieur!!!
1 Februari
Anto, menangis di depan mataku, bercerita panjang lebar tentang bagaimana teman-teman seagamanya menganggapnya kafir karena menolak meninggalkan pacaran. Ia merasa terlalu banyak salah, cara sholatnya salah, bacaan arabnya salah, model berpakaiannya salah, dan ia bergaul dengan orang-orang yang salah. Siapa maksudnya? Aku? Atau teman-teman ngajinya itu?
4 Februari
Anto gantung diri di pohon jamblang dekat kost putri. Para penghuni kost histeris, pacarnya pingsan, dan setelah bangun sempat mencoba mengiris urat nadi di tangannya, mau ikut bunuh diri. Aku hanya diam. Aku selalu diam kalau ada orang sakit atau sekarat di depan mataku. Pengecutkah aku?
5 Februari
Papa pergi ke Karlsruhe, Jerman selama dua minggu ke depan. Sebelumnya ia sempat mampir ke rumah untuk tidur semalam setelah selama sebulan ia di Osaka. Mama pergi lagi dengan Doni, simpanannya yang umurnya cuma terpaut empat tahun di atasku. Aku sendiri di rumah sampai jam 12 malam. Akhirnya kepenatanku mengajakku keluar…
26 Februari
Henry benar, aku cuma pengecut. Aku bahkan tak berani membalas ejekan Sasa, Lusi, dan Tina. Mereka menjuluki aku NATO, No Action Talk Only alias omong doang. Apa salah aku mengomentari budaya konsumtif remaja sekarang? Aku nggak nuduh mereka matre kok, tapi emang aku salah juga sih…aku juga masih mengikuti kapitalisme dunia. Buktinya yang melekat di badanku aja semua produk kapitalis. Tapi emangnya ada produk dalam negeri yang bisa mengganti ini semua? Adakah HP bikinan Indonesia? Bandung? Bagaimanapun aku tidak terima dengan ejekan mereka bertiga.
27 Februari
Bambang, kenalanku dari Jogja mengirimiku satu set pakaian produk lokal yang kupesan. Baju lurik Jogja plus celana komprang, masih ditambah dua stel bahan kain lurik untuk kubikin baju yang lain lagi. Dengan ini kuharap aku tak lagi dianggap NATO. Oh ya,…aku udah berhenti minum minuman kaleng lho, rokokku juga sudah berubah jadi produk Kudus semua, ternyata citarasa Indonesia memang enak.
Catatan, aku masih dendam sama Sasa cs…
28 Februari
Tahun ini Februari cuma sampai hari ini. Aku masih menunggu respon positif dari orang-orang yang menganggapku NATO. Sasa SMS, kubalas, dia balas, kubalas lagi, akhirnya kami SMSan. Malam, katanya pulsanya habis. Aku gregretan, akhirnya kutelpon saja dia sampai jam 10 malam.
Jam 10.30, Lusi misscall, ku SMS, katanya ia sulit tidur, masih mikirin aku. Eh, ujung-ujungnya ia minta maaf sudah bikin aku gak enak sampai harus berubah segitunya…
1 Maret
Jam 3 pagi iseng ku telpon Tina. Kubilang,”Bangun..bangun..katanya mau tidur…” lalu yang kedua,”Eh, tadi tidurnya tadi udah berdoa belum?”. Hehe..lucu sih, tapi dia justru marah-marah, trus gak bisa tidur lagi. Akhirnya dia sampai di sekolah paling awal, teriak-teriak manggil Pak Satpam biar bukain pintu gerbang jam 5 pagi. Trus di kelas dia tidur pas jam pelajaran Bu Ranni, Matematika….
Sorenya aku minta maaf, entah kenapa aku bawain bunga buat dia, mawar putih. Dia kaget, dikiranya aku mau nembak dia, tapi buru-buru kujelasin klo itu artinya niat yang tulus untuk meminta maaf. Dia kelihatannya tersipu malu….
4 Maret
Sasa menggeliat di ranjangku. Aku puas, bukan hanya karena tubuhnya yang mulus, tapi juga sakit hatiku terbalas. Ternyata dia masih perawan, dan dia nggak tahu kalau kemarin-kemarin Lusi dan Tina sudah duluan merasakan kasurku, dan selimut hidupnya yaitu aku sendiri hehehe….inilah pembalasan yang paling tepat…NATO?
6 Maret
Aku ke taman kota lagi, dan tiba-tiba semua orang yang kutemui itu teringat lagi di pikiranku. Masih adakah pelacur yang punya harapan akan kebaikan tulus, masih adakah pengemis yang berbahagia dengan kefakirannya, atau orang-orang yang kecewa dengan agamanya?
Aku bertemu dengan seorang pendeta Kristen. Kami berdiskusi tentang agama, tapi aku salut, dia sama sekali tidak menjelaskan tentang agamanya. Dia juga tak kelihatan ada arah mengajakku kepada agamanya, seperti yang sering diomongin teman-temanku muslim. Kalau kubayangkan aku yang kristen, lalu yang kutemui ini seorang ustadz, mungkin sudah habis-habisan aku dibujuknya masuk Islam..atau setidaknya ia mati-matian mempromosikan kebaikan-kebaikan dalam warna agama Islam.
Malamnya Sunu menelponku, katanya ia sering melihat papaku membawa mojang-mojang geulis ke hotel tempatnya bekerja. Aku tak mau cepat percaya, tapi tak mungkin juga info ini kuabaikan….
8 Maret
Aku dikenalkan dengan Herman, seorang paparazzi yang cukup bisa diandalkan. Aku tinggal menunggu hasilnya pada tenggat waktu yang kuberikan padanya. Sunu kelihatannya antusias, entah untuk apa. Mungkin ia memang temanku, tapi ia sepertinya punya motif lain, mungkin uang. Makanya aku masih menaruh curiga pada keduanya.
14 Maret
Siapa yang NATO? Siapa? Daripada cuap-cuap di mimbar masjid tapi di luar itu dia memainkan beberapa set ML dengan pacar rahasianya…! itulah Ardi, munafik bejat yang kuhajar atas permintaan Tata, mantannya. Setelah meninggalkan Tata dengan alasan dilarang pacaran oleh guru ngajinya, Ardi muncul sebagai sosok yang agamais mengingat posisinya sebagai anggota seksi kerohanian Islam di OSIS. Tapi ternyata ada Linda, cewek dari SMA lain yang mau jadi pacar rahasianya. Tata yang tahu hal ini makin geram mendapati kabar bahwa Linda dan Ardi sering kelihatan berdua di beberapa tempat. Akhirnya kami membuntutinya dan mendapati mereka sedang bergumul setengah telanjang di hutan pinggir pantai.
Sekali lagi aku membuktikan di depan Sasa bahwa aku bukan hanya omong doang membela harkat kemanusiaan, khususnya perempuan, meskipun itu hanya teman biasa seperti Tata. Lalu, sekali lagi aku mendapat simpatinya dan kami pun bergumul lagi di ranjangku sampai malam tiba.
15 Maret
Tadi jam 4-an sore, Jose menelponku saat tanganku sedang asyik menelusuri tubuh Sasa yang mulai berkeringat. Ia menghubungiku karena ingin ke Indonesia memenuhi undangan Capoeira Senzala Indonesia di Bali. Katanya, kalau aku ada waktu aku mau dia ajak ke Kuta. Aku heran kok dia masih ingat padaku setelah semua ketidak setujuannya pada pendapatku mengenai ilmu beladiri. Kami beda pendapat, dia fanatik dan aku tidak. Tapi kekalahanku sparring dengannya harusnya bukan alasan untuk menganggap omonganku kosong…
17 Maret
William beralih agama ke Islam. Ini bukan kabar gembira buatku, seingatku jamaah Islam di Belanda mulai menjamur. Tapi yang mengejutkan ialah aku dapat kabar ini dari Koyuki yang ternyata kemarin ia piknik ke Belanda. Apa ia menghubungiku karena masih manganggapku teman, atau hanya karena masih teringat kekesalannya padaku sejak debat kami mengenai agama?
Jam 5 sore, foto-foto itu sudah kuterima. Herman tersenyum puas menghitung lembaran-lembaran uang yang kuberikan. Sementara dadaku makin menggelegak melihat gambar-gambar di foto itu yang membenarkan cerita Sunu tentang papaku.
18 Maret
Papa mama bertengkar, mama ketahuan punya simpanan. Sementara aku sengaja sebelumnya menaruh beberapa foto papa waktu di kamar hotel bersama cewek-cewek belia, di laci lemari. Dalam kegaduhan itu kusambar passport dan segala barang yang sudah kusiapkan di ransel. Aku kabur ke bandara dengan tujuan Malaysia. Dari sana aku ingin memulai petualanganku sebagai backpacker. Mungkin ini awal dari kehidupanku yang sebenarnya. Aku ingin mencoba menghadapi dunia, aku ingin bisa ngomongin segala sesuatu karena pernah mengalami dan merasakannya. Aku tak ingin lagi dianggap coward, chicken, atau NATO. Aku adalah segala-galanya buatku, dan meski hidupku di kota ini tidak bahagia, aku ingin orang tahu bahwa aku juga punya semangat juang. I’m gonna miss you Bandung, I’m gonna miss you Indonesia with all the people, Sasa, papa, mama….but I’m sorry I must go now.
Hans menutup lembaran buku harian itu lalu meloncat keluar dari rumah. Tujuan pertama adalah rumah Sasa. Ia menitipkan HP dan buku tersebut sembari berpesan supaya jangan dibuka segelnya kecuali kalau ada apa-apa tentangnya. Sasa yang kebingungan hanya mampu menatap bayangan tubuh Hans yang menghilang dibawa taksi.
Keterangan:
1. Aing lieur = aku pusing
2. mojang-mojang geulis = gadis-gadis cantik