Biji Jeruk

Seorang tua bijak memberi kita sebiji jeruk. Kita tanam, tumbuhlah pohon jeruk. Kita rawat dengan baik, berhati-hati dan penuh kasih sayang. Namun pada masanya, ia berbunga lalu berbuah jeruk. Kita mungkin berharap itu apel atau mangga, tapi buahnya tetap jeruk. Pohonnya pun teduh, namun tak sebegitu teduh. Buahnya kadang manis, kadang asam. Pohonnya tak bisa kita peluk terlalu erat karena duri-duri yang ada padanya akan menyakiti kita. Jika kita pangkas duri-duri itu, akan tumbuh duri lain, atau lama-lama pohonnya mati karena luka-luka di batangnya. Kita pula harus relakan bahwa ada yang bisa lebih dekat, lebih intim dan lebih erat memeluknya, hidup bersamanya, bahkan bergantung padanya. Ada burung-burung, serangga, dan lumut, atau kadang benalu.

Pohon jeruk ialah anak-anak manusia, orang yang menerima adalah orang tuanya, dan orang tua bijak yang memberi adalah Tuhan. Tuhan menganugerahkan anak kepada para orang tua, bukan untuk dimiliki secara mutlak, karena bagaimanapun Ia mampu mengambil ‘barang pinjaman’ itu kapan saja. Kita orangtua hanya turut bangga dan bahagia, namun bukan memiliki. Bahkan menyayangi pun ada batasnya. Kita pula tak berhak cemburu bila ada yang lain yang lebih dekat padanya daripada kita sendiri. Kita bisa berharap anak-anak kita menjadi sesuatu, namun Tuhan jualah yang menentukan. Petani mungkin bisa berdoa agar anaknya meneruskan menggarap ladangnya, namun Tuhan bisa membuat anak itu mengurus ladang yang lainnya. doa orangtua, seberapapun kuatnya takkan mampu mengubah apa yang sudah dititahkan Tuhan. Oleh karenanya kita harus relakan anak kita menjadi seperti apa takdirnya, menjalani dharmanya, dan meyelesaikan tugas dunianya. Sekali lagi, bukan kita yang menentukan.

Leave a Comment