The Legend of Ogodar
Cerita berawal di sebuah negeri bernama Ogodar…….
Alundra, terlahir sebagai anak seorang pandai besi di sebuah desa terpencil. Ia sering bertemu dengan para ksatria maupun pemburu pelanggan ayahnya yang kemudian mengajarinya cara menilai senjata yang bagus dan cara memainkannya. Pada usia delapan tahun, ayahnya direkomendasikan menjadi pandai besi istana untuk membuat senjata-senjata militer kerajaan. Ia pun ikut ke istana dan selama tinggal di sana ia diam-diam belajar ilmu pedang pada seorang pangeran putra selir raja. Sayangnya saat umurnya 12 tahun, kerajaan itu diserang kerajaan tetangga. Ayahnya tewas dalam penyerbuan dan Alundra melarikan diri ke luar istana. Ia kemudian tinggal di sebuah desa dan membuka bengkel pandai besi di sana. Karena alat-alat maupun senjata buatannya bagus, ia cepat dikenal terutama oleh kalangan para pendekar-petualang, tentara bayaran, hingga beberapa prajurit dari kerajaan-kerajaan tetangga.
Alundra memiliki nasib buruk dalam percintaan. Setiap wanita yang dekat dengannya selalu meninggal dunia sampai dia dijuluki sebagai pembawa kematian. Dari sanalah kemudian tak ada perempuan yang mau dekat dengannya. Pada suatu saat dia bertemu dengan seorang pendekar yang luka parah. Alundra merawatnya hingga sembuh dan memperbaiki zirah, perisai, maupun pedangnya. Alundra diam-diam sering memainkan pedang si pendekar di luar rumah. Mulanya ia hanya ingin memeriksa apakah sudah bagus atau tidak, namun lama-lama ia merasa nyaman dengan pedang itu. Sang pendekar ternyata juga memperhatikannya, karena takjub melihat jurus-jurus yang dipraktekkan Alundra, ia memutuskan untuk mengajari pemuda itu ilmu pedang. Sejak itulah ia belajar bagaimana bertarung dengan pedang.
“Kau dinaungi oleh Bintang Kegelapan. Siapapun yang mencintaimu akan mati jika dekat denganmu…”
Pada umur 16 tahun, Alundra memulai petualangannya. ia hidup mengembara sebagai tukang pande besi keliling yang menawarkan jasa memperbaiki senjata, busur panah, tapal kuda, memperbaiki kereta, dan menjual alat-alat pertanian. Suatu ketika ia tersesat dan bertemu seorang pertapa. Ia membukakan semua rahasia kehidupan Alundra. Katanya, ia lahir dinaungi bintang kegelapan. Artinya dia akan membawa kematian banyak orang, dimulai dari orang tuanya sendiri, ibunya saat melahirkannya dan ayahnya saat ia remaja. Kemudian ia akan banyak mendapat simpati dari orang-orang yang justru akan mati bila berada di dekatnya. Alundra yang putus asa akhirnya diangkat menjadi murid si pertapa. Pertapa itu menyempurnakan ilmu pedangnya dan membekalinya dengan ilmu-ilmu sihir. Ia berpesan sebelum Alundra pergi, bahwa meski ia membawa dewa kematian, bukan berarti ia tak bisa berbuat baik.
Keadaan tanah Ogodar saat itu tidak aman. Kerajaan saling berperang, perampok dimana-mana, penduduk hidup seperti semut yang berlarian kesana-kemari. Suatu hari Alundra tiba di sebuah hutan yang dihuni perampok. Ia berhasil membunuh separo dari perampok itu dan mengalahkan pemimpinnya. Akhirnya ia menjadi pemimpin kawanan perampok itu dan dikenal sebagai “Hantu dari Hutan Hiral”. Dalam, menjadi perampok, Alundra mempunyai cara unik, ia selalu mencegat rombongan yang lewat, menawarkan dengan sopan untuk menyerahkan barang-barang berharga dan membiarkan semuanya pergi dengan selamat. Jika mereka melawan, ia menantang satu orang yang paling hebat di rombongan itu dan bertaruh, jika menang maka akan mendapatkan semua hartanya. Jika rombongan itu semuanya melawan, barulah anak buah Alundra turun menyerbu. ‘Perampok Sopan’ tak terkalahkan ini akhirnya membentuk sebuah desa tersendiri dengan menerima para penduduk yang menjadi korban perang. Akhirnya dari kawanan perampok yang tadinya merampok karena lapar ini berubah menjadi sebuah kota kecil yang mandiri. Mereka tak lagi hidup merampok, namun hanya meminta bayaran pada orang yang lewat sebagai pajak.
Aku tidak takut! Sekarang di sini hanya akan ada aku atau kalian yang mati…ayo maju!
Kota ini mulai berkembang menjadi sebuah negara dengan Alundra sebagai rajanya. Akhirnya empat kerajaan yang merasa terusik dengan kemunculan negara baru ini menyerang serentak. Di sanalah sejarah barunya dimulai. Kota kecil itu hancur dan kebanyakan penduduknya tewas, namun Alundra dengan gagah berani bertempur selama empat hari empat malam dan membunuh ribuan prajurit penyerang dan puluhan jenderalnya. Dengan ini tiga kerajaan mundur dengan rasa malu. Berita kehebatan ini didengar oleh Pangeran Carpadax, seorang penguasa dari kerajaan yang cukup besar di daerah utara. Akhirnya Alundra setuju bergabung dengan pasukan Kerajaan Rortae di daerah utara.
Dengan Alundra diantara pasukan, kerajaan Rortae berhasil menaklukkan beberapa kerajaan tetangganya. Kerajaan-kerajaan kecil lainnya bertekuk lutut dan memilih takluk daripada dihancurkan. Akhirnya tanah Ogodar bersatu menjadi sebuah bangsa besar yang disebut Anato. Namun tak lama, datanglah serangan dari daerah di sebelah utara negeri Ogodar, yaitu Bangsa Karbaek. Jumlah mereka sangat banyak. Beberapa pertempuran berhasil mereka menangkan, beberapa kota berhasil direbut. Hanya pertempuran yang disana ada Alundra sajalah pasukan Anato selalu menang. Serangan Bangsa Karbaek berhasil merebut ibukota Rortae, namun mereka terhenti di daerah tenggara karena terhalang gunung, di daerah tengah karena ada Hutan Hiral, dan di barat karena ada sungai yang berbatasaan dengan Kutan Kabut diseberangnya. Di Gunung Ebubu sebelah timur, tinggal sekutu Anato yang dikenal sebagai prajurit yang ganas, klan Krhao Mak. Mereka gesit dan lincah bertarung di medan tidak rata khas pegunungan sehingga mampu menghentikan gerak laju pasukan Karbaek. Sementara di hutan Hiral, Alundra menata pasukannya sebagai pasukan gerilya dan membuat jebakan-jebakan sehingga mengakibatkan siapa masuk hutan akan mati. Lagipula pepohonan di hutan itu besar-besar sehingga sulit untuk ditebangi atau dibakar. Lain halnya dengan Hutan Kabut di seberang Sungai Takdir, ada misteri yang tak pernah terungkap, yang jelas siapa masuk hutan itu takkan pernah kembali.
Dengan kondisi alam yang menguntungkan itu maka Pangeran Carpadax memulai peperangan lapangan untuk merebut kembali daerah-daerahnya secara bertahap. Keberhasilannya yang disokong Alundra dalam tiap peperangan ternyata justru menimbulkan keresahan tersendiri. Para prajurit lebih mengidolakan jenderalnya yaitu Alundra karena kegagahannya dalam pertempuran. Bahkan mulai muncul desas-desus bahwa Alundra akan diangkat rakyat menggantikan Carpadax. Selain itu ada alasan khusus yaitu Putri Estirchya yang menjadi calon permaisurinya dikabarkan jatuh hati kepada jenderal tersebut. Alundra juga tahu hal itu, tapi ia berusaha menjauh dari Sang Puteri karena ia ingat akan kutukan Bintang bahwa siapa yang mencintainya atau dekat akan mati karenanya.
Akhirnya negeri utara berhasil direbut. Pangeran Carpadax kemudian memaksa ayahnya mundur dari tahta dan lalu mengangkat dirinya sebagai raja. Kemudian ia memerintahkan pembangunan tembok pertahanan daerah utara, dan memerintahkan Alundra membentuk pasukan khusus di wilayah selatan yang jauh dari ibukota. Hal itu dilakukannya agar dia mempunyai kekuasaan mutlak dan menjauhkan permaisurinya dari bayang-banyang jenderalnya tersebut.
Dengan tugasnya membentuk pasukan khusus, Alundra menyingkir ke daerah barat daya, Ximeola. Di sana ia melatih pasukan khusus dengan ilmu pedang untuk menghadapi serangan infanteri musuh. Sementara Raja Carpadax dengan bantuan klan Krhao Mak membentuk pasukan khusus yang dilatih untuk menghadapi kavaleri musuh, menyusup, dan membunuh secara cepat. Tujuannya selain untuk membantu pasukan Alundra, di secara rahasia juga bisa menjadi anti bagi pasukan pedang tersebut. Carpadax hidup dalam ketakutan dan bayang-bayang pemberontakan Alundra. Pada suatu hari ia terkaget mendengar kabar bahwa ternyata permaisurinya, Estirchya sering mengunjungi Ximeola. Memang sebenrnya telah terjalin hubungan batin antara Alundra dan Sang Permaisuri. Meskipun awalnya dia menolak, dia hanya manusia biasa yang punya kebutuhan untuk dicintai. Akhirnya cinta terlarang itu diketahui oleh raja, dan raja menghukum mati permaisurinya. Alundra pun dijatuhi hukuman secara tidak langsung, sebab ia masih dibutuhkan. Ia dan pasukan khususnya dipindahtugaskan ke garis depan, di sebelah luar tembok pertahanan. Alundra yang lagi-lagi menyesali nasibnya menjadi lebih kejam terhadap pasukan musuh, karena saat itu yang dia inginkan adalah mati terhormat untuk menebus kesalahannya dan mengakhiri semua malapetaka. Namun justru musuh makin gentar dan mundur.
Setahun setelahnya, Bangsa Anato membalik keadaan. Mereka menyerang Bangsa Karbaek dan berhasil menguasai tanah utara. Bangsa besar itupun takluk dan sisanya melarikan diri keluar wilayah. Carpadax masih belum puas, ia sengaja merencanakan untuk menjebak dan memfitnah Alundra agar dapat dihukum sebagai pemberontak. Namun sebelum konspirasi itu dijalankan, Alundra terlebih dulu mengundurkan diri dari kerajaan dan pergi mengembara ke daerah barat. Masih tersiksa dengan ketakutannya, Carpadax membubarkan satuan pasukan khusus bentukan Alundra dan secara rahasia melenyapkan mereka agar tak menjadi bibit pemberontakan. Bukan hanya itu, semua orang yang pernah dekat dengan mantan jenderal itupun disingkirkan dan dibunuh. Tindakan gila ini sempat diusut, namun konspirasi politik membuatnya tetap aman. Akhirnya hal ini membuat beberapa orang mulai tak senang dan khawatir akan dijadikan korban berikutnya. Maka dari situ mulailah terjadi gerakan bawah tanah yang bertujuan menggulingkan kekuasaan sang raja. Akhirnya pemberontakan benar-benar terjadi. Kerajaan terpecah menjadi dua wilayah besar, utara dan selatan yang dibatasi oleh padang rumput Kaliza di utara hutan Hiral.
Pemberontakan ternyata tidak hanya dilakukan oleh rakyat, tapi juga kalangan istana. Para menteri menghasut pangeran Arumax untuk mengambil alih tahta selagi ayahnya pergi ke daerah selatan. Mendengar kabar ini Carpadax marah dan segera bertolak ke utara. Namun belum sampai meninggalkan hutan Hiral, ia dikejutkan kemunculan Alundra dari seberang Sungai Takdir. Mereka bertempur selama lima hari sebagai lawan yang seimbang. Kemunculan Alundra ini dianggap sebagai pembelaan terhadap rakyat, akhirnya para milisi pemberontak bermunculan dari hutan Hiral dan Ximeola menyerang para prajurit. Akhirnya dengan keadaan terdesak Carpadax menyerukan untuk gencatan senjata. Ini disambut gembira oleh rakyat. Mereka memanfaatkan situasi untuk memperkuat pertahanan di selatan. Sementara Carpadax kembali ke utara untuk merebut ibukota. Ternyata Pangeran Arumax bersekutu dengan Bangsa Karbaek untuk menghadang ayahnya. Di tepi utara padang rumput Kaliza pasukan Carpadax diporak-porandakan pasukan gabungan sehingga tercerai-berai.
Dalam keadaan kalah dan terhina itu Carpadax terpaksa untuk membuat perjanjian damai dengan rakyat di selatan. Ia meminta dukungan untuk merebut kembali ibukota. Sekali lagi rakyat dan raja bersatu menghadang kekuatan asing yang hendak menghancurkan mereka semua. Dengan adanya dua petarung hebat, banyak pendekar maupun mantan pasukan khusus yang masih selamat bergabung untuk berperang. Akhirnya ibukota dapat direbut dan sang raja kembali ke tahtanya. Tak lama setelah itu raja memerintahkan rakyat untuk membentuk senat yang merupakan perwakilan rakyat dari tiap daerah. Para senat ditugasi untuk mempersiapkan calon penerus raja yaitu putra bungsunya, Pangeran Sardax yang baru berusia lima tahun. selagi Sardax dibimbing para senat dan petinggi militer, maka Carpadax memilih turun dari tahta untuk menjalani hidup sebagai pertapa.
Dalam masa-masa selanjutnya, dua tokoh besar Alundra dan Carpadax diabadikan rakyat Ogodar sebagai Ashayan, lingkaran kesempurnaan yang terdiri atas warna hitam dan putih. Dalam hitam masih ada putih, melambangkan Alundra dan dalam putih masih ada hitam, melambangkan Carpadax.