Tentang Jepang
Jepang tidak salah, kita yang salah….
Pada suatu ketika, ada seorang mahasiswa yang bercerita tentang ilmu pedang. Ternyata ia adalah murid sebuah perguruan Ninjutsu di Jogja. di sampingnya yang kemudian nimbrung aku kenal sebagai seorang Aikidoka yang sering latihan bersamaku waktu itu di Depok Sport Center (DSC), dan satu lagi seorang Judoka dari UGM. Kedengarannya asyik, mereka bercerita kesana-kemari tentang sejarah ilmu beladiri jepang, ninjitsu, sampai dengan (sebisa mungkin tidak kelihatan kalau) menyombongkan disiplin ilmunya masing-masing. Mereka pun akhirnya berdebat, dasar mahasiswa, pikirku. Menurut Si Aikidoka, paparan tentang ilmu pedang dari si murid ninjitsu itu salah, sebab banyak cerita yang tidak sesuai. Sang Judoka menengahi tapi justru membuat runyam dengan mendebat sejarah ilmu gulat Jepang versi Aikido. Karena pertengkaran mulai panas, aku pun terpancing untuk bertanya, sederhana sekali:
“Emangnya kalian tahu sejarah Jepang?”
jawabannya: ‘geleng-geleng kepala semua….’
Aku tertawa dalam hati. Batinku menertawai kenapa mesti sejarah Morehei Ueshiba (Aikido) didebat dengan cerita sejarah Jigoro Kano (judo), susah nyambunginnya! Mereka juga tak mengerti sejarah perang Sekigahara, era keemasan pedang Periode Kamakura, sampai berkenaan dengan sejarah aliran pedang Shinkage yang menjadi batang berdirinya Aikido. Aku tidak harus menceritakan bahwa antara aliran keras (Go-ho) dan aliran lunak (Ju-ho) dulunya menjadi satu dalam ilmu Samurai-jutsu. Ilmu beladiri yang waktu itu hanya dikuasai para Bushi (prajurit) berisi ilmu senjata dan gulat (kakuto) sekaligus. Dengan prinsip-prinsip inilah perkembangan sejarah membawa beberapa tokoh untuk menciptakan ilmu baru dari teknik-teknik lama seperti modernisasi Okinawate (Ryukyu Kempo) oleh Gichin Funakoshi menjadi Karate. Tapi akhirnya cerita itu keluar juga, sebab mereka cukup kritis dan ‘mengujiku’ apa aku juga lebih tahu dari mereka, kok berani-beraninya mentertawakan.
Kuulang jurus lamaku. Aku tanyakan apa si Ninjitsu ini tahu bahwa ilmu ninja pernah mendapat pengaruh dari Pencak Silat waktu Mahapatih Gajahmada (Majapahit) menguasai bagian selatan Jepang? sesuai dugaan, ia tak tahu, bahkan menyangkal mentah-mentah. Padahal cerita itu jelas-jelas kudengar dari Guru Besar Ninjitsu sendiri di Indonesia dan pernah termuat di koran Minggu Pagi. Jurus bicara ini pernah mematahkan kesombongan seorang temanku yang berlatih beladiri muslim Tifan Pokhan. Ia pernah bilang bahwa Thifan lebih hebat daripada Kungfu Shaolin, padahal guru besarnya sendiri menceritakan kalau ilmu Thifan berkembang pesat karena salah satu sebab besarnya adalah….
“Shaolin pernah diserbu, dibakar, dijarah. Kitab-kitab Kungfu itu dibawa lari ke Utara (Tayli). Di sana para penjarah itu kelaparan kehabisan bekal, maka dijuallah kitab-kitab itu pada saudagar suku Hui (China Muslim) dan di negeri Tayli itulah ilmu Shaolin curian itu dipelajari. beberapa tahun kemudian para bhiksu Shaolin menemukan bahwa gerakan ilmu beladiri rakyat Tayli mirip dengan ilmu mereka yang hilang, tapi mereka membiarkannya karena percaya bahwa orang-orang Hui tidak suka bikin onar seperti orang Mongol atau partai-partai/ aliran perguruan Kungfu yang waktu itu ada di Tiongkok (Butong, Gobi, Kun Lun, Khun Tung, aliran-aliran minor yang berakar dari Persia, sekte-sekte kecil, dan Shaolin sendiri)…”
Nah, kembali ke ilmu beladiri Jepang, ketiga orang yang ribut tadi punya cara yang berbeda dalam menanggapi omonganku. Si Judoka diam, mungkin karena ia adalah atlet sehingga tak cukup peduli dengan sejarah. Aikidoka temanku, tahu kalau aku lebih paham soal sejarah ilmu beladiri (kebanyakan) dan sejarah Jepang, ia justru banyak bertanya mencari tahu. Sementara si Ninja seolah tak terima, mungkin karena niat awalnya ia ingin menyombongkan alirannya tapi kugagalkan. Tapi anehnya ia juga diam, cuma sambil menahan sesuatu di mukanya.
Aku kemudian mengakhiri perdebatan itu sebisaku. Kukatakan, setiap beladiri punya akar, sejarah dan alasan tumbuh yang berbeda-beda. Mencari yang terbaik adalah sia-sia dan menyombongkannya adalah kebodohan. Contohnya kalau seorang Karateka berlatih asal-asalan (tidak serius) maka kelengkapan tekniknya akan kalah oleh seorang petinju yang berlatih keras. Jadi bukan ilmunya, tapi orangnyalah yang akan membawa ilmu itu menjadi hebat/ tidak, baik/ buruk. Jadi tidak ada juga beladiri yang paling benar, diridhoi Tuhan, ataupun beladiri kafir dan musyrik.
Lalu bagaimana dengan sejarah Ninjitsu atau Aikido? Kubilang, baca saja di internet, banyak…
DISTTESTOKS Said,
December 2, 2008 @ 9:16 pm
Hi!
xoxo
I made with photoshop animated myspace pictures.
take a look at them:
http://tinyurl.com/5w2eqc
Thank you 4 your site