Ilusi Itu Bernama Masjid (Laporan Dari Salatiga)

Salatiga, siapa bilang tempat itu sejuk dan dingin…pikirku waktu itu. Pasalnya aku masuk dari arah Ungaran, tepatnya perjalanan tiga jam itu menempuh rute dari Muntilan, Ketep, Kopeng, lalu ke arah Ungaran dan turun langsung ke pusat kota, panasss.
Aku bersama temanku, Fido, beristirahat sejenak menanti waktu dzhuhur sebelum meneruskan perjalanan wisata kuliner itu. Fido asyik dengan lembaran kertas berisi daftar tempat makan yang katanya asyik di kota itu. Aku melihat-lihat sekeliling dan mendapati bahwa di atas kepalaku tertera tulisan ‘Masjid Pandawa Yonif 411 Kostrad’. Sementara di seberang jalan raya, tepat di depan kami duduk, nampak jelas tulisan ‘SMP Kristen 02 Eben Haezer’. Pada waktu itu jam 11-an, waktu pulang sekolah. Segera, para remaja putri (aku dan kawanku lebih suka menyebutnya ‘Lolitta’) berusia belasan tahun menyeruak ke gerbang sekolah dan mengisi jalanan. Umur mereka yang belum tujuh belasan seakan tersamarkan dengan bentuk tubuh yang sudah seukuran mahasiswi 20 tahunan, meski banyak juga mahasiswi berbodi mungil atau ceper, masih dikira anak SMP, kalau yang ini kebalikannya. Sejenak kami terpana melihat pemandangan gratis itu. Seakan ada Bunga Citra Lestari, Masayu Anastacia, Asmirandah, Luna Maya, dan segerombolan ikon wanita cantik lewat di depan kami. Perjalanan dari Jogja yang agak melelahkan mungkin sedikit terobati dengan pemandangan indah itu.
Beberapa detik kemudian kawanku nyeletuk,”itulah neraka.” Katanya sambil menunjuk serombongan gadis-gadis berseragam itu. Aku memandanginya sepintas, lalu ia meneruskan,”ini surga” sambil menunjuk masjid yang tangga berandanya sedang kami duduki itu. Aku tersenyum simpul, lalu membalas..“Salah, Fid. Itu virus…kalau ini mah cuma ilusi.” Gantian Fido yang menatapku. Ia curious kenapa aku berani menyebut bahwa masjid adalah ilusi. Bukankah setiap muslim menganggap secara filosofis masjid adalah surga atau jalan menuju surga, tempat beribadah dan mencari pahala untuk karcis masuk surga, tanyanya. Penjelasannya tadi justru membuatku makin mudah menjawab. Aku berkata enteng menambahi, bahwa masjid hanyalah tempat yang disepakati orang-orang untuk nungging beramai-ramai. Kubiarkan ia terpana dengan emosinya sebagai seorang muslim. Aku yakin ia tahu betul aku bukan orang yang tanpa penjelasan menyebut sesuatu, dan karenanya ia menanti pertanggungjawaban ucapanku.
Setelah ia menguasai dirinya, kumulai penjelasanku. Kecantikan manusia di depan sana adalah virus bagi kita, sebab sebenarnya mereka adalah stimulus netral. Daya tahan kita sajalah yang mempengaruhi apa yang akan terjadi berikutnya. It’s your choice whether you will go crazy or be calm here. Mau tergila-gila atau bahkan terbayang-bayang itu terserah kita. Mereka netral, kitalah yang memberikan nilai dan menciptakan reaksi.
Masjid, sebenarnya adalah ilusi, seperti gereja, pura, vihara, kuil, atau apalah sebutannya. Sebab masjid bukanlah sebenar-benarnya tempat ibadah. Beribadah tidak harus berada di masjid. Ketika Nabi Muhammad SAW hendak mendirikan tempat ibadah dan berkumpulnya kaum muslim di Madinah, beliau hanya menunjuk sehamparan tanah lalu mengatakan “haadza masjid” (itu masjid). Artinya masjid bukan dinilai dari bangunan fisiknya, apakah berkubah atau berpucuk ornamen bulan sabit, atau bahkan kalau dikasih tulisan yang hurufnya besar-besar ‘INI MASJID BENERAN’. Masjid mengandung pengertian “tempat sujud”, jadi bumi ini seluruhnya adalah masjid karena bersujud dan beribadah itu tidak terbatas pada bangunan.
Kalau orang menganggap masjid adalah surga, lalu bagaimana dengan trotoar, perempatan jalan, tempat remang-remang, atau perkampungan kumuh? Bukankah beramal kebaikan lebih utama di tempat yang minim pancaran kebaikannya? Pengemis di jalanan atau anak yatim-piatu di panti asuhan, apakah mereka tidak pantas dijadikan tempat/sasaran beramal-beribadah? Tuhan mengawasi kita di setiap titik koordinat dimensi dalam tata kosmos semesta ini. Ibadah itu tidak melulu berada di tempat ibadah, dan bahkan Sunan Kalijaga mengajarkan bahwa yang namanya dakwah itu bukanlah mengajak untuk shalat. Tapi bergaul dengan semua orang tanpa memandang perbedaan, sekotor apapun, seberdosa apapun seseorang, ia juga manusia yang perlu dikasihi sebagaimana Nabi Muhammad mendoakan keselamatan bagi orang yang menyatakan diri memusuhinya. Itulah ibadah, dan orang sering mengatakan Islam tidak mengenal Rabbaniyah (mengurung diri, menjadi pendeta, tidak kawin). Padahal kalau ibadah disempitkan dengan shalat dengan segala gerakannya mulai dari berdiri angkat tangan sampai nungging, beserta segala aktivitas di masjid atau yang bersifat ritual, bukankah itu sama dengan mengurung diri? Itu rabbaniyah jenis baru.
Fido tertegun manggut-manggut. Aku meneruskan ucapanku, makanya Fid, klo besok kamu naik haji, tidak harus banyak-banyak baca Qur’an dan dzikir di masjid Nabawi. Tolong saja nenek-nenek menyeberang jalan, itu juga ibadah. Apalagi Tuhan sudah menjelaskan bahwa ibadah itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke barat atau ke timur, melainkan menghadapkan hatimu pada-Nya. Segala ajaran pun hanya menjadi sampah dan kotoran jika tidak diamalkan, seperti pupuk kandang tanpa benih yang tak menumbuhkan apapun. Benih pun tanpa cahaya matahari tetap akan mati dalam kegelapan. Maka kita harus mencari cahaya dengan membaca alam ini, iqra’ bismirabbikalladzii khalaq, bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan, untuk menuju-Nya, menemukan hakikat-Nya. Singkirkan tirai-tirai yang kita bikin sendiri, yaitu pemahaman yang mentah dan emosional.
Fido tersenyum, lalu berkomentar,”Ya…ya…ya…ibadah bukanlah kemana menghadapkan wajahmu…apalagi menghadapkan bokongmu.”. Kami pun tertawa bersamaan, dan adzan dzuhur dikumandangkan ketika ternyata seorang Lolitta manis berbodi langsing menatap kami penuh tanya dari kejauhan. (Prie_mata)

1 Comment »

  1. iin Said,

    March 18, 2009 @ 12:47 am

    Yupz, setuju buangeeet!!! Dimana ja bisa jadi masjid yang baguz asal ati kita berniat melaksanakan perintah Allah. Mudah-mudahan jangan sampe ada masjid baguz, muegah, n mewah tapi kosong jamaahnya yach..

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Comment