Habis Mandi Ku Terus Tidur

Habis Shubuh, ku masih bisa tidur, dan aku masih bisa bermimpi. Siang-siang aku bisa tidur dan masih bisa bermimpi. Ternyata kapanpun aku tidur aku bisa bermimpi, baik itu mimpi yang jorok-jorok seperti memimpikan sampah, air comberan, got, dan semacamnya sampai mimpi baik-baik seperti mimpi sholat di masjid megah. Aku suka mengutak-atik segala sesuatu termasuk mimpi. If I say that I like to dream, I would say that the word ‘dream’ needs to be explained further. menurutku dream dibedakan menjadi mimpi dan impian, atau fantasy dan hope. Impian sifatnya abstrak karena ia belum dicapai dan akan dicapai sedangkan mimpi hanya sekedar bayangan yang akan hilang ditelan waktu. Tapi bagaimana jika mimpi itu dinyatakan menjadi impian?
Peradaban manusia tak akan berkembang tanpa adanya mimpi. Dalam mimpi itu terkandung keinginan, harapan, cita-cita, dan otomatis doa. pesawat terbang yang muncul dari impian gila Wilbur & Orville Wright yang menyatakan (mewujudkan) mimpi manusia bisa terbangnya tak hanya sekedar mimpi. Di situ terkandung pelajaran tentang berusaha keras pantang menyerah seperti pepatah Arab “Man jadda wa jada”, siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil. Lalu bagaimana dengan mimpiku? Setiap mimpi bagiku bisa di-proposalkan menjadi impian, dan setiap impian hendaknya memacuku untuk maju menggapainya. Tapi dalam kehidupan ini ternyata Dhea (Tuhan)ku mengajarkan bahwa kita punya hak yang terbatas untuk tiap impian yang hendak digapai. Aku jadi ingat kata orang barat, “hati-hati dengan doamu..”. Artinya dalam tiap doa pasti terkandung sesuatu yang sering kita tak sadari. Misalnya aku bermimpi (dalam pembahasannya kata ini menjadi ‘menginginkan’ dan otomatis dianggap doa) untuk mendapatkan sebuah sepeda federal. Setelah aku dapat, aku bersyukur kecuali pada satu hal, ternyata bodinya rapuh dan mudah patah hingga satu kecelakaan kecil membuatnya susah diperbaiki. Mimpi bolehlah drive human to earn their hopes, karena mimpi adalah harapan itu sendiri. Tapi keterbatasan itu tetap ada karena tiap orang punya tugas dan wewenang sendiri-sendiri dalam kehidupan, percaya atau tidak itulah nyatanya.
Aku jadi tersenyum melihat kilas balik kisah hidupku sendiri. Mimpi itu mengawali semua harapan yang ada. Memang kuliah di Psikologi adalah keinginanku sejak SMP, tapi perjalanan yang kualami bahkan hingga sekarang menjadikan mimpi lebih bernilai daripada keinginan itu sendiri. Mimpi bisa bernilai spiritual, karena ia adalah intuisi langsung dari Dhea dengan tujuan tertentu. MImpi kadang bersifat lugas, kadang bermakna kebalikan, dan kebetulan punyaku bersifat konotatif, full of signs. Aku kadang menertawakan kisahku yang berhubungan dengan mimpi kendati saat menjalaninya airmata darah seakan tak cukup mengekspresikan rasa sakitnya. Misalnya saja saat lulus SMA, aku mimpi memilih tiga pintu, dan akhirnya kumasuki pintu kedua. Ternyata dalam SPMB aku nyantol di pilihan kedua dari tiga pilihan yang kuambil. Mimpi juga punya tujuan, baik itu abstrak, jangka panjang maupun pendek. di kuliahku yang pertama itu aku bermimpi mengikat leher seekor kucing, ternyata artinya menjalin hubungan dengan seorang gadis (apa hubungannya gadis sama kucing? mungkin akan ku jelaskan di katalog simbol di halaman lain.). Lalu aku terus dihantui sosok seorang perempuan, sampai akhirnya pamanku dari Jawa Timur khusus datang menguak siapa dia, eh…sosok itu kutemui setelah aku pindah kuliah. Jadi bayangan perempuan itu mengantarku pindah kuliah atau mengabarkan bahwa aku akan pindah kuliah ya? atau apa kira-kira?
Mimpi punya tujuan yang sering tak kita pahami, sebagaimana Tuhan susah dipahami manusia. Tapi mimpi bisa mengarahkan pada tujuan besar bernama keinginan. Aku memahami konsep ‘watch your prayer’ dari kejadian kuliah di Psikologi, saat mimpi tentang perempuan mendorongku menginginkan (sadar atau tidak) sosok wanita sempurna pendamping hidup, dan yang kudapat ternyata justru kebalikannya, gila, meleset 360 derajat euy! Di situlah aku sadar bahwa Tuhan sedang menamparku sangat keras. Dia memberitahukan bahwa tak semestinya aku berharap pada apa yang tak sesuai denganku, istilahnya ‘liat-liat dulu dong siapa lu..’, Tuhan selalu memberikan sesuatu sesuai kebutuhan, bukan keinginan, meski keinginan bisa tercapai. Tapi pencapaian keinginan itu perlu proses, kedalam dan keluar. Ke dalam berarti mengolah diri, mempersiapkan diri mampu menyangga tanggung jawab atas hal yang diinginkan itu, dan keluar artinya menggapai impian/ keinginan itu sendiri. Orang miskin tak akan kaya jika setting mind-nya tidak kaya, itu kata Romy Rafael mengulang omongan Tung Desem Waringin. Lha bagaimana bisa kaya wong dia tidak punya kemampuan untuk mengelola kekayaan? masuk akal? (meniru Pak Tung, bilang “masuk akaaal…” sambil ngelus jidat).
Banyak kisah hidupku yang dipengaruhi oleh mimpi, atau dikabarkan oleh mimpi. Aku baru ngeh sekarang-sekarang ini dan buru-buru berucap syukur. Banyak hal yang bagi orang lain disayangkan tapi kusyukuri karena sudah terlihat manfaat atau kebaikan didalamnya. Banyak mimpi yang bahkan jauh di masa kecil kualami baru terjawab sekarang. Perjalanan spiritual, mental, batin, penemuan dan pengukuhan jati diri, menjalani tugas dalam kehidupan, semuanya adalah keterangan yang harus disyukuri dengan dijalankan sebaik mungkin. Jadi mimpi adalah sebuah karunia, sebuah pembelajaran, sebuah mukjizat bahkan. Mimpi bukan hanya sekedar menginginkan karena mimpi itu sendirilah yang menciptakan keinginan. Mimpi mengabarkan agar kita percaya pada keajaiban, agar selalu berbaik sangka pada-Nya, agar kita punya harapan yang lebih besar ketimbang apa yang biasanya ditemui sehari-hari (think out of the box). Kalau sudah begini, aku cuma bisa tertawa dan sekaligus takut kalau tidak mampu bersyukur. Tak peduli aku pindah kuliah dari UGM ke Mercu Buana, pernah berdarah-darah di berbagai lembaga dakwah, ayah-ibuku mau cerai, dan hal-hal buruk lainnya, yang justru kulakukan adalah bersyukur atas itu semua. Karena itu seperti perkelahian anak kecil yang menjadi bahan tertawaan setelah dewasanya. Aku masih bisa hidup sampai sekarang, bisa bekerja mengusahakan kristalisasi keringat, masih punya teman-teman yang baik, masih bisa berwisata kemana-mana (spiritual, kuliner, dll), masih punya berbagai benda (belongings) untuk sarana kehidupan, punya kekasih dan juga pernah mengalami kisah cinta yang luar biasa sampai hampir binasa, tapi itu semua adalah kenikmatan seperti makan sambal, pedes tapi asyik. Semua tak lepas dari mimpi.
Mimpi itu kehidupan, mengajarkan tentang kehidupan. Ia hidup dan selalu sadar meski didapat dalam tidur. Tapi impian terus bangun dan bahkan menghantui dengan bisikan mesra untuk pencapaiannya. Maka mimpi itu mulia, jika kita mampu menjadikan diri kita mulia dengannya. Itu yang kutemukan, mungkin orang lain akan berbeda tapi kuyakin ada pembelajaran universal di sini. Sekian dulu, mari menggapai mimpi (’tidur’)!!

Leave a Comment