Anime Experience
Belajar dari Naruto, yeah..!
(Sesuatu yang jarang diekspose oleh alam pikiran anak Indonesia)
Pada mulanya aku sama sekali tidak tertarik dengan anime Naruto, aku sudah duluan muak melihat anak-anak kecil dan remaja yang bertingkah aneh-aneh demi identifikasi (modelling) atau menunjukkan betapa nge-fans-nya mereka pada cerita tersebut. Tapi Tuhan membukakan jalan untukku, sudah lama sebenarnya. Suatu hari temanku mengabarkan bahwa semua ilmu-ilmu ninja yang ditunjukkan pada film Naruto bisa kita lihat katalognya di sebuah buku yang disimpan di Perpustakaan Daerah (Perpusda) Yogya, dekat Univ. Janabadra. Ternyata semua ilmu itu ada dan bukan hanya karangan author-nya Naruto sebagaimana ia mencampurkan mode-mode busana modern dengan tokoh kisah ninja yang klasik itu. Tapi tak cukup di situ, aku belum ngeh juga sampai akhirnya aku mendengarkan OST Naruto dan mendapatkan teks beserta terjemahannya, like this:
Daredatte shippai wa su runda (everyone makes mistakes)
hazukashii koto janai (it’s nothing to be ashamed of)
kono kizu wo muda ni shinaide (don’t let this mistake to go waste)
waratte arukereba ii (be able to smile as you walk)
son shizukana kuu ki suikomi (yes, I breathe in the quiet air)
hiroki sora ni kao age tobikomi (and raise my face towards the wide sky and jump in)
toki ni ame ga futtara hitoyasumi (if it rains, I’ll take a break)
jaa yuku saki wa kaze fuku mama ni (and let the wind decide where I go)
takusan no matotteru kon kai (I carry along many regrets)
kono kizu wo muda ni sicha shonnai (but letting these wounds to go waste is stupid)
ude ni kunshou kizami ikoukai (lets carve a medal onto our arm and go)
songai sokokkara ga “Show Time” (our life becomes a “Show Time” from there)
Daredatte shippai wa su runda (everyone makes mistakes)
hazukashii koto janai (it’s nothing to be ashamed of)
kono kizu wo muda ni shinaide (don’t let this mistake to go waste)
waratte arukereba ii (be able to smile as you walk)
kanashimi mo kaze ni kaete (turn your sadness into wind)
tsuyoku susunde ikereba ii (and just be able to keep moving forward)
tsuyoku susunde ikereba ii (and just be able to keep moving forward)
Dari mengamati sekilas lagu itu aku sadar bahwa anime seperti Naruto memang diciptakan tidak main-main. Meski fiksi, namun referensinya lumayan banyak yang nyata, minimal ada dokumen yang mengakuinya semacam sejarah ninja dan katalog ilmu ninja itu sendiri. Aku jadi ingat bagaimana manga-manga lain juga dibuat dengan full perjuangan seperti manga kesukaanku Yugo The Negosiator yang dibuat berdasarkan kondisi sosio-kultural dan historis dari tiap daerah settingnya secara akurat, sampai pada Red Eyes yang pengarangnya harus bikin sejarah sendiri yang lebih memusingkan dibanding data-data Perang Dunia ke-2. Anime Naruto mengajarkan nilai-nilai yang menggugah, semacam terus berjuang, belajar dari kesalahan, optimistik, kesetiaan pada tugas, kekuatan persahabatan dan cinta, semangat bushido-lelaki sejati yang memegang janji sampai akhir, dan lain-lain. Nah, yang bikin muak adalah kebanyakan anak Indonesia tak pernah melirik sisi-sisi itu. Mereka menikmati tontonannya, adegan demi adegan tanpa menyarikan apa sebenarnya pelajaran moral di dalamnya. Seperti juga para muda kita yang sedang gandrung dengan budaya Jepang, harajuku over kreatif tapi tak bisa meniru kekuatan karakter orang Jepang yang berbudaya kerja keras, kehormatan, dan tanggung jawab sampai mati sekalipun. Akankah generasi kita hanya berhenti pada arus style/gaya yang tak bermakna, sementara kita sendiri punya budaya dan karakter bangsa yang justru terus dibenamkan dengan kata-kata “tidak keren”, “kuno”, “kolot”, dan semacamnya?
Anak-anak Indonesia tak memiliki karakter bangsanya dan juga tak mampu meniru karakter kuat bangsa lain. Lalu mau jadi apa? kalau dalam bahasaku, bilangnya begini,”Apa nggak malu bisanya cuma nonton doang?”