Archive forOctober, 2008

Ilusi Itu Bernama Masjid (Laporan Dari Salatiga)

Salatiga, siapa bilang tempat itu sejuk dan dingin…pikirku waktu itu. Pasalnya aku masuk dari arah Ungaran, tepatnya perjalanan tiga jam itu menempuh rute dari Muntilan, Ketep, Kopeng, lalu ke arah Ungaran dan turun langsung ke pusat kota, panasss.
Aku bersama temanku, Fido, beristirahat sejenak menanti waktu dzhuhur sebelum meneruskan perjalanan wisata kuliner itu. Fido asyik dengan lembaran kertas berisi daftar tempat makan yang katanya asyik di kota itu. Aku melihat-lihat sekeliling dan mendapati bahwa di atas kepalaku tertera tulisan ‘Masjid Pandawa Yonif 411 Kostrad’. Sementara di seberang jalan raya, tepat di depan kami duduk, nampak jelas tulisan ‘SMP Kristen 02 Eben Haezer’. Pada waktu itu jam 11-an, waktu pulang sekolah. Segera, para remaja putri (aku dan kawanku lebih suka menyebutnya ‘Lolitta’) berusia belasan tahun menyeruak ke gerbang sekolah dan mengisi jalanan. Umur mereka yang belum tujuh belasan seakan tersamarkan dengan bentuk tubuh yang sudah seukuran mahasiswi 20 tahunan, meski banyak juga mahasiswi berbodi mungil atau ceper, masih dikira anak SMP, kalau yang ini kebalikannya. Sejenak kami terpana melihat pemandangan gratis itu. Seakan ada Bunga Citra Lestari, Masayu Anastacia, Asmirandah, Luna Maya, dan segerombolan ikon wanita cantik lewat di depan kami. Perjalanan dari Jogja yang agak melelahkan mungkin sedikit terobati dengan pemandangan indah itu.
Beberapa detik kemudian kawanku nyeletuk,”itulah neraka.” Katanya sambil menunjuk serombongan gadis-gadis berseragam itu. Aku memandanginya sepintas, lalu ia meneruskan,”ini surga” sambil menunjuk masjid yang tangga berandanya sedang kami duduki itu. Aku tersenyum simpul, lalu membalas..“Salah, Fid. Itu virus…kalau ini mah cuma ilusi.” Gantian Fido yang menatapku. Ia curious kenapa aku berani menyebut bahwa masjid adalah ilusi. Bukankah setiap muslim menganggap secara filosofis masjid adalah surga atau jalan menuju surga, tempat beribadah dan mencari pahala untuk karcis masuk surga, tanyanya. Penjelasannya tadi justru membuatku makin mudah menjawab. Aku berkata enteng menambahi, bahwa masjid hanyalah tempat yang disepakati orang-orang untuk nungging beramai-ramai. Kubiarkan ia terpana dengan emosinya sebagai seorang muslim. Aku yakin ia tahu betul aku bukan orang yang tanpa penjelasan menyebut sesuatu, dan karenanya ia menanti pertanggungjawaban ucapanku.
Setelah ia menguasai dirinya, kumulai penjelasanku. Kecantikan manusia di depan sana adalah virus bagi kita, sebab sebenarnya mereka adalah stimulus netral. Daya tahan kita sajalah yang mempengaruhi apa yang akan terjadi berikutnya. It’s your choice whether you will go crazy or be calm here. Mau tergila-gila atau bahkan terbayang-bayang itu terserah kita. Mereka netral, kitalah yang memberikan nilai dan menciptakan reaksi.
Masjid, sebenarnya adalah ilusi, seperti gereja, pura, vihara, kuil, atau apalah sebutannya. Sebab masjid bukanlah sebenar-benarnya tempat ibadah. Beribadah tidak harus berada di masjid. Ketika Nabi Muhammad SAW hendak mendirikan tempat ibadah dan berkumpulnya kaum muslim di Madinah, beliau hanya menunjuk sehamparan tanah lalu mengatakan “haadza masjid” (itu masjid). Artinya masjid bukan dinilai dari bangunan fisiknya, apakah berkubah atau berpucuk ornamen bulan sabit, atau bahkan kalau dikasih tulisan yang hurufnya besar-besar ‘INI MASJID BENERAN’. Masjid mengandung pengertian “tempat sujud”, jadi bumi ini seluruhnya adalah masjid karena bersujud dan beribadah itu tidak terbatas pada bangunan.
Kalau orang menganggap masjid adalah surga, lalu bagaimana dengan trotoar, perempatan jalan, tempat remang-remang, atau perkampungan kumuh? Bukankah beramal kebaikan lebih utama di tempat yang minim pancaran kebaikannya? Pengemis di jalanan atau anak yatim-piatu di panti asuhan, apakah mereka tidak pantas dijadikan tempat/sasaran beramal-beribadah? Tuhan mengawasi kita di setiap titik koordinat dimensi dalam tata kosmos semesta ini. Ibadah itu tidak melulu berada di tempat ibadah, dan bahkan Sunan Kalijaga mengajarkan bahwa yang namanya dakwah itu bukanlah mengajak untuk shalat. Tapi bergaul dengan semua orang tanpa memandang perbedaan, sekotor apapun, seberdosa apapun seseorang, ia juga manusia yang perlu dikasihi sebagaimana Nabi Muhammad mendoakan keselamatan bagi orang yang menyatakan diri memusuhinya. Itulah ibadah, dan orang sering mengatakan Islam tidak mengenal Rabbaniyah (mengurung diri, menjadi pendeta, tidak kawin). Padahal kalau ibadah disempitkan dengan shalat dengan segala gerakannya mulai dari berdiri angkat tangan sampai nungging, beserta segala aktivitas di masjid atau yang bersifat ritual, bukankah itu sama dengan mengurung diri? Itu rabbaniyah jenis baru.
Fido tertegun manggut-manggut. Aku meneruskan ucapanku, makanya Fid, klo besok kamu naik haji, tidak harus banyak-banyak baca Qur’an dan dzikir di masjid Nabawi. Tolong saja nenek-nenek menyeberang jalan, itu juga ibadah. Apalagi Tuhan sudah menjelaskan bahwa ibadah itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke barat atau ke timur, melainkan menghadapkan hatimu pada-Nya. Segala ajaran pun hanya menjadi sampah dan kotoran jika tidak diamalkan, seperti pupuk kandang tanpa benih yang tak menumbuhkan apapun. Benih pun tanpa cahaya matahari tetap akan mati dalam kegelapan. Maka kita harus mencari cahaya dengan membaca alam ini, iqra’ bismirabbikalladzii khalaq, bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan, untuk menuju-Nya, menemukan hakikat-Nya. Singkirkan tirai-tirai yang kita bikin sendiri, yaitu pemahaman yang mentah dan emosional.
Fido tersenyum, lalu berkomentar,”Ya…ya…ya…ibadah bukanlah kemana menghadapkan wajahmu…apalagi menghadapkan bokongmu.”. Kami pun tertawa bersamaan, dan adzan dzuhur dikumandangkan ketika ternyata seorang Lolitta manis berbodi langsing menatap kami penuh tanya dari kejauhan. (Prie_mata)

Comments (1)

Anime Experience

Belajar dari Naruto, yeah..!
(Sesuatu yang jarang diekspose oleh alam pikiran anak Indonesia)

Pada mulanya aku sama sekali tidak tertarik dengan anime Naruto, aku sudah duluan muak melihat anak-anak kecil dan remaja yang bertingkah aneh-aneh demi identifikasi (modelling) atau menunjukkan betapa nge-fans-nya mereka pada cerita tersebut. Tapi Tuhan membukakan jalan untukku, sudah lama sebenarnya. Suatu hari temanku mengabarkan bahwa semua ilmu-ilmu ninja yang ditunjukkan pada film Naruto bisa kita lihat katalognya di sebuah buku yang disimpan di Perpustakaan Daerah (Perpusda) Yogya, dekat Univ. Janabadra. Ternyata semua ilmu itu ada dan bukan hanya karangan author-nya Naruto sebagaimana ia mencampurkan mode-mode busana modern dengan tokoh kisah ninja yang klasik itu. Tapi tak cukup di situ, aku belum ngeh juga sampai akhirnya aku mendengarkan OST Naruto dan mendapatkan teks beserta terjemahannya, like this:

Daredatte shippai wa su runda (everyone makes mistakes)
hazukashii koto janai (it’s nothing to be ashamed of)
kono kizu wo muda ni shinaide (don’t let this mistake to go waste)
waratte arukereba ii (be able to smile as you walk)

son shizukana kuu ki suikomi (yes, I breathe in the quiet air)
hiroki sora ni kao age tobikomi (and raise my face towards the wide sky and jump in)
toki ni ame ga futtara hitoyasumi (if it rains, I’ll take a break)
jaa yuku saki wa kaze fuku mama ni (and let the wind decide where I go)
takusan no matotteru kon kai (I carry along many regrets)
kono kizu wo muda ni sicha shonnai (but letting these wounds to go waste is stupid)
ude ni kunshou kizami ikoukai (lets carve a medal onto our arm and go)
songai sokokkara ga “Show Time” (our life becomes a “Show Time” from there)

Daredatte shippai wa su runda (everyone makes mistakes)
hazukashii koto janai (it’s nothing to be ashamed of)
kono kizu wo muda ni shinaide (don’t let this mistake to go waste)
waratte arukereba ii (be able to smile as you walk)

kanashimi mo kaze ni kaete (turn your sadness into wind)
tsuyoku susunde ikereba ii (and just be able to keep moving forward)
tsuyoku susunde ikereba ii (and just be able to keep moving forward)

Dari mengamati sekilas lagu itu aku sadar bahwa anime seperti Naruto memang diciptakan tidak main-main. Meski fiksi, namun referensinya lumayan banyak yang nyata, minimal ada dokumen yang mengakuinya semacam sejarah ninja dan katalog ilmu ninja itu sendiri. Aku jadi ingat bagaimana manga-manga lain juga dibuat dengan full perjuangan seperti manga kesukaanku Yugo The Negosiator yang dibuat berdasarkan kondisi sosio-kultural dan historis dari tiap daerah settingnya secara akurat, sampai pada Red Eyes yang pengarangnya harus bikin sejarah sendiri yang lebih memusingkan dibanding data-data Perang Dunia ke-2. Anime Naruto mengajarkan nilai-nilai yang menggugah, semacam terus berjuang, belajar dari kesalahan, optimistik, kesetiaan pada tugas, kekuatan persahabatan dan cinta, semangat bushido-lelaki sejati yang memegang janji sampai akhir, dan lain-lain. Nah, yang bikin muak adalah kebanyakan anak Indonesia tak pernah melirik sisi-sisi itu. Mereka menikmati tontonannya, adegan demi adegan tanpa menyarikan apa sebenarnya pelajaran moral di dalamnya. Seperti juga para muda kita yang sedang gandrung dengan budaya Jepang, harajuku over kreatif tapi tak bisa meniru kekuatan karakter orang Jepang yang berbudaya kerja keras, kehormatan, dan tanggung jawab sampai mati sekalipun. Akankah generasi kita hanya berhenti pada arus style/gaya yang tak bermakna, sementara kita sendiri punya budaya dan karakter bangsa yang justru terus dibenamkan dengan kata-kata “tidak keren”, “kuno”, “kolot”, dan semacamnya?
Anak-anak Indonesia tak memiliki karakter bangsanya dan juga tak mampu meniru karakter kuat bangsa lain. Lalu mau jadi apa? kalau dalam bahasaku, bilangnya begini,”Apa nggak malu bisanya cuma nonton doang?”

Comments

Tentang Jepang

Jepang tidak salah, kita yang salah….

Pada suatu ketika, ada seorang mahasiswa yang bercerita tentang ilmu pedang. Ternyata ia adalah murid sebuah perguruan Ninjutsu di Jogja. di sampingnya yang kemudian nimbrung aku kenal sebagai seorang Aikidoka yang sering latihan bersamaku waktu itu di Depok Sport Center (DSC), dan satu lagi seorang Judoka dari UGM. Kedengarannya asyik, mereka bercerita kesana-kemari tentang sejarah ilmu beladiri jepang, ninjitsu, sampai dengan (sebisa mungkin tidak kelihatan kalau) menyombongkan disiplin ilmunya masing-masing. Mereka pun akhirnya berdebat, dasar mahasiswa, pikirku. Menurut Si Aikidoka, paparan tentang ilmu pedang dari si murid ninjitsu itu salah, sebab banyak cerita yang tidak sesuai. Sang Judoka menengahi tapi justru membuat runyam dengan mendebat sejarah ilmu gulat Jepang versi Aikido. Karena pertengkaran mulai panas, aku pun terpancing untuk bertanya, sederhana sekali:
“Emangnya kalian tahu sejarah Jepang?”
jawabannya: ‘geleng-geleng kepala semua….’
Aku tertawa dalam hati. Batinku menertawai kenapa mesti sejarah Morehei Ueshiba (Aikido) didebat dengan cerita sejarah Jigoro Kano (judo), susah nyambunginnya! Mereka juga tak mengerti sejarah perang Sekigahara, era keemasan pedang Periode Kamakura, sampai berkenaan dengan sejarah aliran pedang Shinkage yang menjadi batang berdirinya Aikido. Aku tidak harus menceritakan bahwa antara aliran keras (Go-ho) dan aliran lunak (Ju-ho) dulunya menjadi satu dalam ilmu Samurai-jutsu. Ilmu beladiri yang waktu itu hanya dikuasai para Bushi (prajurit) berisi ilmu senjata dan gulat (kakuto) sekaligus. Dengan prinsip-prinsip inilah perkembangan sejarah membawa beberapa tokoh untuk menciptakan ilmu baru dari teknik-teknik lama seperti modernisasi Okinawate (Ryukyu Kempo) oleh Gichin Funakoshi menjadi Karate. Tapi akhirnya cerita itu keluar juga, sebab mereka cukup kritis dan ‘mengujiku’ apa aku juga lebih tahu dari mereka, kok berani-beraninya mentertawakan.
Kuulang jurus lamaku. Aku tanyakan apa si Ninjitsu ini tahu bahwa ilmu ninja pernah mendapat pengaruh dari Pencak Silat waktu Mahapatih Gajahmada (Majapahit) menguasai bagian selatan Jepang? sesuai dugaan, ia tak tahu, bahkan menyangkal mentah-mentah. Padahal cerita itu jelas-jelas kudengar dari Guru Besar Ninjitsu sendiri di Indonesia dan pernah termuat di koran Minggu Pagi. Jurus bicara ini pernah mematahkan kesombongan seorang temanku yang berlatih beladiri muslim Tifan Pokhan. Ia pernah bilang bahwa Thifan lebih hebat daripada Kungfu Shaolin, padahal guru besarnya sendiri menceritakan kalau ilmu Thifan berkembang pesat karena salah satu sebab besarnya adalah….
“Shaolin pernah diserbu, dibakar, dijarah. Kitab-kitab Kungfu itu dibawa lari ke Utara (Tayli). Di sana para penjarah itu kelaparan kehabisan bekal, maka dijuallah kitab-kitab itu pada saudagar suku Hui (China Muslim) dan di negeri Tayli itulah ilmu Shaolin curian itu dipelajari. beberapa tahun kemudian para bhiksu Shaolin menemukan bahwa gerakan ilmu beladiri rakyat Tayli mirip dengan ilmu mereka yang hilang, tapi mereka membiarkannya karena percaya bahwa orang-orang Hui tidak suka bikin onar seperti orang Mongol atau partai-partai/ aliran perguruan Kungfu yang waktu itu ada di Tiongkok (Butong, Gobi, Kun Lun, Khun Tung, aliran-aliran minor yang berakar dari Persia, sekte-sekte kecil, dan Shaolin sendiri)…”
Nah, kembali ke ilmu beladiri Jepang, ketiga orang yang ribut tadi punya cara yang berbeda dalam menanggapi omonganku. Si Judoka diam, mungkin karena ia adalah atlet sehingga tak cukup peduli dengan sejarah. Aikidoka temanku, tahu kalau aku lebih paham soal sejarah ilmu beladiri (kebanyakan) dan sejarah Jepang, ia justru banyak bertanya mencari tahu. Sementara si Ninja seolah tak terima, mungkin karena niat awalnya ia ingin menyombongkan alirannya tapi kugagalkan. Tapi anehnya ia juga diam, cuma sambil menahan sesuatu di mukanya.
Aku kemudian mengakhiri perdebatan itu sebisaku. Kukatakan, setiap beladiri punya akar, sejarah dan alasan tumbuh yang berbeda-beda. Mencari yang terbaik adalah sia-sia dan menyombongkannya adalah kebodohan. Contohnya kalau seorang Karateka berlatih asal-asalan (tidak serius) maka kelengkapan tekniknya akan kalah oleh seorang petinju yang berlatih keras. Jadi bukan ilmunya, tapi orangnyalah yang akan membawa ilmu itu menjadi hebat/ tidak, baik/ buruk. Jadi tidak ada juga beladiri yang paling benar, diridhoi Tuhan, ataupun beladiri kafir dan musyrik.
Lalu bagaimana dengan sejarah Ninjitsu atau Aikido? Kubilang, baca saja di internet, banyak…

Comments (1)

Tentang Jepang bag 2

Jepang Tidak Salah…bagian kedua

Ninjitsu di UGM pernah ditantang oleh suatu perguruan Silat. Itu wajar kata instruktur Aikido (Sensei)ku, katanya pas mereka latihan, siang-siang bawa pedang. Dengan itu pasti ada orang yang gatel dan menganggap mereka sok, maka semenjak ditantang itulah untuk menghindari konflik lebih lanjut, akhirnya Ninjitsu tak lagi show off (sok pamer).
Aku masih tertawa, meskipun aku bukan jagoan, namun melihat orang-orang sok membuatku ingin menertawai….diriku sendiri! Orang sok biasanya karena belum lama latihan, jadi belum menemukan esensi beladiri yaitu ‘bela’ dan ‘diri’. Mereka yang masih mengagungkan kekuatan berarti masih ‘mencelakai diri sendiri’ karena sikapnya bisa dengan mudah menambah musuh. Begitulah dulunya diriku, dan saat-saat kemudian ini aku melihat hal serupa terjadi pada orang lain. Beruntung waktu itu guru Ninjutsu adalah orang yang bijak, bukan emosional. Jadi ia tidak membawa murid-muridnya menuju kehancuran. Aku jadi ingat sejarah China yang juga diperlihatkan di banyak film (terutama Fearless dan Fist of Fury), China pecah dan mudah dipermainkan pihak asing karena ego masing-masing perguruan Kungfu membuat bangsa itu tak bersatu. Tiap perguruan ingin menegakkan kejayaannya sendiri, persis seperti Indonesia masa dulu yang kena divide et impera. Sementara, di abad ke-15 Nobunaga Oda (yang mempersatukan Jepang) sudah lebih dulu menyadari hal itu. Ia melihat bahwa dengan sistem feodal yang ada Jepang hanya akan terus pecah dan hancur terlebih jika ada ancaman dari luar, mengingat Bangsa Mongol pernah mencoba menginvasi Jepang sampai nasib menyebabkan Kubilai Khan menarik seluruh pasukan dari Timur dan Barat (Eropa) untuk memadamkan pemberontakan di Manchuria (sebab pasukannya yang hendak menggasak Singosari dihancurkan oleh Raden Wijaya, nggak pada pulang). Dari sana, lewat ketegasan sikapnya dibantu kecerdasan emosional-sosial abdi setianya Kinoshita Tokichiro (kelak menjadi Toyotomi Hideyoshi), Nobunaga bisa mempersatukan Jepang dalam genggamannya. Eh, malah cerita sejarah Jepang….
Kenapa dengan Jepang? Mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah kenapa dengan Indonesia?
Indonesia terbiasa dengan keanekaragaman. Maka dari itu karakter bangsa yang paling cocok memang Bhinneka Tunggal Ika…eits, ini bukan pelajaran moral Pancasila loh!! coba lihat, di zaman keemasan Majapahit, kita menjadi mercusuar Asia, bukan hanya Asia Tenggara (karena sebagaian besar Asia Tenggara kita kuasai waktu itu hehe..). Gadis-gadis berjalan di pasar bertelanjang dada (masih bisa dilihat di Bali di daerah-daerah tertentu) tanpa pernah ada pemerkosaan atau pelecehan seksual, jadi tidak butuh UU Anti Pornografi-Pornoaksi! Padahal di sana ada banyak orang asing (saudagar Arab, Persia, India, China) yang budayanya tak pernah melihat wanita sampai seterbuka itu. Kebersamaan dalam perbedaan dijaga oleh supremasi hukum yang tegas, tentu tak lepas dari moral yang mengakar di masyarakat yang menghargai perbedaan. Perbedaan baru mulai dirasakan ketika majapahit disuksesi oleh Demak, dimana para muslim menganggap non-muslim adalah kafir dan harus di-Islamkan atau dimusnahkan! Perang antara Majapahit Hindu (sebenarnya bukan Hindu tapi Syiwabudha, ada yang menyebut Bhairawa, tapi yang jelas berakar dari ajaran ilmu Jawa ‘Budho-Budhi’, unsur keindiaan Hindu dan Buddha sedikit sekali di sini) dengan Demak Islam sebenarnya bukan perang antar agama, tapi di sini agama dijadikan alasan. Sama seperti Perang Salib yang memperebutkan hak kepemilikan Yerussalem. Dari suksesi itulah mulai dibeda-bedakan orang nusantara sebagai muslim dan non-muslim, lalu ke depannya kita Bangsa Indonesia mulai terbiasa membeda-bedakan, beda partai aja sampai bunuh-bunuhan.
Keanekaragaman Indonesia mendukung kreativitas yang tinggi. Lihat saja Pencak Silat, alirannya ribuan! sebab sejarah mempengaruhi, tradisi silat mengharuskan murid keluar dari padepokan/ turun gunung untuk menimba pengalaman. para pendekar itu pastilah lalu ketemu pendekar dari aliran lain. Lalu dari hasil kontak itu biasanya sang murid pun mendirikan padepokan baru karena menemukan gayanya sendiri. Makanya merumuskan kurikulum pengajaran teknik silat tak semudah membuat kurikulum Aikido yang tiap buku yang ada cuma berbeda nama teknik tapi bentuk-bentuk tekniknya serupa.
Secara analogis, apa artinya ada ilmu beladiri yang beraneka ragam? Di Jepang sendiri ada Judo, Jiu-jitsu, Aikido, Karate, Kenjutsu, yang kesemuanya pecah menjadi berbagai aliran. Lalu sekarang di Indonesia mulai masuk Capoeira Brazil, Muay Thai mulai populer, Tsufuk, dan Thifan yang menjaring massa dengan propaganda ‘beladiri muslim’, ‘beladiri syariah’, dan ‘beladiri anti-syirik’, trus kenapa? Setiap aliran punya sejarah yang menentukan karakternya. Capoeira contohnya, karena dulu dilatih sembunyi-sembunyi dan sambil diborgol tangannya maka tak banyak ia pakai tangan/ tinju, justru kaki. Lagian karena disamarkan dalam tarian biar tidak dicurigai maka sampai sekarang pelatihannya menjadi full music. Apakah Capoeira tidak efektif? Aku sendiri bilang efektif, sebab sebelum aku ikut berlatih Capoeira aku sempat menjajalnya dalam sparring dan kuakui kebingunganku menghadapi gerakan tipuan dan serangan benerannya yang variatif dan fatal (klo kena!). Bagaimana dengan Silat? Sejauh mana efektivitasnya dibanding Karate, Taekwondo, atau Kungfu? Silat juga punya sejarah yang membentuk karakternya. Karakter itu juga dipengaruhi watak dan budaya manusia yang mengembangkannya. Jika kita bilang Silat menari, Taekwondo meloncat-loncat, dan Capoeira bernyanyi, maka kita sungguh sangat bodoh memperdebatkan perbedaan yang ada demi sesuatu nilai yang abstrak semacam kehebatan, kebaikan-keburukan, apalagi dihubungkan dengan surga-neraka! Alasan apapun tak boleh berupaya menghapuskan perbedaan (dengan saling memusnahkan) dan untuk menyeragamkan, karena keanekaragaman itu diciptakan Tuhan untuk membentuk sebuah harmoni dan disitulah letak keindahan. Betul apa betul?

Comments (3,318)

Habis Mandi Ku Terus Tidur

Habis Shubuh, ku masih bisa tidur, dan aku masih bisa bermimpi. Siang-siang aku bisa tidur dan masih bisa bermimpi. Ternyata kapanpun aku tidur aku bisa bermimpi, baik itu mimpi yang jorok-jorok seperti memimpikan sampah, air comberan, got, dan semacamnya sampai mimpi baik-baik seperti mimpi sholat di masjid megah. Aku suka mengutak-atik segala sesuatu termasuk mimpi. If I say that I like to dream, I would say that the word ‘dream’ needs to be explained further. menurutku dream dibedakan menjadi mimpi dan impian, atau fantasy dan hope. Impian sifatnya abstrak karena ia belum dicapai dan akan dicapai sedangkan mimpi hanya sekedar bayangan yang akan hilang ditelan waktu. Tapi bagaimana jika mimpi itu dinyatakan menjadi impian?
Peradaban manusia tak akan berkembang tanpa adanya mimpi. Dalam mimpi itu terkandung keinginan, harapan, cita-cita, dan otomatis doa. pesawat terbang yang muncul dari impian gila Wilbur & Orville Wright yang menyatakan (mewujudkan) mimpi manusia bisa terbangnya tak hanya sekedar mimpi. Di situ terkandung pelajaran tentang berusaha keras pantang menyerah seperti pepatah Arab “Man jadda wa jada”, siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil. Lalu bagaimana dengan mimpiku? Setiap mimpi bagiku bisa di-proposalkan menjadi impian, dan setiap impian hendaknya memacuku untuk maju menggapainya. Tapi dalam kehidupan ini ternyata Dhea (Tuhan)ku mengajarkan bahwa kita punya hak yang terbatas untuk tiap impian yang hendak digapai. Aku jadi ingat kata orang barat, “hati-hati dengan doamu..”. Artinya dalam tiap doa pasti terkandung sesuatu yang sering kita tak sadari. Misalnya aku bermimpi (dalam pembahasannya kata ini menjadi ‘menginginkan’ dan otomatis dianggap doa) untuk mendapatkan sebuah sepeda federal. Setelah aku dapat, aku bersyukur kecuali pada satu hal, ternyata bodinya rapuh dan mudah patah hingga satu kecelakaan kecil membuatnya susah diperbaiki. Mimpi bolehlah drive human to earn their hopes, karena mimpi adalah harapan itu sendiri. Tapi keterbatasan itu tetap ada karena tiap orang punya tugas dan wewenang sendiri-sendiri dalam kehidupan, percaya atau tidak itulah nyatanya.
Aku jadi tersenyum melihat kilas balik kisah hidupku sendiri. Mimpi itu mengawali semua harapan yang ada. Memang kuliah di Psikologi adalah keinginanku sejak SMP, tapi perjalanan yang kualami bahkan hingga sekarang menjadikan mimpi lebih bernilai daripada keinginan itu sendiri. Mimpi bisa bernilai spiritual, karena ia adalah intuisi langsung dari Dhea dengan tujuan tertentu. MImpi kadang bersifat lugas, kadang bermakna kebalikan, dan kebetulan punyaku bersifat konotatif, full of signs. Aku kadang menertawakan kisahku yang berhubungan dengan mimpi kendati saat menjalaninya airmata darah seakan tak cukup mengekspresikan rasa sakitnya. Misalnya saja saat lulus SMA, aku mimpi memilih tiga pintu, dan akhirnya kumasuki pintu kedua. Ternyata dalam SPMB aku nyantol di pilihan kedua dari tiga pilihan yang kuambil. Mimpi juga punya tujuan, baik itu abstrak, jangka panjang maupun pendek. di kuliahku yang pertama itu aku bermimpi mengikat leher seekor kucing, ternyata artinya menjalin hubungan dengan seorang gadis (apa hubungannya gadis sama kucing? mungkin akan ku jelaskan di katalog simbol di halaman lain.). Lalu aku terus dihantui sosok seorang perempuan, sampai akhirnya pamanku dari Jawa Timur khusus datang menguak siapa dia, eh…sosok itu kutemui setelah aku pindah kuliah. Jadi bayangan perempuan itu mengantarku pindah kuliah atau mengabarkan bahwa aku akan pindah kuliah ya? atau apa kira-kira?
Mimpi punya tujuan yang sering tak kita pahami, sebagaimana Tuhan susah dipahami manusia. Tapi mimpi bisa mengarahkan pada tujuan besar bernama keinginan. Aku memahami konsep ‘watch your prayer’ dari kejadian kuliah di Psikologi, saat mimpi tentang perempuan mendorongku menginginkan (sadar atau tidak) sosok wanita sempurna pendamping hidup, dan yang kudapat ternyata justru kebalikannya, gila, meleset 360 derajat euy! Di situlah aku sadar bahwa Tuhan sedang menamparku sangat keras. Dia memberitahukan bahwa tak semestinya aku berharap pada apa yang tak sesuai denganku, istilahnya ‘liat-liat dulu dong siapa lu..’, Tuhan selalu memberikan sesuatu sesuai kebutuhan, bukan keinginan, meski keinginan bisa tercapai. Tapi pencapaian keinginan itu perlu proses, kedalam dan keluar. Ke dalam berarti mengolah diri, mempersiapkan diri mampu menyangga tanggung jawab atas hal yang diinginkan itu, dan keluar artinya menggapai impian/ keinginan itu sendiri. Orang miskin tak akan kaya jika setting mind-nya tidak kaya, itu kata Romy Rafael mengulang omongan Tung Desem Waringin. Lha bagaimana bisa kaya wong dia tidak punya kemampuan untuk mengelola kekayaan? masuk akal? (meniru Pak Tung, bilang “masuk akaaal…” sambil ngelus jidat).
Banyak kisah hidupku yang dipengaruhi oleh mimpi, atau dikabarkan oleh mimpi. Aku baru ngeh sekarang-sekarang ini dan buru-buru berucap syukur. Banyak hal yang bagi orang lain disayangkan tapi kusyukuri karena sudah terlihat manfaat atau kebaikan didalamnya. Banyak mimpi yang bahkan jauh di masa kecil kualami baru terjawab sekarang. Perjalanan spiritual, mental, batin, penemuan dan pengukuhan jati diri, menjalani tugas dalam kehidupan, semuanya adalah keterangan yang harus disyukuri dengan dijalankan sebaik mungkin. Jadi mimpi adalah sebuah karunia, sebuah pembelajaran, sebuah mukjizat bahkan. Mimpi bukan hanya sekedar menginginkan karena mimpi itu sendirilah yang menciptakan keinginan. Mimpi mengabarkan agar kita percaya pada keajaiban, agar selalu berbaik sangka pada-Nya, agar kita punya harapan yang lebih besar ketimbang apa yang biasanya ditemui sehari-hari (think out of the box). Kalau sudah begini, aku cuma bisa tertawa dan sekaligus takut kalau tidak mampu bersyukur. Tak peduli aku pindah kuliah dari UGM ke Mercu Buana, pernah berdarah-darah di berbagai lembaga dakwah, ayah-ibuku mau cerai, dan hal-hal buruk lainnya, yang justru kulakukan adalah bersyukur atas itu semua. Karena itu seperti perkelahian anak kecil yang menjadi bahan tertawaan setelah dewasanya. Aku masih bisa hidup sampai sekarang, bisa bekerja mengusahakan kristalisasi keringat, masih punya teman-teman yang baik, masih bisa berwisata kemana-mana (spiritual, kuliner, dll), masih punya berbagai benda (belongings) untuk sarana kehidupan, punya kekasih dan juga pernah mengalami kisah cinta yang luar biasa sampai hampir binasa, tapi itu semua adalah kenikmatan seperti makan sambal, pedes tapi asyik. Semua tak lepas dari mimpi.
Mimpi itu kehidupan, mengajarkan tentang kehidupan. Ia hidup dan selalu sadar meski didapat dalam tidur. Tapi impian terus bangun dan bahkan menghantui dengan bisikan mesra untuk pencapaiannya. Maka mimpi itu mulia, jika kita mampu menjadikan diri kita mulia dengannya. Itu yang kutemukan, mungkin orang lain akan berbeda tapi kuyakin ada pembelajaran universal di sini. Sekian dulu, mari menggapai mimpi (’tidur’)!!

Comments