Setiap Orang Berasal Dari Kesucian

KUPERAWANI ENGKAU DENGAN TULISAN

Hari ini
Setelah sekian lama menunggu hadirmu
Kudapati betapa molek dirimu di kamar ini
Pernah kuyakin engkau hadir
Dan saat ini tirai cakrawala tersibak
Tampakkan raut cantik indahmu di sela gerimis dan terik
Hingga semua mata terpana seandainya berkesempatan yang sama
Denganku, bersamamu, di sini, kita……….

Kau telah berikan harapan pada tempat ini
Aku pun telah lama berdiri di sisi ini
Untuk menungguimu dalam gelap malam dan cerah hari-hari
Tanpa sedetikpun melepasmu dari angan dan pikir sunyi
Lalu kenapa jika kutelusuri seluk-beluk dirimu dalam kenangan
Dosakah? Tabukah? Hinakah?
Namun kuakui…
Hanya dalam jiwamu yang lembut
Mampu kau hancurkan sgala angkuh dan bara
Dengan lembut tanganmu, halus swaramu, dan indah dirimu.
Semua itu kurasakan di tiap degup jantungku
Dengan ataupun tanpa ku meringkuk di pangkuan kasih itu.

(Prii – 12 April 2007 – 11:24 WIB)

03 Mei 2008
MEMOIR OF A PERSON CALLED UNSIW

Setiap titik berjalan menurut arahnya sendiri-sendiri…
Gerimis yang berbaris tipis-tipis,
sinar yang berpendar berpijar
dan air yang mengalir tanpa akhir
kecuali kau, Un…………
buatmu semua itu perjudian
siapa yang kuat kan terangkat
yang tak kuat kan terjerat
dan akan banyak kematian.
Sampai kapan permainan ini berjalan…
apa Unsiw sendirian menahan?
pertempuran tak selesai sendirian
dan semua pun heran,
ketika langit masih kemerahan
keburu hilang si kesucian
membisu dalam beku, mengharu-biru dalam sendu
menderu dalam pacu dan buru.
Sakit pun datang, mengerang meradang
Semua lantas hening
air mata menetes bening
di pipi yang terbaring…
Kesucian, oh kesucian
lama sudah kau direnggut
Sang Kusumadewi, yang hilang diri dalam sunyi
bersama angin sepoi dan hari-hari
kala itu fajar belum jua merekah
ufuk pun masih merah
dan Unsiw sudah berdarah-darah
……………………………………………………………………………………..
Cut…!!!
Tiadakah pertolongan?
Perkecualian?
Indramayu mungkin tak terlalu jauh
tapi telah basah badan oleh peluh…
sementara tiada yang terlalu mahal bagi Waktu
karena apapun kan berlalu
meski berulang bak reffrain lagu
Bermandikan cahya senja
hasrat itu menggelora
napas keras memburu
jantung berderap tak ragu
Aah….aah….aah….aah…..
Untuk apa mata bertatapan
Untuk apa bibir bertautan
Untuk apa tubuh berdekapan
Untuk apa kesucian dihilangkan…..

Siapa yang mampu bertahan?

Leave a Comment