Filosofi Adalah Kita Sendiri - Kenapa Ogah Memasuki?
Banyak orang wegah untuk menjamah daerah bernama filosofi. Enggan untuk masuk, berenang, menyelami, dan mengerti apa sebenarnya filosofi. Kita juga begitukah? Apakah filosofi itu begitu sulit? Apakah filosofi itu bahasa planet yang tak tejangkau pikiran, bikin mumet, pusing, atau bahkan bikin gila? Mendingan membicarakan sesuatu yang lugas, jelas, dan pasti-pasti saja, begitu? Well, I’m not a phylosopher, tapi setidaknya aku merasa bahwa semua yang di sekelilingku adalah filosofi, lalu kenapa aku harus beralih dari sesuatu yang tak terelakkan?
Filosofi adalah bahasa. Bahasa bersifat fungsional, jika tidak digunakan akan kehilangan arti dan terlupakan, hilang. Artinya jika kita menggunakan filosofi seperti bahasa asing selain bahasa ibu kita, kita tetap akan mengerti. Kenapa kita sering bersemangat mempelajari atau menggunakan bahasa asing yang cara pengungkapan maksudnya dan cara penataan kata-katanya berbeda dengan bahasa ibu? Sementara itu tidak demikian pada filosofi? Padahal sebagai bahasa, filosofi hanyalah cara pengungkapan yang sedikit berbeda. Sebagai contoh jika dalam bahasa Indonesia ada frase “terima kasih” maka dalam bahasa Jawa ada frase “matur nuwun”. Kata ‘terima’ jelas beda artinya dengan kata ‘matur’, sedangkan ‘kasih’ tidak sama artinya dengan ‘nuwun’. Tapi kenapa kita paham maksudnya? Sedangkan dalam filosofi ada ungkapan yang diterjemahkan menjadi sesuatu yang lain, kenapa kita tak paham? Apa kita enggan menangkap maksud seperti pada terima kasih dengan matur nuwun?
Filosofi adalah menangkap maksud dan atau mencari kesamaan sifat. Bahasa lugas yang menerangkan suatu kejadian, proses, sifat, dan hubungan menjadi bentuk lain untuk mengungkapkan pesan. Kenapa ikan di sungai menjadi berarti manusia dalam dunia, dan di saat lain ikan menjadi uang, wanita, pria, tujuan, tempat, dan segelintir arti-arti yang lain? Filosofi mencari kesamaan sifat tergantung kepada konteks kalimat dan bahasan. Sebab konteks akan menentukan makna atau nilai sebenarnya dari sesuatu. Karenanya filosofi bukanlah bahasa mutlak seperti konstanta sains. Daerah jika diperebutkan dalam peperangan misalnya, bisa berarti sebagai sesuatu yang hendak digapai. Dikuasainya suatu daerah adalah sebuah tujuan. Tujuan itu dicari, dikejar, diperjuangkan, ditangkap, direbut, atau diberi segudang kata-kata lain yang menunjukkan arti proses sama yang digunakan. Ikan dicari, dikejar, dan lain-lain. Maka daerah bisa menjadi ikan dalam kesamaan sifat hendak didapatkan. Kenapa sholat diawali takbir dan diakhiri salam? Takbir adalah mengagungkan Allah, sementara salam adalah berbagi kasih pada kiri-kanan (sekeliling). Artinya secara filosofis sholat adalah ibadah. Sedangkan ibadah itu adalah diawali dengan mengagungkan Tuhan dan diakhiri mengasihi sesama. Disimpulkan pula mengagungkan Tuhan harus ditunjukkan dengan berbuat kasih bagi sesama. Itulah filosofi yang menangkap maksud di balik sesuatu.
Filosofi adalah permainan bahasa. Sebagaimana dalam bahasa lugas dikenal singkatan, akronim, dan segudang permainan kata-kata, filosofi juga semudah permainan kata-kata. Kenapa Tembang Ilir-Ilir mengatakan “cah angon, penekna blimbing kuwi…” kenapa cah angon, bukan Pak Jendral, atau Pak Presiden? Kenapa blimbing, bukan mangga atau pisang? Kata-kata disusun sesuai maksud agar diurai maksud tersebut dengan dicari kesamaan proses dan sifatnya. Arti dari cah angon (bocah gembala) jelas beda dengan jenderal atau presiden. Tapi presiden dan bahkan siapapun bisa menjadi cah angon jika mempunyai jiwa ‘angon’. Sekali lagi, kesamaan sifat. Blimbing adalah buah berbentuk bintang bergigir lima, bukan mangga yang bulat atau pisang yang panjang. Gigir lima ditamsilkan sebagai lima sendi agama Islam, syahadat, sholat, puasa, zakat, haji. Penggambaran tadi adalah bahasa kias yang hanya bisa dilihat maknanya lewat penelaahan filosofis, bukan sesuatu yang lugas.
Filosofi adalah diri kita sendiri. Pars pro toto es totem pro parte. Yang kecil mencerminkan yang besar dan yang besar mempengaruhi yang kecil. Cara kita makan merefleksikan cara kita menanggapi masalah. Cara kita bicara menunjukkan cara kita berpikir, dan semakin rajin kita merawat apa-apa milik kita akan membuat kita makin rajin merawat bagian terkecil diri kita seperti rambut atau kuku. Ingat, merawat tak selalu berarti menjadikannya minimalis atau rapi dengan standar metroseksual.
Jadi, kita selalu hidup dalam filosofi. Bahkan filosofi ada dalam kita. Kenapa kita menolak filosofi sementara kita gandrung pada bahasa Jepang dan Jerman? (prie_mata)
cuma RE Said,
June 8, 2008 @ 10:25 pm
lebih tepatnya mungkin ginih…. “orang bukan gak suka dengan sebuah filosofi,mereka cuman gak ngerti bahasa setinggi istilah “filosofi” istilah ituh cuman dipake ama orang2 yg ngerti ajah makna n maksudnya,yah,kalo anak psikologi ama anak filsafat mungkin ngerti lah,tapi kalo orang awam pasti cape mikirnyah,hehehe…. tapi,emang gwe sepakat tuh,kepribadian kitah emang terdiri dari banyak filosofi,contohnya cara kita kentut…..husstt…filososfi kan ? hehehehe….^^