Archive forMay, 2008

Filosofi Adalah Kita Sendiri - Kenapa Ogah Memasuki?

Banyak orang wegah untuk menjamah daerah bernama filosofi. Enggan untuk masuk, berenang, menyelami, dan mengerti apa sebenarnya filosofi. Kita juga begitukah? Apakah filosofi itu begitu sulit? Apakah filosofi itu bahasa planet yang tak tejangkau pikiran, bikin mumet, pusing, atau bahkan bikin gila? Mendingan membicarakan sesuatu yang lugas, jelas, dan pasti-pasti saja, begitu? Well, I’m not a phylosopher, tapi setidaknya aku merasa bahwa semua yang di sekelilingku adalah filosofi, lalu kenapa aku harus beralih dari sesuatu yang tak terelakkan?
Filosofi adalah bahasa. Bahasa bersifat fungsional, jika tidak digunakan akan kehilangan arti dan terlupakan, hilang. Artinya jika kita menggunakan filosofi seperti bahasa asing selain bahasa ibu kita, kita tetap akan mengerti. Kenapa kita sering bersemangat mempelajari atau menggunakan bahasa asing yang cara pengungkapan maksudnya dan cara penataan kata-katanya berbeda dengan bahasa ibu? Sementara itu tidak demikian pada filosofi? Padahal sebagai bahasa, filosofi hanyalah cara pengungkapan yang sedikit berbeda. Sebagai contoh jika dalam bahasa Indonesia ada frase “terima kasih” maka dalam bahasa Jawa ada frase “matur nuwun”. Kata ‘terima’ jelas beda artinya dengan kata ‘matur’, sedangkan ‘kasih’ tidak sama artinya dengan ‘nuwun’. Tapi kenapa kita paham maksudnya? Sedangkan dalam filosofi ada ungkapan yang diterjemahkan menjadi sesuatu yang lain, kenapa kita tak paham? Apa kita enggan menangkap maksud seperti pada terima kasih dengan matur nuwun?
Filosofi adalah menangkap maksud dan atau mencari kesamaan sifat. Bahasa lugas yang menerangkan suatu kejadian, proses, sifat, dan hubungan menjadi bentuk lain untuk mengungkapkan pesan. Kenapa ikan di sungai menjadi berarti manusia dalam dunia, dan di saat lain ikan menjadi uang, wanita, pria, tujuan, tempat, dan segelintir arti-arti yang lain? Filosofi mencari kesamaan sifat tergantung kepada konteks kalimat dan bahasan. Sebab konteks akan menentukan makna atau nilai sebenarnya dari sesuatu. Karenanya filosofi bukanlah bahasa mutlak seperti konstanta sains. Daerah jika diperebutkan dalam peperangan misalnya, bisa berarti sebagai sesuatu yang hendak digapai. Dikuasainya suatu daerah adalah sebuah tujuan. Tujuan itu dicari, dikejar, diperjuangkan, ditangkap, direbut, atau diberi segudang kata-kata lain yang menunjukkan arti proses sama yang digunakan. Ikan dicari, dikejar, dan lain-lain. Maka daerah bisa menjadi ikan dalam kesamaan sifat hendak didapatkan. Kenapa sholat diawali takbir dan diakhiri salam? Takbir adalah mengagungkan Allah, sementara salam adalah berbagi kasih pada kiri-kanan (sekeliling). Artinya secara filosofis sholat adalah ibadah. Sedangkan ibadah itu adalah diawali dengan mengagungkan Tuhan dan diakhiri mengasihi sesama. Disimpulkan pula mengagungkan Tuhan harus ditunjukkan dengan berbuat kasih bagi sesama. Itulah filosofi yang menangkap maksud di balik sesuatu.
Filosofi adalah permainan bahasa. Sebagaimana dalam bahasa lugas dikenal singkatan, akronim, dan segudang permainan kata-kata, filosofi juga semudah permainan kata-kata. Kenapa Tembang Ilir-Ilir mengatakan “cah angon, penekna blimbing kuwi…” kenapa cah angon, bukan Pak Jendral, atau Pak Presiden? Kenapa blimbing, bukan mangga atau pisang? Kata-kata disusun sesuai maksud agar diurai maksud tersebut dengan dicari kesamaan proses dan sifatnya. Arti dari cah angon (bocah gembala) jelas beda dengan jenderal atau presiden. Tapi presiden dan bahkan siapapun bisa menjadi cah angon jika mempunyai jiwa ‘angon’. Sekali lagi, kesamaan sifat. Blimbing adalah buah berbentuk bintang bergigir lima, bukan mangga yang bulat atau pisang yang panjang. Gigir lima ditamsilkan sebagai lima sendi agama Islam, syahadat, sholat, puasa, zakat, haji. Penggambaran tadi adalah bahasa kias yang hanya bisa dilihat maknanya lewat penelaahan filosofis, bukan sesuatu yang lugas.
Filosofi adalah diri kita sendiri. Pars pro toto es totem pro parte. Yang kecil mencerminkan yang besar dan yang besar mempengaruhi yang kecil. Cara kita makan merefleksikan cara kita menanggapi masalah. Cara kita bicara menunjukkan cara kita berpikir, dan semakin rajin kita merawat apa-apa milik kita akan membuat kita makin rajin merawat bagian terkecil diri kita seperti rambut atau kuku. Ingat, merawat tak selalu berarti menjadikannya minimalis atau rapi dengan standar metroseksual.
Jadi, kita selalu hidup dalam filosofi. Bahkan filosofi ada dalam kita. Kenapa kita menolak filosofi sementara kita gandrung pada bahasa Jepang dan Jerman? (prie_mata)

Comments (1)

Kita Tak Bisa Selalu Berpura-pura

Tidak setiap saat kita hidup dalam derai kebahagiaan. Kadang ada berdamai, kadang ada bertikai. Wajah yang terpasang inipun selalu berubah karenanya. Namun sayang, kebanyakan wajah yang kita tunjukkan adalah topeng-topeng yang silih berganti. Kadang tebal, kadang besar, kadang seram, kadang lucu, namun semuanya sama-sama tidak sejati. Kita menutupi diri dan raut dengan seribu alasan yang kita bikin sendiri. Sebagaimana kita menciptakan sendiri musuh-musuh yang tak nyata. Apakah topeng itu untuk memberikan kebaikan pada orang lain, atau diri sendiri? Kita mungkin beralasan tak ingin orang lain melihat kesedihan kita, takut dengan kemurungan kita, atau sekedar ingin supaya selalu tampak menarik. Namun itu semua salah, karena itu bukan yang sejati. Adakalanya kita perlu bersendiri. Bersedih adalah sifat dasar manusia yang lemah. Jika kita takut dianggap lemah karena akan diinjak-injak, kenapa sebaliknya kita ingin dianggap kuat? Bahkan kita ingin kuat mungkin juga untuk menginjak sesiapa yang mencoba melanggar daerah kita. Begitukah?
Kita tak bisa selalu berpura-pura. Orang lain akan tahu bahwa kita memakai topeng, kendati mereka tak tahu wajah apa yang kita sembunyikan. Mereka jua tak tahu kenapa wajah itu ada dan tercipta. Namun orang lain tahu, dan kita ketakutan dengan itu. Kita menciptakan musuh-musuh kita sendiri di tempat yang tak seharusnya. Bahkan kita menjadikan diri kita sendiri musuh. Sebab kita menciptakan musuh, hantu, setan, dan iblis dalam hati kita, dalam diri, dan pikiran.
Jujurlah, kita perlu merenung, kita perlu istirahat, kita perlu berhenti sejenak dari apapun. Mungkin dari keseharian, dari persoalan yang dihadapi, peperangan yang dipergeluti, perjuangan menggapai cita harapan, atau bahkan dari waktu. Kita perlu berhenti dari waktu, bisakah? Waktu terus berjalan dan kita terhanyut di dalamnya. Kecuali kita bisa naik ke dimensi di luar pengaruh ruang dan waktu. Di situlah kita bisa melihat segala hal dari awal sampai akhir. Kita bisa menilai perjalanan hidup kita sendiri. Apakah kita akan menghitung seberapa hasilnya, ataukah kita akan menekankan penghargaan pada prosesnya. Itu semua akan dapat kita nilai bila kita menghentikan waktu sejenak. Mungkin menganggapnya tak pernah ada, atau melesat bebaskan unsur murni diri ini dari kesatuan unsur-unsur yang membentuk identitas diri ini. Don’t be proud to be strong, don’t be afraid to be weak. Just return to yourself, return to innocence. (Prie_mata)

Comments

Setiap Orang Berasal Dari Kesucian

KUPERAWANI ENGKAU DENGAN TULISAN

Hari ini
Setelah sekian lama menunggu hadirmu
Kudapati betapa molek dirimu di kamar ini
Pernah kuyakin engkau hadir
Dan saat ini tirai cakrawala tersibak
Tampakkan raut cantik indahmu di sela gerimis dan terik
Hingga semua mata terpana seandainya berkesempatan yang sama
Denganku, bersamamu, di sini, kita……….

Kau telah berikan harapan pada tempat ini
Aku pun telah lama berdiri di sisi ini
Untuk menungguimu dalam gelap malam dan cerah hari-hari
Tanpa sedetikpun melepasmu dari angan dan pikir sunyi
Lalu kenapa jika kutelusuri seluk-beluk dirimu dalam kenangan
Dosakah? Tabukah? Hinakah?
Namun kuakui…
Hanya dalam jiwamu yang lembut
Mampu kau hancurkan sgala angkuh dan bara
Dengan lembut tanganmu, halus swaramu, dan indah dirimu.
Semua itu kurasakan di tiap degup jantungku
Dengan ataupun tanpa ku meringkuk di pangkuan kasih itu.

(Prii – 12 April 2007 – 11:24 WIB)

03 Mei 2008
MEMOIR OF A PERSON CALLED UNSIW

Setiap titik berjalan menurut arahnya sendiri-sendiri…
Gerimis yang berbaris tipis-tipis,
sinar yang berpendar berpijar
dan air yang mengalir tanpa akhir
kecuali kau, Un…………
buatmu semua itu perjudian
siapa yang kuat kan terangkat
yang tak kuat kan terjerat
dan akan banyak kematian.
Sampai kapan permainan ini berjalan…
apa Unsiw sendirian menahan?
pertempuran tak selesai sendirian
dan semua pun heran,
ketika langit masih kemerahan
keburu hilang si kesucian
membisu dalam beku, mengharu-biru dalam sendu
menderu dalam pacu dan buru.
Sakit pun datang, mengerang meradang
Semua lantas hening
air mata menetes bening
di pipi yang terbaring…
Kesucian, oh kesucian
lama sudah kau direnggut
Sang Kusumadewi, yang hilang diri dalam sunyi
bersama angin sepoi dan hari-hari
kala itu fajar belum jua merekah
ufuk pun masih merah
dan Unsiw sudah berdarah-darah
……………………………………………………………………………………..
Cut…!!!
Tiadakah pertolongan?
Perkecualian?
Indramayu mungkin tak terlalu jauh
tapi telah basah badan oleh peluh…
sementara tiada yang terlalu mahal bagi Waktu
karena apapun kan berlalu
meski berulang bak reffrain lagu
Bermandikan cahya senja
hasrat itu menggelora
napas keras memburu
jantung berderap tak ragu
Aah….aah….aah….aah…..
Untuk apa mata bertatapan
Untuk apa bibir bertautan
Untuk apa tubuh berdekapan
Untuk apa kesucian dihilangkan…..

Siapa yang mampu bertahan?

Comments