Puisi - Mengingat Batu Pualam Putih
[1] KEKASIH YANG TERGANTIKAN
Pagi menjelang
jika bayangmu mulai sirna
kutitipkan semua harapan ini padanya.
Pagi menjelang
jika kau tak lagi datang
izinkan ku tulis cerita panjang
yang bisa dibaca setiap orang
[2] SELEMBAR SURAT DARI INDRAMAYU
Pada ketika, kau pandangi laut luas
bayangkan Borneo dan Sumatera di seberang sana
lembaran itu sampai padaku
berkata,
Aku telah mati untukmu
dan makna-makna yang kita bahas dahulu
biarlah terkubur bersamaku.
Mandikan aku dengan jiwa kasihmu
sholatkan aku dengan tulus ikhlasmu
dan kuburkanlah aku dengan waktu
Kau memang bukan dari Edoras, atau Lothlorien
cuma sedikit belok kiri dari Lohbener
lalu kenapa?
[3] 17 APRIL KE -21
Aku kaget, tau?
kenapa kau muncul tiba-tiba
di tanggal 22
ketika aku harus konsentrasi kerja
mengawasimu
empat jam lamanya…..
[4] PADAHAL AKU SUDAH HAMPIR LUPA
Bibir merah indah yang tersenyum merekah di wajah yang cerah
kini tiada membakar gairah ataupun amarah
cuma bikin gerah…
[5] BATU NISAN ITU TEGAK BUKAN UNTUKMU YANG HILANG, TAPI UNTUKKU YANG MASIH ADA
Nisan pualam putih
kutegakkan
kala senja menarikan salsa ilalang
dengan lagu deru desau
Agaknya, sesuatu yang kukubur itu sudah membumi
dan justru tumbuh menjadi pohon yang berakar kuat
cinta itu
kini memantang senja
dan fajar
arien Said,
April 26, 2008 @ 5:52 am
weleh…
Prie_mata Said,
May 20, 2008 @ 12:25 am
ada dua macam bahasa, bahasa tutur dan bahasa tulis. Tapi ada satu lagi…bahasa diam!
weleh..weleh..weleh..
cuma RE Said,
June 8, 2008 @ 10:30 pm
pagie menjelang sepucuk surat menghampirikuw …..dut..dut..baduut…wisudaaaaaa ! bareng yah… o-o