Antara Ongky, Roy, dan Hans — Kita Tak Pernah Tahu
Kita tak pernah tahu…..
………………………………………………………………..
Jauh berjalan melewati puing hati dan jiwa
yang berserak diantara gejolak dunia
diri kita mulai hancur dalam tanya mengapa
kita semua
tanpa sadar dibantai
Kita tak mengerti arti hidup yang sejati
kita terus mencari tapi tak temukan pasti
penantian ini hanya membuat
kita semakin jauh dari tempat
dimana kita kan dikembalikan pada suatu saat
Kita masing-masing hanyalah korban
dari tragedi peperangan besar bernama kehidupan
…………………o………nurani terserak………………………………….
Kita tak pernah tahu kenapa kita yang dipilih untuk menjadi sesuatu karena dari awalnya kita juga tak pernah tahu akan menjadi apa. Kita tak tahu setiap kali akan berubah menjadi lebih baik atau lebih buruk, meski kita tau bahwa untuk menjadi lebih baik kita harus berubah. so, the question is, why me? kenapa aku?
bertetes-tetes darah tak mungkin dicurahkan untuk kesia-siaan, beribu nyawa melayang ada tujuannya, dan demikian ribuan tubuh-tubuh indah yang dipoles dan diekspose demi kesenangan segelintir orang, namun kita tak tahu jawaban sebenarnya dari pertanyaan mendasarnya, mengapa?
untuk itulah kita selalu mencari. kita tak mengerti arti hidup yang sejati, kita terus mencari tapi tak temukan kata pasti. akhirnya kita akan berhenti mencari, menyerah, padahal permainan tidak akan selesai jika kita kalah, permainan baru akan selesai jika kita berhenti.
Kita berjalan, jatuh-bangun, berdiri dan merangkak, berjalan dan berlari. Kita tidur, kita makan, kita bercinta, dan kita sadar bahwa itu semua tak akan berlangsung selamanya. Terus kenapa? apa sebenarnya yang tengah terjadi? kenapa roda waktu berputar, kenapa nasib-nasib dan cerita-cerita bergulir? kenapa tiap hari bayi mesti lahir dan orang-orang mesti mati?
Lalu kenapa aku bertanya.
Kutenggak isi gelas itu, lalu kuraih tangan gadis yang melingkar di dadaku. Aku berbalik, dan wajah itu, mata itu, mendadak sayu menunduk lesu. Dalam sekejab, bibir kami bertautan. Satu per satu kancing bajunya kulepas dan ia biarkan jari-jemariku menelusuri setiap lekuk tubuhnya. Ia mendesah pelan ketika kurebahkan tubuhnya di atas kasur biru, menyadari bahwa tiada pertahanan yang ia siapkan untuk perlakuanku padanya. Kubiarkan pula ia menelusuri bidang dadaku dan kemudian memelukku erat bagai ular membelit mangsanya.
Kemana kularikan napas memburu itu? kemana jatuh tetes keringat itu?
Dalam sekejab aku terduduk dalam yoga, tak kuasa menahan semua amarah dan dendam membara.
Dalam sekejab, aku tak tahu butir-butir tasbih yang dulu temaniku menggapai makna langit kini tak berarti. tetes peluh dan airmata seakan tak lagi berharga, bahkan tubuhku yang telah kuserahkan padanya lama. Hanya darah yang kunanti mampu berikan jawaban atas gundah jiwa ini. Kubakar dupa untuk mengalihkan diri dari membakar sekeliling dengan amarah atas kegelapan yang mengurung jiwa.
Aku tak pernah tahu…………..kapan aku berhenti lari.
Jika kemudian tiada lagi yang menutupi seluruh kulitnya, keindahan tubuh itu tak lagi menggugahku kecuali untuk berlari dari semuanya. Aroma tubuh ini, yang tersamar oleh sari bunga lavender, terlalu dalam mengakar dalam pikiranku hingga seakan aku hafal kemana saja biasanya bibir dan jari-jari itu bergerak leluasa, menghapuskan setiap titik kesucian di tubuh yang sejak lama tidak tak ternoda ini.
Namaku bukan Roy
dan aku telah temukan jalanku.