Aku Bosan

Bangun tidur ada rasa yang tidak enak. apakah katup hidungku membesar lagi sehingga aku kekurangan oksigen saat tidur? capek rasanya, setiap hari menjadi rutinitas yang membosankan. makan, tidur, kerja, latihan, maen, dan jalan-jalan dengan si nyonya.

Situasi flatku makin tak kondusif, dengan tetangga sebelah yang baca qur’an keras-keras seperti hendak mengusir sesuatu, padahal suaranya jelek banget. telingaku makin pekak dengan suara musik rock yang disetel tak tahu suasana, pas waktu sholat maghrib sampai isya, lalu jam 10 malam sampai 00.30 saat orang mulai mau tidur. sekali dua kali peringatan berhasil, namun lama-lama malah membangkang dengan argumen masing-masing. inilah perlunya aku punya rumah sendiri, atau menghancurkan orang-orag yang mengganggu itu.

Comments

Aku, Wanita, dan Seekor Rakun

Makhluk itu tertidur di pangkuanku. Ia meringkuk, dan ekor berbulunya melingkar menutupi tubuhnya. Dengkurannya samar-samar terdengar, seperti desah napasku yang menggesek katup hidungku. Pelan, berirama, suara dari udara melewati polyp yang tumbuh di sana. Kuelus pelan kepalanya, ia sedikit menggeliat meregangkan kedua kaki depannya. Kaki-kaki depan itu lebih mirip tangan bagiku, sebab ia sering memegang segala sesuatu dengan keduanya, bukannya langsung menggunakan mulutnya. Seperti namanya yang diberikan oleh orang-orang Indian Cherokee, Ar-ah kon’en, yang berarti ‘memegang sesuatu’, kemudian imigran Eropa menyebutnya, Raccoon. Wajahnya dihiasi dengan bulu-bulu berwarna hitam di seputar matanya, persis seperti mataku, mata kelelahan, mata kurang tidur, dan terutama karena seringnya aku menangis.
Tangisan itu muncul sejak aku lahir, namun baru melegenda sejak empat tahun yang lalu. Mata, wajah, seluruh ekspresi dan sorot mata ini baru mulai berubah sejak saat itu. Saat ketika aku menyadari bahwa seluruh luka yang kudapati menuntunku pada sebuah luka yang lebih besar. Perjalanan yang menuntunku pada suatu keputusasaan, dan ketika semuanya terbuka lebar, terkuaklah seluruh busuk maupun getirnya. Aku menangis, aku sadar aku lemah, aku sadar aku kurang beruntung, dan ketika aku mencoba marah pada dia yang menunjukkan itu semua, aku justru mendapat hadiah istimewa berupa sebuah batu di dalam kepalaku. Fisik, metafisik, mental, semua hancur. Keceriaan yang selama itu dibangun runtuh, berganti menjadi topeng teramat tebal. Ingin aku memakai topeng sungguhan waktu itu, karena merasa tak nyaman dengan ekspresi mukaku sendiri yang serba tidak tulus.
Seekor rakun, dia temanku satu-satunya. Dia bagian dari diriku, yang paling mengerti ketika aku bersedih atau beraksi kegirangan ketika mengiringi aku senang. Dia memanja dengan menggesek-gesekkan badan berbulunya di kakiku, rebutan makanan denganku, kadang mengotori gelasku dengan kaki depannya yang usil, atau mengambil alih bantalku. Kalau dia marah, ngambek, dia mengeluarkan suara serak dan suara mendecit yang keras, lalu berlari mengitariku macam Bruce Lee hendak menyerang, tapi lalu lari. Kalau sedang sedih, dia tidur seharian, tak mau menyentuh makanan atau minuman, menutup muka atau seluruh tubuhnya dengan selimut, dan sama sekali tak mau disentuh. Ia kadang main seharian, lalu tidur malamnya, atau pergi semalaman dan tidur pagi harinya. Ia sering menemaniku saat membaca, menulis, mengetik, atau main game. Ia naik di punggungku, duduk di pundakku, atau kadang bertengger di kepalaku. Kalau aku duduk bersila, ia ikut duduk di pangkuanku, lalu meringkuk dan melingkarkan ekornya menutup tubuhnya. Aku suka mengelusnya, memeluknya, menciuminya, dan ia juga suka dielus. Ia menikmati setiap kelembutan dan kehangatan yang kuberikan. Kadang, kalau ia merasa bersalah atau mengira sudah membuat aku sedih, ia menggesek-gesekkan badannya ke kakiku, atau membawakan pulpen dan menggigit buku untuk ditaruh di dekatku. Mungkin ia ingin aku menulis, untuk mencurahkan semuanya. Tapi bila kumarahi, ia meringkuk di pojok kamar atau di keranjang tempat tidurnya, lalu bersembunyi di balik selimut. Kalau aku sedang sedih dan menangis, ia menempelkan badannya, menemaniku dan menungguiku hingga pagi. Lalu di pagi harinya, ia meloncat-loncat dan berlari-lari mengitariku seakan mengajakku bergembira dan melupakan kesedihanku.
Kesedihan itu muncul lagi, seiring kegilaanku beberapa malam sebelumnya. Ketika sebuah perbenturan perasaan dan keinginan memecahkan amarah sekaligus rasa sakit, aku tertawa, di seling tangis berderai airmata. Gilakah aku, tertawa diseling menangis? Tidak, aku sedih. Aku sedih, sebab untuk menangis maupun tertawa pun aku tak bisa lepas. Selepas aku dari bayang-bayang wanita yang selalu menggangguku. Wanitaku sendiri tak mau melepaskanku, bukan melepasku untuk bersama wanita lain, tapi melepasku dari kurungan kepemilikannya, sehingga aku tak bisa kembali pada diriku sendiri.
…………………………….
Kau harus mengerti apa artinya cinta
Bukan satu alasan kau harus miliki aku..

……………………………..
(Tak Selamanya, by: WAYANG)
Aku mungkin gila, tapi yang jelas aku telah bersalah pada diriku sendiri, karena aku telah mengingkari kemanusiaanku. Selama ini aku berusaha untuk menjadi tegar dan kuat dengan mengabaikan segala benturan dan rasa sakit yang kuterima. Berusaha mensyukuri dan menikmati segala nikmat yang ada meski sedikit, meski tak sesuai dengan keinginan dan harapan awalku, dan meski itu membawa pada rasa sakit yang lain, dan atau membawa pada dosa dan mengotori kesucian jiwaku. Aku sadar bahwa sebagai manusia aku harus bersikap layaknya manusia, punya keinginan, harapan, dan semangat untuk menggapai itu semua. Tapi kenapa selama ini aku melaksanakan apa yang diajarkan sebagai bukan manusia? Apakah aku lantas ingin membunuh kemanusiaanku dengan menanggalkan semua sifat kemanusiaan itu? Nyatanya aku masih bisa sedih, aku bisa iri atau ingin seperti orang lain. Sementara aku merasa diriku sudah tak mampu menjadi seperti orang lain.
……………………………………………..
Pesonaku tak mampu dapatkan yang kumau
Untuk mencinta itu,
Dalam hati ku bertanya sampai kapan ku kan bertahan.
(Rasa Hati, by: REVEL)
Suatu sore, langkahku tertuju ke sebuah minimarket di kotaku. Aku melihat suatu stereotype yang lama sudah mengganggu hatiku. Entah kenapa, ketika teman-temanku menjuluki aku sebagai penderita Lolitta Complex, aku tidak merasa terganggu. Aku mungkin malu, tapi aku merasa bahwa aku memang menyukai stereotype seperti yang tergambar di sana. Seorang gadis remaja dengan kaos putih dan celana pendek hitam. Rambutnya lurus menyentuh punggungnya, dengan poni menghiasi wajah yang masih belum mengenal kejamnya dunia. Tubuhnya kecil, tidak langsing namun tidak terlalu berlekuk seperti idealisme para pria pecinta ‘gitar spanyol’. Mungkin ukuran bra-nya cuma 32, dan wajahnya juga tidak terlalu manis atau cantik. Wajah khas anak remaja yang masih polos itu, sangat berbeda dengan wajah yang penuh kepalsuan atau wajah penuh harapan yang cemas tak keturutan, atau wajah egois, ambisius, dan atau licik. Tidak, aku tak melihat semua kejelekan itu. Aku hanya melihat satu rona murung di mukanya, seakan sedikit terburu waktu, atau sedang dinanti sesuatu. Aku berdiri di belakangnya setelah antrean menuju kasir itu berubah. Aku sempat berpikir dan berharap, seandainya saja aku bisa memeluknya dari belakang, atau mencium pipinya, bila itu sampai ku diberi kesempatan, aku tak ingin mengotori dirinya dengan segala kekejaman dunia yang sudah pernah aku reguk sebelumnya. Cukuplah ia mengenal romantisme saja dariku. Aku juga tak ingin mengenalkannya pada dunia erotisme, suatu kesalahan yang dibawa wanitaku saat ini diawal hubungan kami. Aku tidak menginginkan lekuk tubuhnya, tapi semua yang ia miliki mengajakku pada sebuah zona rasa yang dipenuhi warna-warni indah. Aku bahkan mungkin tak perlu menyentuhnya jika ia tak mau. Aku bisa mencintainya dari kejauhan, aku bisa berbahagia dengan melihatnya berbahagia, asal ia mengenalku sebagai orang yang mengasihinya dengan kebaikan, bukan mengacuhkanku atau memandangku sebelah mata. Aku hanya inginkan perhatiannya. Aku terpana dan tersentuh dengan kepolosan alaminya, keluguannya, bukan kepalsuan karena ia tidak atau belum miliki semua itu.
Bagaimana dengan wanitaku saat ini yang tak peduli dengan apapun asalkan bisa memiliki aku? Ia selalu berdoa dan berharap semoga bisa menjadi wanita yang kusenangi dan kuterima, kucintai sepenuh hati. Sementara aku telah menyerah dengan upaya menjadikannya sesuatu yang lain. Bukan karena ia telah menegaskan bahwa ia bukanlah orang lain melainkan dirinya sendiri, tetapi karena aku juga telah melihatnya sebagai suatu sosok utuh yang sudah seperti itu jadinya. Aku bukannya tak percaya pada perubahan yang mungkin akan terjadi, tapi aku lebih memilih untuk berusaha menerima apapun yang ada sebagaimana aku menerima berapa jumlah rezeki yang kudapatkan saat ini, tak perlu iri dengan orang lain. Tapi, kenyataannya…aku merindukan sosok polos yang banyak kelihatan di mana-mana itu. Aku, penderita Lolitta Complex yang tak mau mencoba memenuhi hasratku. Bukan erotisme, bukan kepemilikan, bahkan bukan cinta yang aku sekarang ucapkan untuk kuinginkan. Tapi kasih dan sayang. Sudah waktunya aku berbagi kasih, memberi kasih dengan setulus hati, bukan berusaha memberi ataupun berusaha mengikhlaskan, karena semua itu kepalsuan. Aku ingin lepas dari topeng ini, aku ingin benar-benar sepenuh hati menyayangi, dan mungkin mencintai jika nanti aku sudah tahu apa itu cinta.
Rakun, dialah ikon kesedihanku. Suatu subjek yang menerangkan lukisan jiwaku yang terbentuk dari sejarah dan memori. Aku memang belum bisa sepenuhnya melepaskan diri dari semua hal yang mengajakku berkelana. Aku belum bisa menenangkan jiwaku sepenuhnya sekaligus membuat si rakun berbahagia, karena masih ada kebutuhan, hasrat, dan suatu gejolak yang ingin menghisap seluruh rasa. Hasrat akan kesucian, kepolosan, dan penerimaan tulus dan resiprokal dari diriku memang belum bisa kulebur. Namun Si Rakun sudah cukup mendapatkan kasih dari seorang ‘ibu’ yang mau menerimanya, yaitu kekasihku. Siapapun sebenarnya bisa menerima Si Rakun sebagai anaknya, anak dari hasil hubungan batin, bukan hubungan fisik, sebab menerimanya berarti menerima diriku. Sayangnya, menerima diri wujud kasarku lebih mudah dari menerima jiwaku dan seluruh turunan dari jiwa itu. Sebab tubuh ini bisa diraba, dipeluk, dirasakan kehangatannya, dinikmati secara visual auditori maupun kinestetik. Si Rakun, bukan sekedar ikon kesedihan, namun ia adalah bagian diriku yang selalu mencoba mengerti dan menjaga keseimbangan perasaan, mengajak bergembira saat semuanya tak mampu bergembira, cuek, usil, lucu, perhatian, manja, bersemangat, mandiri, pede, kadang sensi, aneh-aneh, dan juga misterius.
Gadis remaja, Rakun, atau tidak semuanya?

(dan ketika menyebut asma Allah, aku menangis berjam-jam lamanya…)

Comments

The Legend of Ogodar

Cerita berawal di sebuah negeri bernama Ogodar…….

Alundra, terlahir sebagai anak seorang pandai besi di sebuah desa terpencil. Ia sering bertemu dengan para ksatria maupun pemburu pelanggan ayahnya yang kemudian mengajarinya cara menilai senjata yang bagus dan cara memainkannya. Pada usia delapan tahun, ayahnya direkomendasikan menjadi pandai besi istana untuk membuat senjata-senjata militer kerajaan. Ia pun ikut ke istana dan selama tinggal di sana ia diam-diam belajar ilmu pedang pada seorang pangeran putra selir raja. Sayangnya saat umurnya 12 tahun, kerajaan itu diserang kerajaan tetangga. Ayahnya tewas dalam penyerbuan dan Alundra melarikan diri ke luar istana. Ia kemudian tinggal di sebuah desa dan membuka bengkel pandai besi di sana. Karena alat-alat maupun senjata buatannya bagus, ia cepat dikenal terutama oleh kalangan para pendekar-petualang, tentara bayaran, hingga beberapa prajurit dari kerajaan-kerajaan tetangga.

Alundra memiliki nasib buruk dalam percintaan. Setiap wanita yang dekat dengannya selalu meninggal dunia sampai dia dijuluki sebagai pembawa kematian. Dari sanalah kemudian tak ada perempuan yang mau dekat dengannya. Pada suatu saat dia bertemu dengan seorang pendekar yang luka parah. Alundra merawatnya hingga sembuh dan memperbaiki zirah, perisai, maupun pedangnya. Alundra diam-diam sering memainkan pedang si pendekar di luar rumah. Mulanya ia hanya ingin memeriksa apakah sudah bagus atau tidak, namun lama-lama ia merasa nyaman dengan pedang itu. Sang pendekar ternyata juga memperhatikannya, karena takjub melihat jurus-jurus yang dipraktekkan Alundra, ia memutuskan untuk mengajari pemuda itu ilmu pedang. Sejak itulah ia belajar bagaimana bertarung dengan pedang.

Kau dinaungi oleh Bintang Kegelapan. Siapapun yang mencintaimu akan mati jika dekat denganmu…”

Pada umur 16 tahun, Alundra memulai petualangannya. ia hidup mengembara sebagai tukang pande besi keliling yang menawarkan jasa memperbaiki senjata, busur panah, tapal kuda, memperbaiki kereta, dan menjual alat-alat pertanian. Suatu ketika ia tersesat dan bertemu seorang pertapa. Ia membukakan semua rahasia kehidupan Alundra. Katanya, ia lahir dinaungi bintang kegelapan. Artinya dia akan membawa kematian banyak orang, dimulai dari orang tuanya sendiri, ibunya saat melahirkannya dan ayahnya saat ia remaja. Kemudian ia akan banyak mendapat simpati dari orang-orang yang justru akan mati bila berada di dekatnya. Alundra yang putus asa akhirnya diangkat menjadi murid si pertapa. Pertapa itu menyempurnakan ilmu pedangnya dan membekalinya dengan ilmu-ilmu sihir. Ia berpesan sebelum Alundra pergi, bahwa meski ia membawa dewa kematian, bukan berarti ia tak bisa berbuat baik.

Keadaan tanah Ogodar saat itu tidak aman. Kerajaan saling berperang, perampok dimana-mana, penduduk hidup seperti semut yang berlarian kesana-kemari. Suatu hari Alundra tiba di sebuah hutan yang dihuni perampok. Ia berhasil membunuh separo dari perampok itu dan mengalahkan pemimpinnya. Akhirnya ia menjadi pemimpin kawanan perampok itu dan dikenal sebagai “Hantu dari Hutan Hiral”. Dalam, menjadi perampok, Alundra mempunyai cara unik, ia selalu mencegat rombongan yang lewat, menawarkan dengan sopan untuk menyerahkan barang-barang berharga dan membiarkan semuanya pergi dengan selamat. Jika mereka melawan, ia menantang satu orang yang paling hebat di rombongan itu dan bertaruh, jika menang maka akan mendapatkan semua hartanya. Jika rombongan itu semuanya melawan, barulah anak buah Alundra turun menyerbu. ‘Perampok Sopan’ tak terkalahkan ini akhirnya membentuk sebuah desa tersendiri dengan menerima para penduduk yang menjadi korban perang. Akhirnya dari kawanan perampok yang tadinya merampok karena lapar ini berubah menjadi sebuah kota kecil yang mandiri. Mereka tak lagi hidup merampok, namun hanya meminta bayaran pada orang yang lewat sebagai pajak.

Aku tidak takut! Sekarang di sini hanya akan ada aku atau kalian yang mati…ayo maju!

Kota ini mulai berkembang menjadi sebuah negara dengan Alundra sebagai rajanya. Akhirnya empat kerajaan yang merasa terusik dengan kemunculan negara baru ini menyerang serentak. Di sanalah sejarah barunya dimulai. Kota kecil itu hancur dan kebanyakan penduduknya tewas, namun Alundra dengan gagah berani bertempur selama empat hari empat malam dan membunuh ribuan prajurit penyerang dan puluhan jenderalnya. Dengan ini tiga kerajaan mundur dengan rasa malu. Berita kehebatan ini didengar oleh Pangeran Carpadax, seorang penguasa dari kerajaan yang cukup besar di daerah utara. Akhirnya Alundra setuju bergabung dengan pasukan Kerajaan Rortae di daerah utara.

Dengan Alundra diantara pasukan, kerajaan Rortae berhasil menaklukkan beberapa kerajaan tetangganya. Kerajaan-kerajaan kecil lainnya bertekuk lutut dan memilih takluk daripada dihancurkan. Akhirnya tanah Ogodar bersatu menjadi sebuah bangsa besar yang disebut Anato. Namun tak lama, datanglah serangan dari daerah di sebelah utara negeri Ogodar, yaitu Bangsa Karbaek. Jumlah mereka sangat banyak. Beberapa pertempuran berhasil mereka menangkan, beberapa kota berhasil direbut. Hanya pertempuran yang disana ada Alundra sajalah pasukan Anato selalu menang. Serangan Bangsa Karbaek berhasil merebut ibukota Rortae, namun mereka terhenti di daerah tenggara karena terhalang gunung, di daerah tengah karena ada Hutan Hiral, dan di barat karena ada sungai yang berbatasaan dengan Kutan Kabut diseberangnya. Di Gunung Ebubu sebelah timur, tinggal sekutu Anato yang dikenal sebagai prajurit yang ganas, klan Krhao Mak. Mereka gesit dan lincah bertarung di medan tidak rata khas pegunungan sehingga mampu menghentikan gerak laju pasukan Karbaek. Sementara di hutan Hiral, Alundra menata pasukannya sebagai pasukan gerilya dan membuat jebakan-jebakan sehingga mengakibatkan siapa masuk hutan akan mati. Lagipula pepohonan di hutan itu besar-besar sehingga sulit untuk ditebangi atau dibakar. Lain halnya dengan Hutan Kabut di seberang Sungai Takdir, ada misteri yang tak pernah terungkap, yang jelas siapa masuk hutan itu takkan pernah kembali.

Dengan kondisi alam yang menguntungkan itu maka Pangeran Carpadax memulai peperangan lapangan untuk merebut kembali daerah-daerahnya secara bertahap. Keberhasilannya yang disokong Alundra dalam tiap peperangan ternyata justru menimbulkan keresahan tersendiri. Para prajurit lebih mengidolakan jenderalnya yaitu Alundra karena kegagahannya dalam pertempuran. Bahkan mulai muncul desas-desus bahwa Alundra akan diangkat rakyat menggantikan Carpadax. Selain itu ada alasan khusus yaitu Putri Estirchya yang menjadi calon permaisurinya dikabarkan jatuh hati kepada jenderal tersebut. Alundra juga tahu hal itu, tapi ia berusaha menjauh dari Sang Puteri karena ia ingat akan kutukan Bintang bahwa siapa yang mencintainya atau dekat akan mati karenanya.

Akhirnya negeri utara berhasil direbut. Pangeran Carpadax kemudian memaksa ayahnya mundur dari tahta dan lalu mengangkat dirinya sebagai raja. Kemudian ia memerintahkan pembangunan tembok pertahanan daerah utara, dan memerintahkan Alundra membentuk pasukan khusus di wilayah selatan yang jauh dari ibukota. Hal itu dilakukannya agar dia mempunyai kekuasaan mutlak dan menjauhkan permaisurinya dari bayang-banyang jenderalnya tersebut.

Dengan tugasnya membentuk pasukan khusus, Alundra menyingkir ke daerah barat daya, Ximeola. Di sana ia melatih pasukan khusus dengan ilmu pedang untuk menghadapi serangan infanteri musuh. Sementara Raja Carpadax dengan bantuan klan Krhao Mak membentuk pasukan khusus yang dilatih untuk menghadapi kavaleri musuh, menyusup, dan membunuh secara cepat. Tujuannya selain untuk membantu pasukan Alundra, di secara rahasia juga bisa menjadi anti bagi pasukan pedang tersebut. Carpadax hidup dalam ketakutan dan bayang-bayang pemberontakan Alundra. Pada suatu hari ia terkaget mendengar kabar bahwa ternyata permaisurinya, Estirchya sering mengunjungi Ximeola. Memang sebenrnya telah terjalin hubungan batin antara Alundra dan Sang Permaisuri. Meskipun awalnya dia menolak, dia hanya manusia biasa yang punya kebutuhan untuk dicintai. Akhirnya cinta terlarang itu diketahui oleh raja, dan raja menghukum mati permaisurinya. Alundra pun dijatuhi hukuman secara tidak langsung, sebab ia masih dibutuhkan. Ia dan pasukan khususnya dipindahtugaskan ke garis depan, di sebelah luar tembok pertahanan. Alundra yang lagi-lagi menyesali nasibnya menjadi lebih kejam terhadap pasukan musuh, karena saat itu yang dia inginkan adalah mati terhormat untuk menebus kesalahannya dan mengakhiri semua malapetaka. Namun justru musuh makin gentar dan mundur.

Setahun setelahnya, Bangsa Anato membalik keadaan. Mereka menyerang Bangsa Karbaek dan berhasil menguasai tanah utara. Bangsa besar itupun takluk dan sisanya melarikan diri keluar wilayah. Carpadax masih belum puas, ia sengaja merencanakan untuk menjebak dan memfitnah Alundra agar dapat dihukum sebagai pemberontak. Namun sebelum konspirasi itu dijalankan, Alundra terlebih dulu mengundurkan diri dari kerajaan dan pergi mengembara ke daerah barat. Masih tersiksa dengan ketakutannya, Carpadax membubarkan satuan pasukan khusus bentukan Alundra dan secara rahasia melenyapkan mereka agar tak menjadi bibit pemberontakan. Bukan hanya itu, semua orang yang pernah dekat dengan mantan jenderal itupun disingkirkan dan dibunuh. Tindakan gila ini sempat diusut, namun konspirasi politik membuatnya tetap aman. Akhirnya hal ini membuat beberapa orang mulai tak senang dan khawatir akan dijadikan korban berikutnya. Maka dari situ mulailah terjadi gerakan bawah tanah yang bertujuan menggulingkan kekuasaan sang raja. Akhirnya pemberontakan benar-benar terjadi. Kerajaan terpecah menjadi dua wilayah besar, utara dan selatan yang dibatasi oleh padang rumput Kaliza di utara hutan Hiral.

Pemberontakan ternyata tidak hanya dilakukan oleh rakyat, tapi juga kalangan istana. Para menteri menghasut pangeran Arumax untuk mengambil alih tahta selagi ayahnya pergi ke daerah selatan. Mendengar kabar ini Carpadax marah dan segera bertolak ke utara. Namun belum sampai meninggalkan hutan Hiral, ia dikejutkan kemunculan Alundra dari seberang Sungai Takdir. Mereka bertempur selama lima hari sebagai lawan yang seimbang. Kemunculan Alundra ini dianggap sebagai pembelaan terhadap rakyat, akhirnya para milisi pemberontak bermunculan dari hutan Hiral dan Ximeola menyerang para prajurit. Akhirnya dengan keadaan terdesak Carpadax menyerukan untuk gencatan senjata. Ini disambut gembira oleh rakyat. Mereka memanfaatkan situasi untuk memperkuat pertahanan di selatan. Sementara Carpadax kembali ke utara untuk merebut ibukota. Ternyata Pangeran Arumax bersekutu dengan Bangsa Karbaek untuk menghadang ayahnya. Di tepi utara padang rumput Kaliza pasukan Carpadax diporak-porandakan pasukan gabungan sehingga tercerai-berai.

Dalam keadaan kalah dan terhina itu Carpadax terpaksa untuk membuat perjanjian damai dengan rakyat di selatan. Ia meminta dukungan untuk merebut kembali ibukota. Sekali lagi rakyat dan raja bersatu menghadang kekuatan asing yang hendak menghancurkan mereka semua. Dengan adanya dua petarung hebat, banyak pendekar maupun mantan pasukan khusus yang masih selamat bergabung untuk berperang. Akhirnya ibukota dapat direbut dan sang raja kembali ke tahtanya. Tak lama setelah itu raja memerintahkan rakyat untuk membentuk senat yang merupakan perwakilan rakyat dari tiap daerah. Para senat ditugasi untuk mempersiapkan calon penerus raja yaitu putra bungsunya, Pangeran Sardax yang baru berusia lima tahun. selagi Sardax dibimbing para senat dan petinggi militer, maka Carpadax memilih turun dari tahta untuk menjalani hidup sebagai pertapa.

Dalam masa-masa selanjutnya, dua tokoh besar Alundra dan Carpadax diabadikan rakyat Ogodar sebagai Ashayan, lingkaran kesempurnaan yang terdiri atas warna hitam dan putih. Dalam hitam masih ada putih, melambangkan Alundra dan dalam putih masih ada hitam, melambangkan Carpadax.

Comments

Biji Jeruk

Seorang tua bijak memberi kita sebiji jeruk. Kita tanam, tumbuhlah pohon jeruk. Kita rawat dengan baik, berhati-hati dan penuh kasih sayang. Namun pada masanya, ia berbunga lalu berbuah jeruk. Kita mungkin berharap itu apel atau mangga, tapi buahnya tetap jeruk. Pohonnya pun teduh, namun tak sebegitu teduh. Buahnya kadang manis, kadang asam. Pohonnya tak bisa kita peluk terlalu erat karena duri-duri yang ada padanya akan menyakiti kita. Jika kita pangkas duri-duri itu, akan tumbuh duri lain, atau lama-lama pohonnya mati karena luka-luka di batangnya. Kita pula harus relakan bahwa ada yang bisa lebih dekat, lebih intim dan lebih erat memeluknya, hidup bersamanya, bahkan bergantung padanya. Ada burung-burung, serangga, dan lumut, atau kadang benalu.

Pohon jeruk ialah anak-anak manusia, orang yang menerima adalah orang tuanya, dan orang tua bijak yang memberi adalah Tuhan. Tuhan menganugerahkan anak kepada para orang tua, bukan untuk dimiliki secara mutlak, karena bagaimanapun Ia mampu mengambil ‘barang pinjaman’ itu kapan saja. Kita orangtua hanya turut bangga dan bahagia, namun bukan memiliki. Bahkan menyayangi pun ada batasnya. Kita pula tak berhak cemburu bila ada yang lain yang lebih dekat padanya daripada kita sendiri. Kita bisa berharap anak-anak kita menjadi sesuatu, namun Tuhan jualah yang menentukan. Petani mungkin bisa berdoa agar anaknya meneruskan menggarap ladangnya, namun Tuhan bisa membuat anak itu mengurus ladang yang lainnya. doa orangtua, seberapapun kuatnya takkan mampu mengubah apa yang sudah dititahkan Tuhan. Oleh karenanya kita harus relakan anak kita menjadi seperti apa takdirnya, menjalani dharmanya, dan meyelesaikan tugas dunianya. Sekali lagi, bukan kita yang menentukan.

Comments

Analisa Kepribadian Berdasarkan Foto di Friendster

Teknik Proyektif dalam Psikologi berarti teknik yang melihat penggambaran (proyeksi) keadaan jiwa seseorang berdasarkan orientasinya. Biasanya manusia mempunyai simbol-simbol dengan artian tertentu dalam kehidupannya, dan acapkali simbol-simbol itu merefleksikan kondisi atau orientasinya secara sadar maupun tidak sadar. Misalnya, bahasa tubuh seseorang, mulai dari cara berdiri, berjalan, duduk, lalu cara bicara dari intonasi, pilihan kata, dan sistematika tata bahasanya. Banyak orang yang menyangkal namun banyak juga yang mengakui. Biasanya orang menyangkal karena ada proses mekanisme pembelaan ego, dan yang mengakui bisa karena memang itulah yang ia rasakan/ sadari, atau sekedar tersugesti…hehe… Nah sekarang kita akan coba melihat salah satu model Projective Technique dengan melihat foto yang dipampang di akun friendster seseorang:

1. Memasang fotonya sendiri, artinya cukup pe de,

2. kalau fotonya bergaya berarti ada narsisme, kalau gayanya nanggung berarti menutupi ketidak-pede-annya

3. kalau fotonya dari atas (orang kelihatan di bawah) berarti merasa inferior, indikasi haus kasih sayang, ada sisi egoisme dan kurang menghargai sesama

4. kalau foto kelihatan ada jarak (mungkin biar kelihatan seluruh tubuh) berarti kurang percaya dengan orang lain sekaligus ingin punya privasi, agak tertutup

5. kalau fotonya di tengah berarti pengen dilihat apa adanya, indikasi kedewasaan, kematangan berpikir dan bersikap

6. kalau fotonya cenderung ke kiri artinya cenderung introvert, klo ke kanan cenderung ekstrovert

7. kalau fotonya sedang melakukan sesuatu (bukan hanya berdiri dan bergaya) berarti ingin dilihat berdasarkan apa yang dia bisa/ mampu lakukan

8. klo fotonya pakai pakaian khusus (seragam, kostum, mode2 ttt) berarti suka menampilkan kepemilikan tapi justru merasa tidak memiliki dirinya sendiri karena memandang dirinya ‘nothing’ tanpa memakai sesuatu

9. kalau fotonya telanjang, orientasi seksual tinggi atau narsisme

10. kalau foto binatang atau tokoh kartun binatang, berarti ingin disayangi seperti cara menyayangi binatang itu atau ingin menjadi seperti tokoh itu, artinya pula tidak menerima keadaan dirinya saat ini.

11. klo gambar kartun/ tokoh anime manusia berarti itulah self-imagenya, bayangin sendiri arti dari tokohnya, misal tokoh2 bersenjata, berarti ia  membawa agresivitas, klo tokoh berilmu atau menyimpan sesuatu (conan, naruto, dll) berarti merasa tidak punya, kekurangan atau menginginkan sesuatu yang (kehebatan, kepinteran, dll)

12. Klo lukisan, abstrak, pemandangan dll, berarti ia kurang manusiawi atau merasa kurang dimanusiakan, menganggap dirinya inferior dan kurang sosial. Gambar/ simbol2 abstrak lebih diartikan sebagai over-privasi atau menyembunyikan sesuatu yang sebenarnya ingin diungkap (oleh orang tertentu yang ia harapkan).

13. klo foto bersama orang lain, makin banyak makin mengindikasikan keinginan kebersamaan, atau merasa hampa/ tak berarti bila sendiri. Bisa juga berarti lebih menghargai orang lain ketimbang dirinya sendiri.

14. foto memeluk binatang atau memegang sesuatu barang, menjadikan dirinya nomor dua setelah yang ia pegang. aneh kan? Nah, barangsiapa kurang berkenan mohon maaf, tapi saya berharap semua yang membaca tulisan ini menggunakannya untuk mengintrospeksi diri masing-masing, bukan malah makin menutupinya apalagi dengan menyalahkan saya…huaks..!

Comments

Mengenal Budaya Perayaan Ulang Tahun ala Barat (Tinjauan Islam)

Dalam Islam, hukum merayakan ulang tahun tidak ditemukan di dalam nash, baik yang secara langsung melarang dan juga menganjurkannya. Kita tidak menemukan riwayat yang menceritakan bahwa setiap tanggal kelahiran Rasulullah SAW, beliau merayakannya atau sekedar mengingat-ingatnya. Begitu juga para shahabat, tabiin dan para ulama salafusshalih. Kita juga tidak pernah dengar misalnya Imam Syafi’i merayakan ulang tahun lalu potong kue dan tiup lilin.

Namun, kita pun tidak bisa main vonis bahwa segala bentuk fenomena masyarakat yang tidak ada contohnya di zaman nabi menjadi haram hukumnya. Mengingat di dalam kaidah fiqih, kita justru mendapat ketentuan yang sebaliknya. Kaidah itu sangat terkenal dan menjadi ukuran dalam mengeluarkan fatwa hukum yakni al-Ashlu fil asya’i al-ibahah (Hukum dasar segala sesuatu adalah boleh). Khususnya dalam masalah sosial kemasyarakatan, atau masalah budaya, atau kebiasaan yang berkembang di suatu masyarakat, atau masalah muamalat dan seterusnya. Hukumnya dasarnya adalah boleh, halal dan tidak ada larangan. kecuali apa yang ditentukan keharamannya secara pasti oleh nash-nash yang shahih dan sharih (accurate texts and clear statements). Yang dimaksud shahih artinya sanad riwayatnya bisa diterima secara kaidah hukum kritik hadits. Sedangkan sharih artinya larangan itu bersifat tegas, eksplisit serta jelas-jelas menyebutkan bentuk perbuatan yang diharamkan. Bukan sesuatu yang masih bersifat multi tafsir atau bisa ditafsirkan ke sana kemari. Maka, jika tidak ada nash seperti itu, hukumnya kembali kepada dasarnya, yakni istishab hukmil ashl. Prinsip inilah yang bisa dipakai dalam menentukan hukum segala sesuatu selain ibadah dan akidah.

Kaidah hukum itu berdasarkan ayat-ayat yang jelas sharih. Firman Allah, “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu .”(Q.S. Al-Baqarah:29). Demikian pula dalam surat Al-Jatsiyah: 13 dan Luqman: 20. Inilah bentuk rahmat Allah kepada umat manusia dengan berlakunya syariat yang memperluas wilayah halal dan mempersempit wilayah haram, seperti ditegaskan oleh Nabi saw., “Apa yang Allah halalkan dalam kitab-Nya, maka ia adalah halal (hukumnya) dan apa yang Dia haramkan, maka (hukumnya) haram. Sedang apa yang Dia diamkan, maka ia adalah suatu yang dimaafkan. Maka terimalah pemaafan-Nya, karena Allah tidak mungkin melupakan sesuatu.”(H.R. Hakim & Bazzar).

Rasulullah juga bersabda, “Sesuatu yang halal itu adalah apa yang dihalalkan Allah dalam kitab-Nya; dan sesuatu yang haram itu adalah apa yang diharamkan Allah dalam kitab-Nya; dan apa yang Allah diamkan (tidak sebutkan) berarti termasuk apa yang dimaafkan (dibolehkan) untuk kamu.”(H.R.Tirmidzi dan Ibnu Majah). Bahkan Rasulullah saw. melarang kita mencari-cari alasan untuk mempersoalkan sesuatu yang Allah sengaja diamkan. Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa hal fardhu, maka jangan kamu abaikan; dan telah menggariskan beberapa batasan, maka jangan kamu langgar; dan telah mengharamkan beberapa hal, maka jangan kamu terjang; serta telah mendiamkan beberapa hal sebagai rahmat bagi kamu tanpa unsur kelupaan, maka jangan kamu permasalahkan.”(H.R. Dar al-Quthni).

Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa perayaan ulang tahun sesungguhnya merupakan tradisi yang ada dalam masyarakat akibat gencarnya arus globalisasi yang telah terjadi belakangan ini. Perayaan ulang tahun ini sesungguhnya tidak pernah disunnahkan untuk dirayakan. Karena itu hukumnya tidak pernah sampai kepada sunnah apalagi wajib. Kalau pun didasarkan pada tradisi, maka paling tinggi hukumnya mubah. Namun bila memberatkan bahkan menggunakan cara-cara yang tidak sesuai dengan syariat apalagi mengandung hal-hal yang diharamkan Allah SWT. Seperti, alkohol (baca: khamar), zina, maksiat, serta hal-hal yang memang secara prinsipil telah ditegaskan keharamannya oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW. maka hukumnya menjadi haram.

Jika akhirnya harus ada perayaan ulang tahun, maka sebaiknya harus memiliki tendensi pesan berupa rasa syukur kepada Allah atas segala nikmat yang telah diberikan pada kita. Tetapi jika dalam pelaksanaannya perayaan ulang tahun ini lebih kepada hal yang bersifat hura-hura dan mubadzir, maka hal demikian menurut saya adalah kesalahan memaknai rasa syukur kepada Allah. Cara yang paling tepat untuk bersyukur adalah mengundang kaum dhuafa / fakir miskin serta berdoa bersama atas segala nikmat lahir, bathin yang Allah SWT. berikan, ini yang lebih bermanfaat secara syariat. Selain itu, ulang tahun bisa juga dirayakan dengan melakukan muhasabah dan refleksi terhadap umur yang telah Allah berikan, dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang lalu dengan kebaikan-kebaikan di masa yang akan datang.

Jadi yang paling penting dalam menyikapi sesuatu adalah esensi niat dan praktek secara benar dari amaliah yang kita lakukan sehingga pelaksanaannya tidak menyimpang dari yang disyariatkan serta bernilai Ibadah dihadapan Allah SWT. Wallahu a’lam bisshowab.

(tulisan asli oleh Mardias Ghufron, disadur oleh Kang Pri dari http://www.mardias@multiply.com)

Comments (1)

Bukan Seksualitas, tapi Romantisme Tak Berujung

Di bawah pohon itu kita saksikan, senja jingga mengisi cakrawala dengan siluet peraduan antara langit dan bumi. Awan maupun mendung tak berarti karena setitik cahaya masih nampak dari sang kejora, sedangkan purnama mulai menyala di langit timur. Nampaknya semua penghuni langit telah siap memulai tarian ritualnya, bergerak dari ufuk ke ufuk. Aku pun bertanya,”Apakah kita siap?”
Kau menoleh dan tersenyum. Kutatap wajahmu, jantungku serasa tak lagi berdetak, dan waktu seolah berhenti…

Melodi seruling itu mengisi setiap alunan rasa yang mengalir, seperti desau angin sepoi-sepoi. Ia menelusuri setiap lekuk dan celah bebatuan sampai pada tempat yang tergelap. Ia masuk ke telingaku, berdendang di hatiku, sebagai kurir yang sampaikan pesan tersisip pada nada-nadanya. Demikianlah yang kuindera dalam hening dan sejuk ini. Sikap duduk tegakku kadang membuahkan rasa malu, seakan aku telah memaksakan diri untuk angkuh selama sekian waktu. Tangan terbukaku seakan justru menampakkan sikap menutup diri yang lain, sebuah pembelaan dari sisi-sisi lemah. Sisi-sisi lemah itu, yang kau temukan di bidang dadaku, di lembut hati di baliknya, dan di jiwa yang separuh rapuh di dalamnya.
Kekasih, kenapa selalu engkau yang hadir tiap aku sendiri? Senyummu yang tulus tak memberiku apapun, namun justru merenggut semuanya dariku hingga tak tersisa apapun selain kepasrahan. Aku merasa tak berdaya di hadapanmu. Seluruh hasrat daya dan upayaku luruh di tatapan lembutmu. Engkau selalu hadir meskipun lama pernah kucoba berpaling pada kegelapan. Namun justru dari kegelapan itu pulalah kau muncul. Lalu kau bawakan sinar, yang membuatmu bercahaya bak malaikat dari surga. Kau menerangi jiwaku, menjajah hati dan memaksa wajahku untuk tersenyum.
Kekasih, aku sering merasa tak pantas untukmu. Sebab ketulusanmu memberiku keharuman yang sulit untuk dikatakan, keharuman diri dan jiwa, rasa yang tak terbahasakan. Bahkan bahasaku pun terlampau kasar untuk melukiskan semua keindahan ini. Cukup lama aku terperangkap dalam samudera rasa ini, dimana kegetiran, kesenduan, kepiluan, bergabung dengan keindahan, kebahagiaan, dan kedamaian. Inikah yang disebut cinta? Entah aku orang keberapa dalam kehidupan ini yang mengatakan kekonyolan ini. Tapi ini benar, bagiku. Setidaknya aku bisa berkata, “aku mencintaimu,…aku menyayangimu…” karena kata-kata itu setidaknya adalah kata-kata yang mampu mewakili perasaanku ini, meski sedikit.
Bersamamu pula kutemukan sebuah kegelapan yang mengurungku dalam sinar terang, tersesat kepada cahaya, dan terperosok dalam luasnya kelegaan. Aku tak peduli lagi dengan bahasa-bahasa lain di luar sana. Di sini, duduk bersamamu menatap mentari senja adalah sebuah kedamaian tak terhingga. Hening, dan menatap wajahmu yang bening bak embun pagi membuatku tak lagi kedinginan atau kepanasan. Kau mungkin suka bermanja-manja memeluk punggungku, tertidur di dadaku, dan aku biarkan semua itu larut hingga tak ada lagi jarak anntara kita. Rambutmu tergerai, senyummu mengembang, dan napasmu lega. Semua itu membawaku dalam alunan melodi-melodi yang tak lagi diwakili oleh seruling, harpa, biola, atau alat musik apapun. Kenapa? Karena kau telah mainkan dawai-dawai jiwa di hatiku, kau tiup seruling perasaanku, dan pada saatnya kau pula tabuh genderang semangatku.
Tapi kasih, sekarang aku terjatuh. Aku merasa seperti titik-titik air hujan yang meluncur ke resapannya di ibu pertiwi. Kaulah, satu-satunya yang masih berusaha menghangatkanku diantara kabut-kabut pembeku jiwa ini. Tak apa, kuizinkan kau telusuri lekuk-lekuk tubuhku, kupersilakan engkau mengecup kelopak mataku, dan kubalas senyuman itu saat kau geraikan rambutmu di atas wajah dan dadaku. Terimakasih, atas semua yang telah kau berikan. Aku tak mengharap lebih, tapi kau selalu memberiku lebih banyak. Akhirnya aku hanya merasa, bahwa tak cukup tubuh dan hatiku saja yang kuserahkan sebagai balasannya, tapi seluruh jiwa dan raga ini mungkin barulah setara.
Aku tahu, di balik jaket jeans yang kau kenakan, di balik baju dan rok selutut yang menutup tubuh indahmu itu tersimpan hati yang lebih indah dan lebih cerah daripada senyuman di wajah cantikmu. Rambut hitam lembutmu itupun tak setara dengan kelembutan sikap dan tutur kata yang selalu mengantar aneka kebijakan penyejuk nurani bagiku.
Kata-kataku habis untuk memujimu, mungkin karena itulah kini aku mampu diam dan tersenyum untuk menyadari bahwa aku bernapas dengan napasmu, jantungku berdetak sebagai jantungmu, dan hatiku adalah milikmu.

(kAta yaNg tAk akaN aDa habisnyA,
for “Tia”… that’s what I call you,
by: UNSIW-la Zieg K-davski’2008)

Comments

Ilusi Itu Bernama Masjid (Laporan Dari Salatiga)

Salatiga, siapa bilang tempat itu sejuk dan dingin…pikirku waktu itu. Pasalnya aku masuk dari arah Ungaran, tepatnya perjalanan tiga jam itu menempuh rute dari Muntilan, Ketep, Kopeng, lalu ke arah Ungaran dan turun langsung ke pusat kota, panasss.
Aku bersama temanku, Fido, beristirahat sejenak menanti waktu dzhuhur sebelum meneruskan perjalanan wisata kuliner itu. Fido asyik dengan lembaran kertas berisi daftar tempat makan yang katanya asyik di kota itu. Aku melihat-lihat sekeliling dan mendapati bahwa di atas kepalaku tertera tulisan ‘Masjid Pandawa Yonif 411 Kostrad’. Sementara di seberang jalan raya, tepat di depan kami duduk, nampak jelas tulisan ‘SMP Kristen 02 Eben Haezer’. Pada waktu itu jam 11-an, waktu pulang sekolah. Segera, para remaja putri (aku dan kawanku lebih suka menyebutnya ‘Lolitta’) berusia belasan tahun menyeruak ke gerbang sekolah dan mengisi jalanan. Umur mereka yang belum tujuh belasan seakan tersamarkan dengan bentuk tubuh yang sudah seukuran mahasiswi 20 tahunan, meski banyak juga mahasiswi berbodi mungil atau ceper, masih dikira anak SMP, kalau yang ini kebalikannya. Sejenak kami terpana melihat pemandangan gratis itu. Seakan ada Bunga Citra Lestari, Masayu Anastacia, Asmirandah, Luna Maya, dan segerombolan ikon wanita cantik lewat di depan kami. Perjalanan dari Jogja yang agak melelahkan mungkin sedikit terobati dengan pemandangan indah itu.
Beberapa detik kemudian kawanku nyeletuk,”itulah neraka.” Katanya sambil menunjuk serombongan gadis-gadis berseragam itu. Aku memandanginya sepintas, lalu ia meneruskan,”ini surga” sambil menunjuk masjid yang tangga berandanya sedang kami duduki itu. Aku tersenyum simpul, lalu membalas..“Salah, Fid. Itu virus…kalau ini mah cuma ilusi.” Gantian Fido yang menatapku. Ia curious kenapa aku berani menyebut bahwa masjid adalah ilusi. Bukankah setiap muslim menganggap secara filosofis masjid adalah surga atau jalan menuju surga, tempat beribadah dan mencari pahala untuk karcis masuk surga, tanyanya. Penjelasannya tadi justru membuatku makin mudah menjawab. Aku berkata enteng menambahi, bahwa masjid hanyalah tempat yang disepakati orang-orang untuk nungging beramai-ramai. Kubiarkan ia terpana dengan emosinya sebagai seorang muslim. Aku yakin ia tahu betul aku bukan orang yang tanpa penjelasan menyebut sesuatu, dan karenanya ia menanti pertanggungjawaban ucapanku.
Setelah ia menguasai dirinya, kumulai penjelasanku. Kecantikan manusia di depan sana adalah virus bagi kita, sebab sebenarnya mereka adalah stimulus netral. Daya tahan kita sajalah yang mempengaruhi apa yang akan terjadi berikutnya. It’s your choice whether you will go crazy or be calm here. Mau tergila-gila atau bahkan terbayang-bayang itu terserah kita. Mereka netral, kitalah yang memberikan nilai dan menciptakan reaksi.
Masjid, sebenarnya adalah ilusi, seperti gereja, pura, vihara, kuil, atau apalah sebutannya. Sebab masjid bukanlah sebenar-benarnya tempat ibadah. Beribadah tidak harus berada di masjid. Ketika Nabi Muhammad SAW hendak mendirikan tempat ibadah dan berkumpulnya kaum muslim di Madinah, beliau hanya menunjuk sehamparan tanah lalu mengatakan “haadza masjid” (itu masjid). Artinya masjid bukan dinilai dari bangunan fisiknya, apakah berkubah atau berpucuk ornamen bulan sabit, atau bahkan kalau dikasih tulisan yang hurufnya besar-besar ‘INI MASJID BENERAN’. Masjid mengandung pengertian “tempat sujud”, jadi bumi ini seluruhnya adalah masjid karena bersujud dan beribadah itu tidak terbatas pada bangunan.
Kalau orang menganggap masjid adalah surga, lalu bagaimana dengan trotoar, perempatan jalan, tempat remang-remang, atau perkampungan kumuh? Bukankah beramal kebaikan lebih utama di tempat yang minim pancaran kebaikannya? Pengemis di jalanan atau anak yatim-piatu di panti asuhan, apakah mereka tidak pantas dijadikan tempat/sasaran beramal-beribadah? Tuhan mengawasi kita di setiap titik koordinat dimensi dalam tata kosmos semesta ini. Ibadah itu tidak melulu berada di tempat ibadah, dan bahkan Sunan Kalijaga mengajarkan bahwa yang namanya dakwah itu bukanlah mengajak untuk shalat. Tapi bergaul dengan semua orang tanpa memandang perbedaan, sekotor apapun, seberdosa apapun seseorang, ia juga manusia yang perlu dikasihi sebagaimana Nabi Muhammad mendoakan keselamatan bagi orang yang menyatakan diri memusuhinya. Itulah ibadah, dan orang sering mengatakan Islam tidak mengenal Rabbaniyah (mengurung diri, menjadi pendeta, tidak kawin). Padahal kalau ibadah disempitkan dengan shalat dengan segala gerakannya mulai dari berdiri angkat tangan sampai nungging, beserta segala aktivitas di masjid atau yang bersifat ritual, bukankah itu sama dengan mengurung diri? Itu rabbaniyah jenis baru.
Fido tertegun manggut-manggut. Aku meneruskan ucapanku, makanya Fid, klo besok kamu naik haji, tidak harus banyak-banyak baca Qur’an dan dzikir di masjid Nabawi. Tolong saja nenek-nenek menyeberang jalan, itu juga ibadah. Apalagi Tuhan sudah menjelaskan bahwa ibadah itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke barat atau ke timur, melainkan menghadapkan hatimu pada-Nya. Segala ajaran pun hanya menjadi sampah dan kotoran jika tidak diamalkan, seperti pupuk kandang tanpa benih yang tak menumbuhkan apapun. Benih pun tanpa cahaya matahari tetap akan mati dalam kegelapan. Maka kita harus mencari cahaya dengan membaca alam ini, iqra’ bismirabbikalladzii khalaq, bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan, untuk menuju-Nya, menemukan hakikat-Nya. Singkirkan tirai-tirai yang kita bikin sendiri, yaitu pemahaman yang mentah dan emosional.
Fido tersenyum, lalu berkomentar,”Ya…ya…ya…ibadah bukanlah kemana menghadapkan wajahmu…apalagi menghadapkan bokongmu.”. Kami pun tertawa bersamaan, dan adzan dzuhur dikumandangkan ketika ternyata seorang Lolitta manis berbodi langsing menatap kami penuh tanya dari kejauhan. (Prie_mata)

Comments (1)

Anime Experience

Belajar dari Naruto, yeah..!
(Sesuatu yang jarang diekspose oleh alam pikiran anak Indonesia)

Pada mulanya aku sama sekali tidak tertarik dengan anime Naruto, aku sudah duluan muak melihat anak-anak kecil dan remaja yang bertingkah aneh-aneh demi identifikasi (modelling) atau menunjukkan betapa nge-fans-nya mereka pada cerita tersebut. Tapi Tuhan membukakan jalan untukku, sudah lama sebenarnya. Suatu hari temanku mengabarkan bahwa semua ilmu-ilmu ninja yang ditunjukkan pada film Naruto bisa kita lihat katalognya di sebuah buku yang disimpan di Perpustakaan Daerah (Perpusda) Yogya, dekat Univ. Janabadra. Ternyata semua ilmu itu ada dan bukan hanya karangan author-nya Naruto sebagaimana ia mencampurkan mode-mode busana modern dengan tokoh kisah ninja yang klasik itu. Tapi tak cukup di situ, aku belum ngeh juga sampai akhirnya aku mendengarkan OST Naruto dan mendapatkan teks beserta terjemahannya, like this:

Daredatte shippai wa su runda (everyone makes mistakes)
hazukashii koto janai (it’s nothing to be ashamed of)
kono kizu wo muda ni shinaide (don’t let this mistake to go waste)
waratte arukereba ii (be able to smile as you walk)

son shizukana kuu ki suikomi (yes, I breathe in the quiet air)
hiroki sora ni kao age tobikomi (and raise my face towards the wide sky and jump in)
toki ni ame ga futtara hitoyasumi (if it rains, I’ll take a break)
jaa yuku saki wa kaze fuku mama ni (and let the wind decide where I go)
takusan no matotteru kon kai (I carry along many regrets)
kono kizu wo muda ni sicha shonnai (but letting these wounds to go waste is stupid)
ude ni kunshou kizami ikoukai (lets carve a medal onto our arm and go)
songai sokokkara ga “Show Time” (our life becomes a “Show Time” from there)

Daredatte shippai wa su runda (everyone makes mistakes)
hazukashii koto janai (it’s nothing to be ashamed of)
kono kizu wo muda ni shinaide (don’t let this mistake to go waste)
waratte arukereba ii (be able to smile as you walk)

kanashimi mo kaze ni kaete (turn your sadness into wind)
tsuyoku susunde ikereba ii (and just be able to keep moving forward)
tsuyoku susunde ikereba ii (and just be able to keep moving forward)

Dari mengamati sekilas lagu itu aku sadar bahwa anime seperti Naruto memang diciptakan tidak main-main. Meski fiksi, namun referensinya lumayan banyak yang nyata, minimal ada dokumen yang mengakuinya semacam sejarah ninja dan katalog ilmu ninja itu sendiri. Aku jadi ingat bagaimana manga-manga lain juga dibuat dengan full perjuangan seperti manga kesukaanku Yugo The Negosiator yang dibuat berdasarkan kondisi sosio-kultural dan historis dari tiap daerah settingnya secara akurat, sampai pada Red Eyes yang pengarangnya harus bikin sejarah sendiri yang lebih memusingkan dibanding data-data Perang Dunia ke-2. Anime Naruto mengajarkan nilai-nilai yang menggugah, semacam terus berjuang, belajar dari kesalahan, optimistik, kesetiaan pada tugas, kekuatan persahabatan dan cinta, semangat bushido-lelaki sejati yang memegang janji sampai akhir, dan lain-lain. Nah, yang bikin muak adalah kebanyakan anak Indonesia tak pernah melirik sisi-sisi itu. Mereka menikmati tontonannya, adegan demi adegan tanpa menyarikan apa sebenarnya pelajaran moral di dalamnya. Seperti juga para muda kita yang sedang gandrung dengan budaya Jepang, harajuku over kreatif tapi tak bisa meniru kekuatan karakter orang Jepang yang berbudaya kerja keras, kehormatan, dan tanggung jawab sampai mati sekalipun. Akankah generasi kita hanya berhenti pada arus style/gaya yang tak bermakna, sementara kita sendiri punya budaya dan karakter bangsa yang justru terus dibenamkan dengan kata-kata “tidak keren”, “kuno”, “kolot”, dan semacamnya?
Anak-anak Indonesia tak memiliki karakter bangsanya dan juga tak mampu meniru karakter kuat bangsa lain. Lalu mau jadi apa? kalau dalam bahasaku, bilangnya begini,”Apa nggak malu bisanya cuma nonton doang?”

Comments

Tentang Jepang

Jepang tidak salah, kita yang salah….

Pada suatu ketika, ada seorang mahasiswa yang bercerita tentang ilmu pedang. Ternyata ia adalah murid sebuah perguruan Ninjutsu di Jogja. di sampingnya yang kemudian nimbrung aku kenal sebagai seorang Aikidoka yang sering latihan bersamaku waktu itu di Depok Sport Center (DSC), dan satu lagi seorang Judoka dari UGM. Kedengarannya asyik, mereka bercerita kesana-kemari tentang sejarah ilmu beladiri jepang, ninjitsu, sampai dengan (sebisa mungkin tidak kelihatan kalau) menyombongkan disiplin ilmunya masing-masing. Mereka pun akhirnya berdebat, dasar mahasiswa, pikirku. Menurut Si Aikidoka, paparan tentang ilmu pedang dari si murid ninjitsu itu salah, sebab banyak cerita yang tidak sesuai. Sang Judoka menengahi tapi justru membuat runyam dengan mendebat sejarah ilmu gulat Jepang versi Aikido. Karena pertengkaran mulai panas, aku pun terpancing untuk bertanya, sederhana sekali:
“Emangnya kalian tahu sejarah Jepang?”
jawabannya: ‘geleng-geleng kepala semua….’
Aku tertawa dalam hati. Batinku menertawai kenapa mesti sejarah Morehei Ueshiba (Aikido) didebat dengan cerita sejarah Jigoro Kano (judo), susah nyambunginnya! Mereka juga tak mengerti sejarah perang Sekigahara, era keemasan pedang Periode Kamakura, sampai berkenaan dengan sejarah aliran pedang Shinkage yang menjadi batang berdirinya Aikido. Aku tidak harus menceritakan bahwa antara aliran keras (Go-ho) dan aliran lunak (Ju-ho) dulunya menjadi satu dalam ilmu Samurai-jutsu. Ilmu beladiri yang waktu itu hanya dikuasai para Bushi (prajurit) berisi ilmu senjata dan gulat (kakuto) sekaligus. Dengan prinsip-prinsip inilah perkembangan sejarah membawa beberapa tokoh untuk menciptakan ilmu baru dari teknik-teknik lama seperti modernisasi Okinawate (Ryukyu Kempo) oleh Gichin Funakoshi menjadi Karate. Tapi akhirnya cerita itu keluar juga, sebab mereka cukup kritis dan ‘mengujiku’ apa aku juga lebih tahu dari mereka, kok berani-beraninya mentertawakan.
Kuulang jurus lamaku. Aku tanyakan apa si Ninjitsu ini tahu bahwa ilmu ninja pernah mendapat pengaruh dari Pencak Silat waktu Mahapatih Gajahmada (Majapahit) menguasai bagian selatan Jepang? sesuai dugaan, ia tak tahu, bahkan menyangkal mentah-mentah. Padahal cerita itu jelas-jelas kudengar dari Guru Besar Ninjitsu sendiri di Indonesia dan pernah termuat di koran Minggu Pagi. Jurus bicara ini pernah mematahkan kesombongan seorang temanku yang berlatih beladiri muslim Tifan Pokhan. Ia pernah bilang bahwa Thifan lebih hebat daripada Kungfu Shaolin, padahal guru besarnya sendiri menceritakan kalau ilmu Thifan berkembang pesat karena salah satu sebab besarnya adalah….
“Shaolin pernah diserbu, dibakar, dijarah. Kitab-kitab Kungfu itu dibawa lari ke Utara (Tayli). Di sana para penjarah itu kelaparan kehabisan bekal, maka dijuallah kitab-kitab itu pada saudagar suku Hui (China Muslim) dan di negeri Tayli itulah ilmu Shaolin curian itu dipelajari. beberapa tahun kemudian para bhiksu Shaolin menemukan bahwa gerakan ilmu beladiri rakyat Tayli mirip dengan ilmu mereka yang hilang, tapi mereka membiarkannya karena percaya bahwa orang-orang Hui tidak suka bikin onar seperti orang Mongol atau partai-partai/ aliran perguruan Kungfu yang waktu itu ada di Tiongkok (Butong, Gobi, Kun Lun, Khun Tung, aliran-aliran minor yang berakar dari Persia, sekte-sekte kecil, dan Shaolin sendiri)…”
Nah, kembali ke ilmu beladiri Jepang, ketiga orang yang ribut tadi punya cara yang berbeda dalam menanggapi omonganku. Si Judoka diam, mungkin karena ia adalah atlet sehingga tak cukup peduli dengan sejarah. Aikidoka temanku, tahu kalau aku lebih paham soal sejarah ilmu beladiri (kebanyakan) dan sejarah Jepang, ia justru banyak bertanya mencari tahu. Sementara si Ninja seolah tak terima, mungkin karena niat awalnya ia ingin menyombongkan alirannya tapi kugagalkan. Tapi anehnya ia juga diam, cuma sambil menahan sesuatu di mukanya.
Aku kemudian mengakhiri perdebatan itu sebisaku. Kukatakan, setiap beladiri punya akar, sejarah dan alasan tumbuh yang berbeda-beda. Mencari yang terbaik adalah sia-sia dan menyombongkannya adalah kebodohan. Contohnya kalau seorang Karateka berlatih asal-asalan (tidak serius) maka kelengkapan tekniknya akan kalah oleh seorang petinju yang berlatih keras. Jadi bukan ilmunya, tapi orangnyalah yang akan membawa ilmu itu menjadi hebat/ tidak, baik/ buruk. Jadi tidak ada juga beladiri yang paling benar, diridhoi Tuhan, ataupun beladiri kafir dan musyrik.
Lalu bagaimana dengan sejarah Ninjitsu atau Aikido? Kubilang, baca saja di internet, banyak…

Comments (1)

« Previous entries