Makhluk itu tertidur di pangkuanku. Ia meringkuk, dan ekor berbulunya melingkar menutupi tubuhnya. Dengkurannya samar-samar terdengar, seperti desah napasku yang menggesek katup hidungku. Pelan, berirama, suara dari udara melewati polyp yang tumbuh di sana. Kuelus pelan kepalanya, ia sedikit menggeliat meregangkan kedua kaki depannya. Kaki-kaki depan itu lebih mirip tangan bagiku, sebab ia sering memegang segala sesuatu dengan keduanya, bukannya langsung menggunakan mulutnya. Seperti namanya yang diberikan oleh orang-orang Indian Cherokee, Ar-ah kon’en, yang berarti ‘memegang sesuatu’, kemudian imigran Eropa menyebutnya, Raccoon. Wajahnya dihiasi dengan bulu-bulu berwarna hitam di seputar matanya, persis seperti mataku, mata kelelahan, mata kurang tidur, dan terutama karena seringnya aku menangis.
Tangisan itu muncul sejak aku lahir, namun baru melegenda sejak empat tahun yang lalu. Mata, wajah, seluruh ekspresi dan sorot mata ini baru mulai berubah sejak saat itu. Saat ketika aku menyadari bahwa seluruh luka yang kudapati menuntunku pada sebuah luka yang lebih besar. Perjalanan yang menuntunku pada suatu keputusasaan, dan ketika semuanya terbuka lebar, terkuaklah seluruh busuk maupun getirnya. Aku menangis, aku sadar aku lemah, aku sadar aku kurang beruntung, dan ketika aku mencoba marah pada dia yang menunjukkan itu semua, aku justru mendapat hadiah istimewa berupa sebuah batu di dalam kepalaku. Fisik, metafisik, mental, semua hancur. Keceriaan yang selama itu dibangun runtuh, berganti menjadi topeng teramat tebal. Ingin aku memakai topeng sungguhan waktu itu, karena merasa tak nyaman dengan ekspresi mukaku sendiri yang serba tidak tulus.
Seekor rakun, dia temanku satu-satunya. Dia bagian dari diriku, yang paling mengerti ketika aku bersedih atau beraksi kegirangan ketika mengiringi aku senang. Dia memanja dengan menggesek-gesekkan badan berbulunya di kakiku, rebutan makanan denganku, kadang mengotori gelasku dengan kaki depannya yang usil, atau mengambil alih bantalku. Kalau dia marah, ngambek, dia mengeluarkan suara serak dan suara mendecit yang keras, lalu berlari mengitariku macam Bruce Lee hendak menyerang, tapi lalu lari. Kalau sedang sedih, dia tidur seharian, tak mau menyentuh makanan atau minuman, menutup muka atau seluruh tubuhnya dengan selimut, dan sama sekali tak mau disentuh. Ia kadang main seharian, lalu tidur malamnya, atau pergi semalaman dan tidur pagi harinya. Ia sering menemaniku saat membaca, menulis, mengetik, atau main game. Ia naik di punggungku, duduk di pundakku, atau kadang bertengger di kepalaku. Kalau aku duduk bersila, ia ikut duduk di pangkuanku, lalu meringkuk dan melingkarkan ekornya menutup tubuhnya. Aku suka mengelusnya, memeluknya, menciuminya, dan ia juga suka dielus. Ia menikmati setiap kelembutan dan kehangatan yang kuberikan. Kadang, kalau ia merasa bersalah atau mengira sudah membuat aku sedih, ia menggesek-gesekkan badannya ke kakiku, atau membawakan pulpen dan menggigit buku untuk ditaruh di dekatku. Mungkin ia ingin aku menulis, untuk mencurahkan semuanya. Tapi bila kumarahi, ia meringkuk di pojok kamar atau di keranjang tempat tidurnya, lalu bersembunyi di balik selimut. Kalau aku sedang sedih dan menangis, ia menempelkan badannya, menemaniku dan menungguiku hingga pagi. Lalu di pagi harinya, ia meloncat-loncat dan berlari-lari mengitariku seakan mengajakku bergembira dan melupakan kesedihanku.
Kesedihan itu muncul lagi, seiring kegilaanku beberapa malam sebelumnya. Ketika sebuah perbenturan perasaan dan keinginan memecahkan amarah sekaligus rasa sakit, aku tertawa, di seling tangis berderai airmata. Gilakah aku, tertawa diseling menangis? Tidak, aku sedih. Aku sedih, sebab untuk menangis maupun tertawa pun aku tak bisa lepas. Selepas aku dari bayang-bayang wanita yang selalu menggangguku. Wanitaku sendiri tak mau melepaskanku, bukan melepasku untuk bersama wanita lain, tapi melepasku dari kurungan kepemilikannya, sehingga aku tak bisa kembali pada diriku sendiri.
…………………………….
Kau harus mengerti apa artinya cinta
Bukan satu alasan kau harus miliki aku..
……………………………..
(Tak Selamanya, by: WAYANG)
Aku mungkin gila, tapi yang jelas aku telah bersalah pada diriku sendiri, karena aku telah mengingkari kemanusiaanku. Selama ini aku berusaha untuk menjadi tegar dan kuat dengan mengabaikan segala benturan dan rasa sakit yang kuterima. Berusaha mensyukuri dan menikmati segala nikmat yang ada meski sedikit, meski tak sesuai dengan keinginan dan harapan awalku, dan meski itu membawa pada rasa sakit yang lain, dan atau membawa pada dosa dan mengotori kesucian jiwaku. Aku sadar bahwa sebagai manusia aku harus bersikap layaknya manusia, punya keinginan, harapan, dan semangat untuk menggapai itu semua. Tapi kenapa selama ini aku melaksanakan apa yang diajarkan sebagai bukan manusia? Apakah aku lantas ingin membunuh kemanusiaanku dengan menanggalkan semua sifat kemanusiaan itu? Nyatanya aku masih bisa sedih, aku bisa iri atau ingin seperti orang lain. Sementara aku merasa diriku sudah tak mampu menjadi seperti orang lain.
……………………………………………..
Pesonaku tak mampu dapatkan yang kumau
Untuk mencinta itu,
Dalam hati ku bertanya sampai kapan ku kan bertahan.
(Rasa Hati, by: REVEL)
Suatu sore, langkahku tertuju ke sebuah minimarket di kotaku. Aku melihat suatu stereotype yang lama sudah mengganggu hatiku. Entah kenapa, ketika teman-temanku menjuluki aku sebagai penderita Lolitta Complex, aku tidak merasa terganggu. Aku mungkin malu, tapi aku merasa bahwa aku memang menyukai stereotype seperti yang tergambar di sana. Seorang gadis remaja dengan kaos putih dan celana pendek hitam. Rambutnya lurus menyentuh punggungnya, dengan poni menghiasi wajah yang masih belum mengenal kejamnya dunia. Tubuhnya kecil, tidak langsing namun tidak terlalu berlekuk seperti idealisme para pria pecinta ‘gitar spanyol’. Mungkin ukuran bra-nya cuma 32, dan wajahnya juga tidak terlalu manis atau cantik. Wajah khas anak remaja yang masih polos itu, sangat berbeda dengan wajah yang penuh kepalsuan atau wajah penuh harapan yang cemas tak keturutan, atau wajah egois, ambisius, dan atau licik. Tidak, aku tak melihat semua kejelekan itu. Aku hanya melihat satu rona murung di mukanya, seakan sedikit terburu waktu, atau sedang dinanti sesuatu. Aku berdiri di belakangnya setelah antrean menuju kasir itu berubah. Aku sempat berpikir dan berharap, seandainya saja aku bisa memeluknya dari belakang, atau mencium pipinya, bila itu sampai ku diberi kesempatan, aku tak ingin mengotori dirinya dengan segala kekejaman dunia yang sudah pernah aku reguk sebelumnya. Cukuplah ia mengenal romantisme saja dariku. Aku juga tak ingin mengenalkannya pada dunia erotisme, suatu kesalahan yang dibawa wanitaku saat ini diawal hubungan kami. Aku tidak menginginkan lekuk tubuhnya, tapi semua yang ia miliki mengajakku pada sebuah zona rasa yang dipenuhi warna-warni indah. Aku bahkan mungkin tak perlu menyentuhnya jika ia tak mau. Aku bisa mencintainya dari kejauhan, aku bisa berbahagia dengan melihatnya berbahagia, asal ia mengenalku sebagai orang yang mengasihinya dengan kebaikan, bukan mengacuhkanku atau memandangku sebelah mata. Aku hanya inginkan perhatiannya. Aku terpana dan tersentuh dengan kepolosan alaminya, keluguannya, bukan kepalsuan karena ia tidak atau belum miliki semua itu.
Bagaimana dengan wanitaku saat ini yang tak peduli dengan apapun asalkan bisa memiliki aku? Ia selalu berdoa dan berharap semoga bisa menjadi wanita yang kusenangi dan kuterima, kucintai sepenuh hati. Sementara aku telah menyerah dengan upaya menjadikannya sesuatu yang lain. Bukan karena ia telah menegaskan bahwa ia bukanlah orang lain melainkan dirinya sendiri, tetapi karena aku juga telah melihatnya sebagai suatu sosok utuh yang sudah seperti itu jadinya. Aku bukannya tak percaya pada perubahan yang mungkin akan terjadi, tapi aku lebih memilih untuk berusaha menerima apapun yang ada sebagaimana aku menerima berapa jumlah rezeki yang kudapatkan saat ini, tak perlu iri dengan orang lain. Tapi, kenyataannya…aku merindukan sosok polos yang banyak kelihatan di mana-mana itu. Aku, penderita Lolitta Complex yang tak mau mencoba memenuhi hasratku. Bukan erotisme, bukan kepemilikan, bahkan bukan cinta yang aku sekarang ucapkan untuk kuinginkan. Tapi kasih dan sayang. Sudah waktunya aku berbagi kasih, memberi kasih dengan setulus hati, bukan berusaha memberi ataupun berusaha mengikhlaskan, karena semua itu kepalsuan. Aku ingin lepas dari topeng ini, aku ingin benar-benar sepenuh hati menyayangi, dan mungkin mencintai jika nanti aku sudah tahu apa itu cinta.
Rakun, dialah ikon kesedihanku. Suatu subjek yang menerangkan lukisan jiwaku yang terbentuk dari sejarah dan memori. Aku memang belum bisa sepenuhnya melepaskan diri dari semua hal yang mengajakku berkelana. Aku belum bisa menenangkan jiwaku sepenuhnya sekaligus membuat si rakun berbahagia, karena masih ada kebutuhan, hasrat, dan suatu gejolak yang ingin menghisap seluruh rasa. Hasrat akan kesucian, kepolosan, dan penerimaan tulus dan resiprokal dari diriku memang belum bisa kulebur. Namun Si Rakun sudah cukup mendapatkan kasih dari seorang ‘ibu’ yang mau menerimanya, yaitu kekasihku. Siapapun sebenarnya bisa menerima Si Rakun sebagai anaknya, anak dari hasil hubungan batin, bukan hubungan fisik, sebab menerimanya berarti menerima diriku. Sayangnya, menerima diri wujud kasarku lebih mudah dari menerima jiwaku dan seluruh turunan dari jiwa itu. Sebab tubuh ini bisa diraba, dipeluk, dirasakan kehangatannya, dinikmati secara visual auditori maupun kinestetik. Si Rakun, bukan sekedar ikon kesedihan, namun ia adalah bagian diriku yang selalu mencoba mengerti dan menjaga keseimbangan perasaan, mengajak bergembira saat semuanya tak mampu bergembira, cuek, usil, lucu, perhatian, manja, bersemangat, mandiri, pede, kadang sensi, aneh-aneh, dan juga misterius.
Gadis remaja, Rakun, atau tidak semuanya?
(dan ketika menyebut asma Allah, aku menangis berjam-jam lamanya…)